Zidane: Noda di Akhir Karir Gemilang | Fokus | DW | 10.07.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Zidane: Noda di Akhir Karir Gemilang

Peristiwa Zidane di final Piala Dunia 2006 ini akan merupakan kisah yang tak habis-habisnya dibicarakan dunia. Juga ditangisi oleh seluruh pecinta sepak bola di seluruh pelosok jagat.

default

Suatu karir yang gemilang selama 17 tahun, sepertinya akan diakhiri secara megah. Sebuah panggung yang tidak bisa lebih sempurna lagi sudah tersedia untuknya: final Piala Dunia. Panggung yang dihadiri 76 ribu penonton di stadion Olympiade Berlin dan ratusan juta umat manusia yang menonton lewat televisi. Apapaun hasilnya, Prancis menang atau kalah, menjadi juara dunia atau tidak, Zinedine Zidane akan dilepas sebagai maestro sepak bola yang turun panggung dengan kejayaan.

Namun cuma 10 menit sebelum apa yang mestinya jadi upacara perpisahannya. Cuma 10 menit saja, bahkan mungkin kurang, sebelum pertandingan berakhir, semuanya berantakan. Dunia menyaksikan adegan yang diputar ulang terus menerus itu. Tidak ada yang betul-betul tahu, apa yang terjadi. Atau apa kata-kata yang dillontarkan Materazzi, yang mengakibatkan Zidane kehilangan kontrol hingga menodai dirinya sendiri. Karena baik Zizou, panggilan Zidane, maupun Materazzi sama-sama tutup mulut.

Alain Migliaccio, agen Zidane menyebut, Materazzi memang telah melontarkan hinaan yang menyakitkan. Namun katanya, Zidane tak mengatakan apa persisnya kata-kata Materazzi. Tetapi kemungkinan, Materazzi mengeluarkan kata-kata yang menghina ibunya. Sebuah media Inggris menyebut, sepertinya Materazzi mengata-ngatai Zidane dengan kalimat "Dasar Teroris!". Sebuah kelompok anti rasis Perancis, SOS Racisms menyebut, Materazzi melontarkan kata-kata "Dasar Teroris Brengsek". Zidane yang adalah keturunan Aljazair, merasa dihina, dan tak bisa lagi mengendalikan diri. Disebutkan dalam pernyataan SOS Racism, mereka memperoleh informasi dari suber-sumber terpercaya, dan karenanya menuntut FIFA untuk menyelidiki kasus ini. Apalagi FIFA telah secara besar-besaran melakukan kampanye anti rasisme. Tentang ini, Matterazi segera membantah. Ia katakan ia tidak bersalah, tidak menyebut Zidane teroris, dan bahkan tak tahu apa arti teroris. Kata Materazzi, dunia menyaksikan apa yang terjadi melalui televisi.

Legenda sepakbola Jerman, Franz Beckenbauer menyebut, sepanjang yang ia tahu, Zidane adalah seorang pribadi yang dingin dan tenang. Jadi kalau dia sampai begitu, pasti ada provokasi yang sangat besar.

Namun kalangan bola Italia, tentu berpendapat sebaliknya. Bahkan Gianluca Zambrotta, bekas rekan setim Zidane di Juventus menyebut, ia tidak kaget. Karena ini bukan pertama kalinya Zidane berbuat kasar seperti itu. Tidak salah. Saat membela Juventus, dalam pertandingan Liga Champions tahun 1999 melawan Hamburg, Zizou juga sengaja menanduk Jochen Kientz. Akibatnya, Zizou dilarang bertanding lima kali.

Zinedine Zidane, seorang pahlawan yang cacat. Atau barangkali seorang pahlawan yang juga manusia biasa, yang memiliki sisi-sisi manusia pada umumnya. Yang bisa salah, bisa tolol juga. Tetapi mengapa ketololan itu justru seakan-akan disiapkan untuk dilakukan justru di saat-saat akhir karirnya?

Bagai paduan suara, pers Prancis ramai-ramai menuding tidakan Zidane sebagai kejahatan dalam olah raga, yang juga penyebab kekalahan tim ayam jantan. Pelatih Raymond Domenech mengakui, memang timnya berubah setelah kehilangan Zidane. Katanya:

Selama dua puluh menit kami bermain tanpa Zidane. Itu sangat menganggu keseimbangan tim. Sayang sekali.

Sedangkan legenda sepakbola Jerman Franz Beckenbauer menggambarkan:

"Diusirnya Zidane sangat melemahkan tim Prancis. Kesebelasan ini memang rentan tanpa Zidane. Seperti 4 tahun lalu, saat ia cedera, tim Prancis seakan selalu mencari Zidane di lapangan, namun tak ada. Akibatnya Prancis hancur, gagal mencetak satu pun gol. Saya tidak bilang bahwa Prancis tak berdaya tanpa Zidane, namun mereka sangat membutuhkan Zidane."

Tapi pemain belakang Willy Sagnol meminta agar Zizou tak dituding sebagai penyebab kegagalan Prancis. Katanya, justru jika Zizou tak kembali bergabung, Prancis belum tentu bisa mencapai final. Bintang Prancis lain, Thiery Henry mengatakan, terlepas apa yang terjadi Minggu malam di stadion Berlin, terhadap seorang Zidane yang telah menghibur dunia dengan kemampuannya yang hebat selama 17 tahun, para pecinta bola hanya bisa mengatakan terima kasih, terima kasih dan terima kasih.

Dalam resepsi untuk Les Bleus di istana kepresidenan Prancis, Champs Elysee, di Paris, hari Senin Zidane berusaha tampil wajar. Dan Presiden Jaques Chirac tetap memujinya. Dikatakannya, Zidane tetap seorang virtuoso, seorang jenius di dunia sepak bola, juga manusia berhati mulia yang penuh pengabdian dan pendirian. Itu sebabnya, kata Chirac, seluruh Perancis mencintai Zinedine Zidane.

Dan memang, terlepas dari peristiwa memalukan itu, Zidane tetap dinobatkan sebagai pemain terbaik Piala Dunia 2006. Ini hasil dari penilaian ribuan wartawan peliput. Zidane memperoleh 2.012 angka, disusul kapten Italia Fabio Cannavaro dengan 1,977 angka dan bintang Italia Andrea Pirlo dengan

715 angka. Ini agak menjadi masalah bagi FIFA, karena harus memberikan hadiah pemain terbaik kejuaraan ini kepada pemain yang menodainya dengan tindakan kekerasan, apapaun alasannya. Tetapi penilaian dilakukan sebelum pertandingan final. Kalau saja dilakukan sesudah drama penandukan itu, hasilnya bisa lain.

Tetapi Adidas, produsen olah raga mitra Piala Dunia tetap meluncurkan situs mercizidane.fr, atau terima kasih zidane, untuk melepas sang maestro yang turun gunung, kendati tersandung di ujung perjalanannya. Perusahaan olah raga Jerman itu menyatakan, mereka telah bekerja sama dengan Zizou sejak 1996 dan akan terus bekerja sama hingga ttahun 2017 nanti. Di situs terima kasih Zidane ini, nanti penggemar bisa mengungkapkan penghargaan mereka baik melalui tulisan maupun video. Dua video terbaik, akan mendapat hadiah, salah satunya adalah kaos yang dikenakan Zidane di pertandingan final Piala Dunia kemarin.