1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Iptek

Cara Menghilangkan Rasa Trauma

Trauma atau kenangan buruk bisa mengurung manusia dalam rasa takut. Ilmuwan kini berusaha mencari tahu bagaimana otak manusia mengolah dan menyimpan kenangan buruk untuk kemudian menemukan cara menghilangkannya.

Robert adalah seorang tentara. Tahun 2002, ketika ia bertugas sebagai tentara di Afghanistan, rekan-rekannya membuat kesalahan fatal ketika menjinakkan roket dan roket meledak. Suara ledakan keras, bagian tubuh, bau daging erbakar--terus berulang. Robert takut karena ingatannya. Ia menderita serangan panik. Penyakitnya punya nama sendiri: Post-Traumatic Stress Disorder atau PTSD.

Di Institut Ilmu Saraf Eropa para peneliti menganalisa apa dan bagaimana orang bisa mengontrol ingatannya. André Fischer berusaha mencari cara untuk menghilangkan ingatan yang menimbulkan rasa takut. Fischer meneliti ingatan jangka panjang. Di sinilah ingatan yang berkaitan dengan rasa takut disimpan. Ia mencari enzim yang bertanggunjawab untuk menyimpan pengalaman negatif.

Dalam eksperimen dengan tikus, ia menyelidiki bagaimana rasa takut terpaku dalam ingatan jangka panjang kita. Seekor tikus ditempatkan di kandang kecil dan diberi sedikit kejutan listrik lewat terali kandang. Hasilnya: tikus tidak bisa bergerak karena takut. Ilmuwan menyebut kondisi ini "kebekuan". Sehari setelahnya, tikus ditempatkan di kandang yang sama. Hewan segera ingat kejutan listrik. Dan rasa takut segera kembali.

Fischer: "Ini bisa dibandingkan dengan orang yang pergi ke sebuah kota yang ia tidak kenal, kemudian dirampok. Jika pergi ke sana lagi, ia akan lebih hati-hati -- atau ia tidak akan ke sana lagi."

Tonton video 07:36

Memerangi Rasa Takut dan Trauma

Dalam terminologi evolusi, rasa takut ada maknanya. Ini sistem perlindungan yang baik, karena itu memperingatkan kita dari bahaya. Tapi dalam kasus trauma, kenangan tidak berkurang sama sekali setelah waktu berselang, melainkan terus aktif. Ingatan yang mengembalikan orang ke masa lalu, bisa terjadi kapan saja dan di mana saja.

Robert berusaha membuang ingatan traumatis dengan menyimpannya dalam sebuah kotak besi di ruang bawah tanahnya. Kotak ini menjadi tempat ia menyimpan segala benda yang mengingatkannya pada kecelakaan itu. Robert: "Di kotak ini terdapat kenangan yang paling intensif. Di sini ada foto-foto jenasah yang kami temukan." Percikan ingatan walau kecil, bisa menempatkannya kembali ke posisi dulu, seolah bahaya masih real dan mengancam.

"Walaupun saya menyimpan kotak ini di kotak lain, terus menampatkannya di ruang bawah tanah, gambar-gambar itu tetap ada. Saya tidak bisa menghilangkannya, atau ditutupi, kemudian dibuka kembali jika saya ingin. Ingatan ini independen", ujar Robert.

Bagi Robert, adalah sebuah berkah jika ada jalan untuk mengendalikan "flashback" yang muncul tiba-tiba ini. Sementara itu André Fischer berhasil menemukan enzim yang bertanggungjawab bagi penyimpanan ingatan yang menakutkan: CDK5. "Diduga enzim CDK5 penting untuk menyimpan ingatan, tapi juga penting untuk mempertahankan ingatan."

Jika ada enzim yang bertanggungjawab menyimpan ingatan rasa takut, pasti juga ada cara untuk memblokirnya. Jika Fischer bisa menemukan enzim yang menyimpan rasa takut, ia bisa mencegah ingatan negatif mengakar di ingatan jangka panjang. Sebuah pemblokir pengalaman.

Jika orang membayangkan otak seperti komputer, ingatan diatur seperti himpunan data. Jika orang ingin mengaktifkan kendali untuk melupakan sesuatu, koneksi ke bagian tersebut harus diputus. Ilmuwan ingin mengetahui bagaimana caranya memblokir akses ke ingatan rasa takut. Untuk tujuan ini, ia menggunakan agen baru dalam eksperimen dengan tikus. "Unsur melekatkan diri pada enzim CDK5 dan memblokir fungsinya," jelas Fischer.

Pencegah ingatan ini disuntikkan langsung ke otak tikus yang menderita trauma. Sekarang tikus kembali ditempatkan di kandang kecil. Jika pemblokiran ingatan berfungsi, pasti ingatan tikus dan rasa takut pada kejutan listrik sudah hilang. Hasilnya seperti dugaan -- tikus bertindak seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Misi berhasil! Pakar biologi saraf itu telah menemukan agen pencegah rasa takut.

Bagi Robert, berita ini datang terlambat. Selamat bertahun-tahun ia berusaha menangani trauma dengan terapi psikologis. "Pada dasarnya saya selalu terbuka untuk semua hal yang bisa menolong saya, yang memperbaiki hidup saya dan membuatnya lebih bermakna."

Tapi bagi tentara ini, satu hal sudah jelas: ingatannya tidak bisa dihapus, dan sekarang sudah jadi bagian dari kepribadiannya.

as/vlz (inovator)

Laporan Pilihan

Audio dan Video Terkait