Xanana Ancam Penyisiran dari Rumah ke Rumah | Fokus | DW | 06.03.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Xanana Ancam Penyisiran dari Rumah ke Rumah

Pendukung Alfredo Reinado membakari ban dan melemparkan batu. Tapi Presiden Xanana Gusmao kukuh dengan sikapnya.

Alfredo Reinaldo

Alfredo Reinaldo

Situasi Dili, ibu kota Timor Leste masih mencekam. Hingga Senin (05/03) malam, sekitar 500 warga, terutama anak muda, berunjuk rasa dengan membakari ban dan melempari pasukan internasional dengan batu. Mereka memprotes operasi tentara internasional pimpinan Australia hari Minggu (04/03) di kota Same. Operasi itu dilancarkan untuk memburu Alfredo Reinado, berdasarkan perintah penangkapan dari Presiden Xanana Gusmao. Alfredo Reinado sendiri lolos, namun 4 anak buahnya tewas. Para pengunjuk rasa menuntut Xanana Gusmao mencabut perintah penangkapan terhadap Alfredo Reinado.

Presiden Timor Leste Xanana Gusmao serta merta menolak tuntutan para pengunjuk rasa agar ia mencabut perintah penangkapan terhadap Alfredo Reinado. Sebaliknya, ia menyerukan para pengunjuk rasa untuk menghentikan aksinya dan mendesak Reinado agar menyerahkan diri.

"Saya minta semua rakyat Timor untuk tenang. Kepentingan negara harus lebih diutamakan ketimbang kepentingan seseorang atau sekelompok tertentu. Saya juga memberikan jaminan, bila Alfredo Reinado dan anak buahnya menyerahkan diri, negara akan memperlakukan mereka secara bermartabat. Akan tetapi tidak ada jalan lain di luar itu untuk merkea. Satu-satunya jalan adalah menyerahkan diri beserta seluruh persenjataannya."

Presiden Xanana Gusmao juga memperingatkan, pemerintah bertekad membawa Reinado ke pengadilan untuk menghentikan rantai perusakan, kekerasan dan kerusuhan, serta memulihkan ketertiban di Timor Leste. Jika perlu, kata Xanana, aparat akan melakukan operasi penyisiran dari pintu ke pintu untuk memburu Reinado dan pendukungnya, sekaligus melucuti senjata dari kalangan warga sipil.

Tekad Xanana Gusmao didukung sepenuhnya oleh tentara internasional penjaga stabilitas Timor Leste. Disebutkan panglimanya, Jenderal Mal Rerden:

"Pasukan Internasional yang dipimpin Australia tetap bertekad mendukung Pemerintah Timor Leste dan Misi PBB untuk menciptakan kestabilan dan keamanan. Agar masyarakat Timor Leste bisa menyelesaikan permasalahannya secara damai dan demokratis."

Sebetulnya misi PBB di Timor Leste, UNMIT, bersama pemerintah Timor dan pasukan internasional berusaha menyelesaikan masalah ini melalui perundingan. Mereka membujuk Reinado menyerahkan diri baik-baik. Namun Reinado menampik, bahkan justru melakukan penyerbuan dan perampasan senjata terhadap sebuah markas polisi. Sebagaimana digambarkan Kepala UNMIT, Atul Khare:

"UNMIT bersama Pemerintah Timor Leste dan Pasukan Internasional sudah melakukan semua cara untuk membujuk Alfredo Reinado agar menyerahkan diri. Tim UNMIT bersama pemerintah dan pasukan internasional telah dua kali bertemu dengan Reinado, dan mendesaknya agar menyerahkan diri secara baik-baik untuk menjalani proses peradilan. Namun seluruh upaya itu dengan sendirinya berakhir, ketika minggu lalu Reinado menyerbu pos polisi perbatasan serta melarikan senjata dan beberapa barang lain."

Sementara itu. Pemerintah Australia mengungsikan pegawai kedutaannya yang bukan merupakan staf inti dan darurat. Menteri Luar Negeri Australia Alexander Downer menyerukan semua warga Australia, bahkan termasuk wartawan, untuk meninggalkan Tiomor Leste. Karena menurutnya, situasi Timor Leste kini sangat membahayakan, dan ada kemungkinan warga Australia menjadi sasaran kekerasan pendukung Reinado.

Alfredo Reinado adalah bekas mayor yang tahun lalu memimpin pemberontakan 600 tentara yang dipecat. Aksinya berbuntut kerusuhan berkepanjangan, menewaskan 37 orang dan mengakibatkan 150.000 warga jadi pengungsi. Keadaan tak terkendali, dan akhirnya pemerintah Timor Leste meminta bantuan pasukan internasional. Kerusuhan itu mengakibatkan pula jatuhnya pemerintahan Perdana Menteri Mari Alkatiri, yang kemudian digantikan Menteri Luar Negeri Jose Ramos Horta.

Alfredo Reinado sempat ditangkap dan dipenjara. Namun ia lari dari tahanan bersama 50 orang tahanan lain.