1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Bangladesh Tolak Ribuan Pengungsi Myanmar

Tiga kapal bermuatan sekitar 1000 pengungsi etnis Rohingya ditolak kedatangannya oleh pemerintah Bangladesh. Sebelumnya ratusan pengungsi juga dilarang masuk.

Aksi kekerasan sejak Jumat (8/6) antara umat Buddha dan minoritas Muslim di barat Myanmar menewaskan setidaknya 12 orang dan ratusan warga kehilangan tempat tinggalnya yang habis terbakar. Sejak itu pula, negara tetangga Bangladesh diserbu oleh para pengungsi etnis muslim Rohingya.

Sebelum insiden penolakan masuknya pengungsi Selasa (12/6), pemerintah Bangladesh mengatakan telah memulangkan kembali 11 kapal dengan sekitar 500 etnis Rohingya dalam tiga hari terakhir. Dalam konferensi pers di Dhaka, menteri luar negeri Dipu Moni mengatakan, Bangladesh tidak berminat untuk menerima kedatangan pengungsi, karena sumber daya negara itu sendiri sudah minim.

Tiga kapal yang Selasa (12/6) mencoba mendekati pesisir pulau Saint Martin "diusir", ujar seorang petugas polisi setempat. Sementara itu, beberapa kamp bagi polisi dan penjaga perbatasan didirikan untuk mencegah aksi kekerasan di pedesaan Bangladesh yang berada di sekitar perbatasan. Baik etsnis Rohingya maupun etnis Buddha Rakhine tinggal di dekat daerah tersebut.

Badan pengungsi PBB (UNHCR) mendesak agar tim medis dibolehkan untuk memasuki Bangladesh. Sementara pemerintah Amerika Serikat menuntut agar aksi kekerasan sektarian segera dihentikan. Human Rights Watch mempertanyakan, mengapa dunia internasional belum beraksi. Wakil direktur HRW divisi Asia Phil Robertson mengatakan kepada kantor berita AFP, "Pemerintah Myanmar menutup mata atas kejadian di Rakhine."

Myanmar menganggap etnis Rohingya adalah imigran ilegal dari Bangladesh dan menolak memberikan status kewarganegaraan. Namun, menurut pemerintah Bangladesh, etnis Rohingya telah tinggal di Myanmar selama berabad-abad dan harus diakui sebagai warga negara Myanmar.

vlz (ap, afp)

Laporan Pilihan