YouTube Hapus Channel Berbahasa Jerman Milik Rusia ′RT′ karena Misinformasi COVID-19 | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 30.09.2021
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Dunia Digital

YouTube Hapus Channel Berbahasa Jerman Milik Rusia 'RT' karena Misinformasi COVID-19

Halaman YouTube berbahasa Jerman milik Rusia ''RT'' dihapus pada Selasa (28/09) karena dianggap melanggar kebijakan tentang misinformasi COVID-19. Rusia mengancam akan ''membalas'' dengan memblokir YouTube.

Tampilan halaman YouTube RT setelah dihentikan

Tampilan halaman YouTube RT setelah dihapus oleh platform tersebut

YouTube menghapus saluran berbahasa Jerman milik Rusia, Rusia Today (RT), pada Selasa (28/09), karena channel itu melanggar kebijakan misinformasi COVID-19.

"YouTube selalu memiliki pedoman komunitas yang jelas yang menguraikan apa yang diizinkan di platform," kata juru bicara YouTube kepada DW.

Awalnya saluran Jerman RT mendapat teguran karena mengunggah konten yang melanggar kebijakan misinformasi COVID-19 YouTube. Akibatnya RT dilarang posting selama seminggu.

RT kemudian menggunakan channel kedua yang juga berbahasa Jerman, "Der Fehlende Part" (DFP/Bagian yang Hilang), untuk menghindari penangguhan.

RT DE (nama RT dalam bahasa Jerman) "mencoba untuk menghindari penegakan hukum dengan menggunakan saluran lain, dan akibatnya kedua saluran tersebut dihentikan karena melanggar Persyaratan Layanan YouTube," kata juru bicara tersebut.

Rusia mengancam akan blokir YouTube

Kementerian Luar Negeri Rusia mengancam akan "membalas" YouTube dengan memblokir platform tersebut. Kemenlu Rusia mengatakan penghapusan RT dari YouTube sebagai ‘'agresi informasi yang belum pernah terjadi sebelumnya''.

Roskomnadzor, badan eksekutif federal Rusia yang bertanggung jawab untuk mengawasi media massa di negara itu, mengirim surat ke Google, ‘‘menuntut agar semua pembatasan dicabut.‘‘

Layanan pers agensi Rusia itu juga meminta adanya penjelasan alasan penerapan larangan tersebut.

Google menghadapi ancaman denda hingga 1 juta rubel (Rp196 juta) jika menolak untuk membuka blokir saluran YouTube RT, kata Roskomnadzor.

Margarita Simonyan, pemimpin redaksi RT, menanggapi larangan tersebut dalam sebuah twit: "Ini adalah perang media nyata yang dideklarasikan oleh negara Jerman kepada negara Rusia," katanya.

Dia kemudian meminta Rusia untuk merespons dengan melarang media pemerintah Jerman, termasuk DW.

Menanggapi hal itu, pemerintah Jerman mengatakan "tidak ada hubungannya" dengan keputusan YouTube.

"Siapa pun yang menyerukan pembalasan seperti itu tidak menunjukkan hubungan yang baik dengan kebebasan pers," kata juru bicara Kanselir Angela Merkel, Steffen Seibert, seraya menambahkan bahwa tindakan YouTube "bukanlah tindakan negara."

YouTube dimiliki oleh konglomerat teknologi AS Alphabet Inc, yang juga memiliki Google. 

YouTube blokir konten anti-vaksin

YouTube mengatakan "tidak mengizinkan konten tentang COVID-19 yang menimbulkan risiko bahaya serius yang mengerikan."

Selain itu, YouTube mengatakan tidak mengizinkan konten yang menyebarkan misinformasi medis yang "bertentangan dengan informasi medis otoritas kesehatan setempat atau Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tentang COVID-19."

YouTube akan melarang video apa pun berisikan konten anti-vaksin, serta yang mengklaim bahwa vaksin yang disetujui oleh otoritas kesehatan tidak efektif atau berbahaya. 

YouTube sebelumnya memblokir video yang membuat klaim tentang vaksin virus corona, tetapi tidak untuk vaksin lain seperti campak atau cacar air.

YouTube juga melarang konten dari tokoh anti-vaksin terkenal, termasuk Robert F. Kennedy Jr. dan Joseph Mercola. (pkp/gtp) 

Laporan Pilihan