Bangkitnya Kanan Jauh Eropa | dunia | DW | 01.05.2012
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Bangkitnya Kanan Jauh Eropa

Kelompok kanan jauh Eropa memanfaatkan krisis ekonomi untuk meraih dukungan. Mereka ikut turun ke jalan memperingati May Day untuk mengecam para pendatang yang mereka tuduh mencuri lapangan kerja mereka.

default

Retorika anti imigran membuat Marine Le Pen mendapat dukungan luas

Dari Athena hingga Paris. Kelompok sayap kanan jauh turun ke jalan memperingati May Day.

Mendompleng peringatan hari buruh, mereka mengangkat isu menolak para pekerja pendatang, sambil pada tarikan nafas yang sama, mendesak pemerintah menyediakan lapangan kerja bagi penduduk asli.

Krisis ekonomi menciptakan ketidakpastian. Inilah yang membuat banyak orang cemas atas masa depan mereka. Hidup semakin sulit dan pengangguran bertambah.

Kaum kanan jauh memanfaatkan momentum ini untuk meraih dukungan. Mereka menuding para pendatang telah mencuri lapangan kerja milik mereka.

Dengarlah retorika Marine Le Pen, pemimpin Front Nasional saat berpidato di Paris memperingati May Day. "Menjadi Republikan artinya tidak dengan mudah membiarkan para imigran datang" kata tokoh sayap kanan itu, yang disambut tepuk tangan para pendukungnya.

Dalam pemilu April lalu, Front Nasional pimpinan Marine Le Pen meraih 18 persen suara. Hanya kalah tipis dari kubu sosialis dan konservatif yang meraih suara terbanyak pertama dan kedua. Jika berkaca dari sana, maka artinya hampir dua dari sepuluh orang Perancis, anti terhadap imigran.

Dengan licik kelompok kanan jauh mengeksploitasi kecemasan warga asli untuk mendapatkan dukungan politik. Mereka mendirikan haluan politik yang dibangun di atas kebencian terhadap pendatang.

Masalahnya Eropa punya problem demografi yang akut: angkatan kerja yang semakin sedikit harus menanggung para pensiunan yang terus bertambah. Populasi yang semakin tua, membutuhkan angkatan kerja untuk menopang ekonomi. Para imigran mengisi kekosongan itu.

Krisis ekonomi telah membuat banyak orang kecewa dengan politik mainstream dan berpaling kepada kelompok kanan jauh. Sementara, perang melawan terorisme telah membangkitkan politik identitas di kalangan pendatang.

Ketegangan ini harus dikelola secara benar agar tidak berubah menjadi bom waktu. Inilah tantangan terbesar politik Eropa hari ini.

Andy Budiman

Laporan Pilihan