Zuma Bukan Solusi Tepat Bagi Problem di Afrika Selatan | BERANDA | DW | 23.04.2009
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

BERANDA

Zuma Bukan Solusi Tepat Bagi Problem di Afrika Selatan

Kandidat presiden partai Kongres Nasional Afrika-ANC, Jacob Zuma dinilai bukan solusi yang tepat untuk mengatasi problem di negara itu.

default

Pemilu di Afrika Selatan menjadi tema komentar dalam tajuk sejumlah harian internasional.

Harian konservatif Italia Corriere della Sera yang terbit di Milan dalam komentarnya juga menyoroti sosok Jacob Zuma sebagai ketua partai ANC dalam pemilu parlemen Afrika Selatan kali ini.

Pemenang pemilu parlemen sudah dapat dipastikan adalah partai Kongres Nasional Afrika-ANC. Dengan begitu, kandidat presidennya Jacob Zuma juga akan menjadi presiden Afrika Selatan mendatang. Para pendukungnya menegaskan, walaupun masalalunya tidak terlau bersih, Zuma akan menjadi presidennya rakyat Afrika Selatan yang pertama. Sebab para pendahulunya, Nelson Mandela popularitasnya mengglobal dan Thabo Mbeki menjaga jarak terlalu jauh dari rakyatnya. Kini, Jacob Zuma tampil dengan bobot politiknya untuk menjadikan Afrika Selatan sebagai negara besar di Afrika. Jadi amat penting dan tepat, untuk terus mengamati dengan teliti langkah Zuma.

Harian liberal kanan Denmark Jylland Posten yang terbit di Ärhus dalam tajuknya juga mengomentari peranan Jacob Zuma untuk Afrika Selatan.

Kita harus meragukan bahwa presiden mendatang Afrika Selatan, Jacob Zuma dapat merupakan solusi yang tepat bagi masalah yang dihadapi negara itu. Ketika memangku jabatan sebagai wakil presiden, Zuma bertanggung jawab langsung atas gagalnya sejumlah rencana reformasi besar. Selain itu dakwaan terhadap dirinya melakukan korupsi dan penggelapan menjadikannya tokoh yang latar belakangnya dipertanyakan. Berita baik dari pemilu yang diikuti 27 partai ini adalah, demokrasi di Afrika Selatan tetap hidup dan berfungsi. Berita buruknya, partai ANC yang ibaratnya memonopoli pemerintahan, tidak mampu lagi membuat perubahan besar, sekelas yang dilakukan Nelson Mandela 15 tahun lalu.

Tema lainnya yang dikomentari harian-harian Jerman adalah pertemuan puncak ekonomi di kantor kekanseliran di Berlin membahas paket konjunktur selanjutnya.

Harian Frankfurter Rundschau yang terbit di Frankfurt am Main dalam tajuknya berkomentar :

Menteri ekonomi Jerman menjelaskan, dua paket konjunktur yang lalu belum menunjukan dampaknya. Jadi apa perlunya membicarakan paket konjunktur ketiga? Kedengarannya seperti karikatur. Ekonomi Jerman sejak setahun lalu berada dalam resesi yang belum ada bandingannya. Dan pemerintah menjelaskan, rangsangan konjunktur yang mereka terapkan, belum menunjukan hasil yang terukur. Ibaratnya pemerintah menampar mukanya sendiri. Tapi, masalahnya juga bukan hanya bagaimana menyediakan tambahan bantuan milyaran Euro. Melainkan bagaimana menerapkannya secara tepat. Impuls juga dikirim amat terlambat, karena semuanya dibagi-bagi dalam tahapan kecil hingga tahun 2010 mendatang.

Terakhir harian Berliner Zeitung yang terbit di Berlin berkomentar :

Program konjunktur berikutnya kemungkinan tidak hanya percuma tapi juga terlalu mahal dan kontra-produktif. Utang negara dalam jangka menengah, juga akan meningkatkan beban perusahaan dan pekerja. Kenaikan pajak tidak mungkin dilakukan karena akan memperpanjang spiral kemunduran ekonomi. Diskusi menyangkut program konjunktur baru, membuat orang tidak tenang dan membangkitkan harapan palsu, bahwa negara mampu melakukan apa yang tidak dapat dilakukan oleh kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Yakni melawan resesi global dan dapat mencegah krisis ekonomi terberat di Jerman sejak zamannya kerajaan Weimar.



  • Tanggal 23.04.2009
  • Penulis AS/dpa
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/Hciz
  • Tanggal 23.04.2009
  • Penulis AS/dpa
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/Hciz