1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Berlin Sebagai Pusat e-Commerce Eropa

19 Oktober 2011

Raksasa internet Google baru-baru ini membeli sebuah portal internet dari dua warga Berlin seharga lebih dari 150 juta Dolar. Padahal umur 'Daily Deal' yang menjual voucher dari mitra periklanan belum mencapai 2 tahun.

https://p.dw.com/p/12vWc
Ilustrasi e-commerce
Ilustrasi e-commerceFoto: AP

Jalan Rosenthaler di pusat kota Berlin adalah areal yang penuh kehidupan dan trendi. Pejalan kaki dan turis cuci mata dengan berbagai tren mode terbaru yang ditawarkan di etalase toko. Kafe-kafe dan restoran penuh terisi. Areal ini juga menjadi rumah bagi industri internet di Jerman. Salah satu pelakunya adalah Benjamin Esser, yang bermukim di jalan Rosenthaler bersama perusahaannya 'Urbanara.' Toko online tersebut memasarkan furnitur berkualitas tinggi dari berbagai penjuru dunia, dan telah aktif selama 5 bulan.

Eklektik dan murah

"Berlin kini menjadi pusat e-commerce di Eropa. Berlin menawarkan kreativitas yang unik. Biayanya relatif rendah, dan ada kedekatan dengan investor seperti yang selama ini menguntungkan kota-kota seperti London, München, Barcelona atau Madrid. Orang kreatif dapat ditemukan di Berlin. Orang-orang yang fasih teknologi, perancang grafis, semua yang dibutuhkan. Kota ini membuat semuanya menyenangkan," jelas Esser.

Benjamin Esser, pemilik Urbanara
Benjamin Esser, pemilik UrbanaraFoto: Zoe Glazebrook

Urbanara berkantor di sebuah gedung tua di jalan Rosenthaler. Gedung dengan lokasi serupa di München menurut Esser harga sewanya pasti dua kali lipat. Kalau di London bahkan mencapai empat kali lipat. Kantor itu sementara berisi meja-meja yang ditempati tenaga kerja muda yang sibuk dengan laptop mereka. "Lamaran kerja ke kami datang dari Barcelona, Zürich, Afrika Selatan dan Amerika Selatan. Mereka ingin pergi ke Berlin dan menjadi bagian dari perkembangan urban ini. Tidak salah kalau banyak yang membandingkan Berlin dengan London di tahun 80-an atau New York di tahun 70-an," Esser berbagi pikiran.

Bisnis yang dinamis

Esser menyewa dua ruangan baru untuk bisnisnya yang terus berkembang. Lucunya hanya untuk sebulan karena ia belum tahu berapa cepat perusahaannya akan tumbuh. Anna Ott pun menilai bisnis internet kurang tepat bagi pekerja yang mencari stabilitas. Ott yang bekerja bagi kantor penempatan tenaga kerja 'i-potentials,' fokus kepada perusahaan-perusahaan internet baru. Ia menyebut Berlin sebagai Silicon Valley-nya Eropa. Industri yang berkembang pesat dan selalu menarik pada tahapan awal.

"Saat ini banyak perusahaan internet yang butuh pekerja. Tapi mereka tidak bisa mengatakan kepada kami apa yang diperbuat. Terdengar seperti konspirasi dan rasanya seperti seseorang berada di pasar gelap. Kandidat pekerja harus menandatangani perjanjian kerahasiaan sebelum mengetahui yang sebenarnya," tukas Ott.

Investor incar ide segar

Dulu banyak perusahaan internet yang disebut 'Copy Cats' karena mencoba meniru kesuksesan proyek internet di Amerika Serikat, kemudian memasarkannya dengan nama berbeda dan segera mencari pembeli. Kini perusahaan-perusahaan baru di Berlin menarik perhatian dengan ide-ide mereka sendiri. Contoh sukses seperti platform musik 'Sound Cloud' atau 'Wooga,' sebuah perusahaan yang menyediakan mainan online bagi Facebook.

Anna Ott dari i-potentials
Anna Ott dari i-potentialsFoto: Swetlana Gasetski

Proyek keluaran Berlin yang baru-baru ini menjadi bahan perbincangan adalah 'Amen.' Bintang Hollywood, Ashton Kutcher, dan Guy Oseary, manajer Madonna, adalah dua diantara banyak investor yang menggalang 2 juta Dolar bagi proyek yang belum diluncurkan ini. Sebuah investasi beresiko tinggi. Karena menurut Anna Ott, dari 10 perusahaan internet baru, hanya 1 yang pada akhirnya bertahan hidup.

Nada skeptis

"Tapi apalah artinya bertahan? Ada bisnis seperti Zalando yang menjual sepatu di internet atau Groupun yang menjual kupon diskon. Dan ya, keduanya perusahaan besar di Berlin dengan banyak pekerja. Tapi keduanya tidak menguntungkan. Jadi apa gunanya bertahan hidup. Dengan mem-PHK lebih dari seribu orang pun perusahaan tersebut belum bisa disebut sehat," Ott bergumam.

Jens Schmidt-Ehmke dari Hasso Plattner Ventures setiap minggu mendapat permohonan analisa peluang sukses dari 15 perusahaan baru. Jika ia menyukai sebuah ide, pendiri perusahaan akan diundang untuk presentasi model bisnis selama 20 menit. Kalau berhasil, perusahaan baru tersebut bisa mendapat modal jutaan Dolar. "Tapi ini juga bukan jaminan sukses. Ada perusahaan yang berfungsi baik. Kami jual dalam bentuk saham ke publik, atau jual mereka ke pesaing. Tapi di tahap itupun, ada perusahaan yang terpaksa menyerah," tegas Schmidt-Ehmke.

Meski begitu, semakin banyak pemodal dari Amerika Serikat yang melirik bisnis di ibukota Jerman. Memang saat Silicon Valley mulai berkembang, Berlin masih berada di tahap awal. Namun jadinya sekarang booming industri internet di Berlin masih jauh dari berakhir, bahkan klimaksnya pun belum tercapai.

Sabine Kinkartz/Carissa Paramita

Editor: Vidi Legowo-Zipperer