Aksi Protes Para Pengungsi di Jerman | dunia | DW | 12.03.2013
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Aksi Protes Para Pengungsi di Jerman

Sejak lima bulan sejumlah pengungsi memprotes agar kondisi mereka diperbaiki. Dengan dua bus mereka berkeliling Jerman untuk memobilisasi pengungsi di penampungan lainnya.

Tempat penampungan pengungsi di tengah-tengah kawasan industri di Oberursel, dekat Frankfurt am Main. Dua anak bermain dan sejumlah anak muda berdiri di depan barak-barak darurat bagi pengungsi. Dua mini bus memasuki lahan itu.

Yang mereka namakan "Refugees' Revolution Bus Tour" atau "Tur Bus Revolusi Pengungsi" tiba di persinggahannya yang ke-11. Kelompok itu terdiri dari 15 pengungsi dan sejumlah aktivis yang berkeliling Jerman dari Februari hingga akhir Maret ini dengan tujuan menyinggahi 22 kota. Misinya: Aksi protes untuk mencapai kondisi kehidupan yang lebih baik di penampungan pengungsi dan mempromosikan demonstrasi besar-besaran 23 Maret ini di Berlin. Kelompok ini melakukan aksinya sendiri tanpa sponsor dari sebuah organisasi besar. Mereka hanya mengandalkan bantuan dari teman-teman relawan yang menampung mereka untuk menginap selama di perjalanan serta menyumbang ala kadarnya untuk makan dan transportasi.

Pemicu protes ini adalah Mohammad Rhasepar dari Iran yang bunuh diri 29 Januari 2012 di sebuah penampungan di Bayern. Sebelumnya ia memohon untuk dipindahkan ke saudara perempuannya di Kiel, namun permintaannya ditolak. Sejak itu para pemohon suaka di seluruh Jerman bersatu untuk memperjuangkan hak mereka.

Keluar dari isolasi

Die Bilder sind am 9. März 2013 im Flüchtlingsheim

Bus tur aksi protes

Turgay dari Turki juga bergabung dalam aksi ini. Sebagai Marxis ia menghabiskan 15 tahun di penjara Turki. "Ada tiga tuntutan kami, yaitu penghapusan kewajiban menetap di satu tempat, penghapusan kamp penampungan dan deportasi," tegasnya. Pemohon suaka memang dilarang meninggalkan wilayah penempatan mereka. Saat ini sebelas negara bagian telah memperlonggar peraturan itu, namun keringanan itu bisa diperketat kembali pada kasus tertentu.

Turgay terutama memprotes lokasi penampungan yang terpencil. "Ini adalah isolasi, seperti penjara," tukasnya. Juga Mahadi, pria 28 tahun dari Sudan termasuk dalam kelompok aksi ini. Ia berada di Jerman sejak hampir setahun. Ia merasa tidak aman di Sudan karena ayahnya termasuk dalam kelompok pemberontak. Ia juga sempat meringkuk berbulan-bulan di penjara Sudan. "Jerman membuat orang-orang menjadi tidak berguna. Mereka membiarkan kami tanpa pekerjaan atau pendidikan." Demikian Mahadi.

Masih ragu-ragu

Protest-Tour von Flüchtlingen durch Deutschland

Di tempat penampungan pengungsi Oberursel

Mereka menggelar spanduk di depan bangunan darurat dan meneriakkan slogan "Freedom, freedom". Beberapa orang berdiri di pintu, namun ragu-ragu untuk keluar. Di luar terdengar sejumlah pria berbicara bahasa campuran Jerman, Inggris, Perancis dan Turki.

Pemrotes akhirnya masuk ke dalam barak untuk langsung berbicara dengan penghuninya. Seorang Iran mengatakan, "Saya pikir tidak banyak yang akan ikut demonstrasi dari tempat penampungan ini. Ada yang mengatakan, di sini sudah lumayan. Sedangkan lainnya merasa takut." Padahal sejak bertahun-tahun sejumlah politisi dan relawan Jerman berjuang untuk perbaikan kondisi penampungan dari sekitar 200 perempuan, pria dan anak-anak di sana. Penampungan itu dinilai sebagai terlalu kecil, kotor dan berjamur.

Terlalu berisik

Pecan dari Afghanistan, 18 tahun, juga penghuni di sini. Ia sudah diakui sebagai pengungsi, namun baru bisa meninggalkan penampungan bila sudah mampu membiayai dirinya sendiri. Ia saat ini sedang mengikuti pendidikan di sekolah kejuruan dan mengeluh karena di situ pada malam hari terlalu ribut untuk belajar dan tidur.

Setelah empat jam di sana, "tur revolusi" dilanjutkan ke Köln. Pecan mengatakan, ia tidak akan pergi berdemonstrasi ke Berlin karena harus pergi ke sekolah.

Laporan Pilihan