1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Jerman Jadi Negara Tujuan Imigran Berkualifikasi

Semakin banyak imigran yang berpendidikan tinggi yang datang ke Jerman. Sebuah tren, mengingat selama ini kebanyakan imigran yang tinggal ke Jerman bekerja di pabrik atau kosntruksi.

default

Tenaga Ahli

Gambaran imigrasi ke Jerman yang ditandai gelombang pekerja dari Turki dan Polandia - yang bekerja di bidang konstruksi atau pabrik - sudah berlalu. Kini banyak imigran datang ke Jerman untuk mencari pekerjaan sebagai dokter atau teknisi. Mereka datang dari Yunani maupun Spanyol.

Prof. Dr. Herbert Brücker

Herbert Brücker dari IAB

Perubahan ini dapat ditengok dalam data statistik. Antara tahun 2005-2009 imigran bergelar sarjana meningkat dari 30 persen menjadi 44 persen. Lembaga kajian di Nürnberg, Institusi Pasar Tenaga Kerja dan Riset Pekerjaan IAB menyatakan ini merupakan “sukses besar“ atas kemudahan persyaratan bekerja bagi tenaga ahli berkualitas yang ingin mengadu nasib di Jerman.

Proses Bologna sebagai Percepatan

Sebagian besar tenaga ahli migran yang mencari peruntungan di Jerman berasal dari negara-negara Uni Eropa. Peneliti tenaga kerja dari lembaga studi IAB Nürnberg, Herbert Brücker melihat pendorong kekuatan tren imigran berkualitas yang datang ke Jerman, di antaranya adalah inisiatif Uni Eropa. Salah satu bentuk inisiatif tersebut dikenal dengan sebutan Proses Bologna, yakni fasilitas pengakuan ijazah pendidikan lintas batas. Banyak imigran baru yang tadinya mahasiswa di Jerman, setelah lulus kuliah tetap tinggal di Jerman, mencari dan mendapatkan pekerjaan sesuai bidangnya.

Wiener Migranten erfolgreich in der Wirtschaft Flash-Galerie

Simbol imigran pencari kerja

Namun ada pula imigran yang datang ke Jerman, dan bekerja di bidang yang tak membutuhkan keahlian tinggi. Di antaranya bekerja di bidang konstruksi atau tata boga. ”Kenyataannya, banyak pula imigran yang bekerja di bawah kualifikasi mereka,” demikian diakui Brücker. Peneliti masalah migran Ludger Pries dari Universitas Bochum lebih lanjut merumuskan: “Sistem di Jerman masih terlalu rumit. Termasuk pengakuan kualitas lulusan di bidang kerja. Jadi memang masih banyak hal yang harus dilakukan.“

Sejak tahun 2012 para imigran yang datang ke Jerman membutuhkan waktu tiga bulan untuk mengurus pemeriksaan keabsahan ijazah yang mereka bawa dari tempat mereka lulus.

Hambatan Bisa Dilalui

Zuwanderungsmagnet Deutschland

Ludger Pries

Peneliti tenaga kerja dari lembaga studi IAB Nürnberg, Herbert Brücker mengatakan, meskipun ada kendala tersebut, tetap saja daya tarik Jerman bagi para imigran semakin menguat. Tak lama lagi akan masuk pula para imigran dari Rumania dan Bulgaria, sebab paling lambat, mulai tahun 2014, kedua negara itu akan menjadi anggota Uni Eropa termuda. Jadi, sebagai anggota Uni Eropa, mereka dapat mencari kerja di Jerman pula tanpa membutuhkan akses izin kerja di Jerman. Selama ini kemudahan untuk bekerja di Jerman tak berlaku bagi seluruh warga Eropa Timur. Herbert Brücker cukup optimistis, bahwa warga Rumania dan Bulgaria dapat pula menembus pasar tenaga kerja Jerman sebagaimana 80 ribu warga Eropa Timur --yang setelah adanya kemudahan bekerja yang dibuka Uni Eropa tahun 2011-- datang ke Jerman. Berbeda dengan kecemasan bahwa kedatangan imigran dari Eropa Timur akan membebani sistem sosial Jerman, pada kenyataannya hampir semua memperoleh pekerjaan.

Wiener Migranten erfolgreich in der Wirtschaft

Dengan ijazah mencari peruntungan di Jerman

Sementara terbuka pintu bagi dunia kerja, pintu untuk urusan lainnya semakin sulit, misalnya akses memasuki negara Jerman, “Lewat kebijakan negara dunia ketiga, semakin sedikit pencari suaka yang bisa memasuki Jerman,“ ujar peneliti migrasi Ludger Pries. Kebijakan Negara Dunia Ketiga Uni Eropa mensyaratkan, bahwa para pengungsi harus memasukan permohonan suaka di negara Uni Eropa yang mereka masuki, kebanyakan di negara-negara selatan seperti Yunani, Spanyol dan Italia. Para pengungsi berkualifikasi kerja rendah dari negara-negara berkembang, yang dijauhkan dari tenaga kerja Jerman, menurut Pries harus juga dipikirkan ditengah euforia perdebatan mengenai migran berkualifisasi tinggi.

Laporan Pilihan