1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Bencana

Wisman Ramai-ramai Tinggalkan Lombok

7 Agustus 2018

Pelancong asing mengantri di bandar udara di Mataram untuk mendapatkan penerbangan pulang usai gempa meluluhlantakkan Lombok. Saat ini angka korban jiwa sudah mencapai 105 orang dan diperkirakan akan terus bertambah.

https://p.dw.com/p/32jM9
Indonesien nach dem Erdbeben auf Lombok
Foto: Reuters/Beawiharta

Wisatawan asing bergegas ingin meninggalkan Lombok usai gempa bumi kedua dalam sepekan yang menewaskan setidaknya 105 orang. Mereka diberangkatkan ke Bali dengan menggunakan kapal laut dan pesawat udara.

Sebanyak4.600 turis saat ini telah dievakuasi dari Gili Trawangan dengan menggunakan kapal kecil. "Kami tidak punya listrik dan tidak ada informasi tentang apa yang harus dilakukan," kata Laurent Smadja, seorang turis Perancis yang sedang berada di Gili Meno ketika bencana terjadi. Baru pada Selasa (7/8) dia akhirnya mendapat tumpangan kapal yang membawanya kembali ke Lombok.

"Ada banyak yang ingin kembali ke Lombok karena munculnya rumor palsu seperti Tsunami," kata Muhammad Faozal, Kepala Dinas Pariwisata NTB. "Kami bisa membantu wisatawan kembali ke bandara, tapi kami tentunya tidak bisa memberikan tiket gratis," imbuhnya sembari menambahkan Dinas Pariwisata menyediakan akomodasi, makanan dan transportasi gratis untuk turis yang terdampar. 

Sementara itu petugas gabungan masih berusaha mencari korban penyintas yang tertimbun reruntuhan gedung. Saat ini sekitar 20.000 penduduk dikabarkan mengungsi ke kamp penampungan. Setidaknya sebanyak 236 orang mengalami luka-luka.

Gempa terjadi pada pagi hari ketika sebagian umat Muslim sedang melakukan ibadah sholat subuh berjamaah. Sebab itu pula upaya evakuasi petugas gabungan kini diarahkan pada reruntuhan rumah ibadah. "Kami memperkirakan masih banyak korban karena kami menemukan banyak sandal di depan masjid," kata Jurubicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sutopo Purwo Nugroho.

Meski demikian tim penyelamat gabungan masih mengeluhkan kurangnya personil dan alat berat untuk mempercepat proses evakuasi. Terutama kawasan di utara dan timur Lombok yang terkena dampak paling parah hingga kini masih sulit diakses. Najmul Akhyar, Bupati Lombok Utara mengklaim wilayahnya mengalami kerusakan hingga 80%.

Keluhan serupa dilayangkan Rumah Sakit Umum Daerah Mataram (RSUD) yang terpaksa merawat pasien di luar gedung lantaran kurangnya fasilitas atau kerusakan akibat gempa. "Apa yang kami butuhkan adalah tenaga medis, kami kekurangan staf. Kami juga membutuhkan obat-obatan," kata Supriadi, Jurubicara RSUD Mataram.

rzn/yf (ap,rtr)