WHO: Kasus Baru COVID-19 di Luar Cina Lebih Tinggi Dibanding Pusat Wabah | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 03.03.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

COVID-19

WHO: Kasus Baru COVID-19 di Luar Cina Lebih Tinggi Dibanding Pusat Wabah

WHO menyebut kasus baru COVID-19 di luar Cina mencapai hampir sembilan kali lebih tinggi, dibanding yang terjadi di pusat wabah pertama kali dalam 24 jam terakhir. Angka kematian global telah melampaui 3.000 orang.

Jumlah kasus pasien terinfeksi virus corona (COVID-19) di seluruh dunia terus mengalami peningkatan setiap harinya. Kepala Badan Kesehatan Dunia (HWO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan dunia berada di “wilayah yang belum dipetakan.”

“Kami belum pernah melihat patogen pernapasan yang mampu melakukan penularan di antara masyarakat (community transmission), tetapi penyakit ini juga dapat diatasi dengan tindakan yang benar," kata Tedros dalam jumpa pers.

Penyebaran COVID-19 ini hampir sembilan kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan yang terjadi di pusat penyebaran wabah pertama kalinya, dalam 24 jam terakhir.

Ada berapa kasus di dunia?

Lebih dari 90.000 kasus telah dikonfirmasi terjadi di lebih dari 60 negara, dengan jumlah total kematian mencapai 3.100 orang. Sebagian besar kematian akibat  virus COVID-19 terjadi di Cina. Namun, dalam pengumuman terbaru pada  hari Selasa (03/02), pemerintah Cina mengumumkan bahwa kasus COVID-19 di negaranya telah menurun.

Jumlah kasus baru di Cina dalam 24 jam terakhir berada di angka 125 dan disebut sebagai yang terendah sejak 21 Januari 2020. Pemerintah Cina juga mengatakan sebanyak 59% orang yang didiagnosis terinfeksi COVID-19 atau sekitar 80.151 orang telah dinyatakan pulih.

Sementara, Korea Selatan mencatat kasus baru dengan jumlah tertinggi di luar Cina, yakni lebih dari 4.800 kasus terinfeksi COVID-19.

Kemudian Amerika Serikat, yang sejauh ini berada di antara negara-negara yang paling tidak terpengaruh COVID-19, telah mengkonfirmasi kematian keenam akibat penyakit ini pada Senin (02/03). Semua kematian di AS akibat COVID-19 terjadi di negara bagian Washington.

Bagaimana situasi di Eropa?

Uni Eropa telah mengkonfirmasi lebih dari 2.100 kasus, dengan Italia sebagai negara yang paling parah. Pihak berwenang Italia mengumumkan terjadi lebih dari 2.000 kasus COVID-19 di negaranya. Laporan terakhir pada Senin (02/03) sebanyak 52 orang yang dites positif COVID-19 di Italia telah meninggal.

Di Jerman, jumlah kasus baru terus meningkat dalam 24 jam terakhir. Negara bagian timur Thuringen dan Bradenburg melaporkan kasus pertama mereka pada Senin (02/03), menjadikan jumlah total terinfeksi di negara itu menjadi 157 kasus. Pada hari yang sama, Uni Eropa telah menaikkan tingkat risiko dari “rendah ke sedang” menjadi “sedang ke tinggi”.

Di mana kasus-kasus baru?

Penyebaran virus ini terjadi di sejumlah kota di dunia, termasuk New York, Moskow, dan Berlin. Sejumlah negara untuk pertama kalinya mengonfirmasi kasus positif COVID-19 pada Senin (02/03) seperti Arab Saudi, Indonesia, Latvia, Maroko, Tunisia, Senegal, Yordania, dan Portugal.

Bagaimana dampak ekonominya?

Negara-negara di seluruh dunia bersiap dihadapkan pada kemerosotan ekonomi akibat wabah tersebut. Dana Moneter Internasional mengatakan perkiraan pertumbuhan ekonomi global kemungkinan akan mengalami penurunan.

Namun, duta besar Cina untuk PBB Zhang Jun mengatakan bagaimanapun negaranya tetap yakin mampu mencapai tujuan ekonomi di tahun 2020, meskipun ada dampak negatif dari COVID-19.

Sementara, Bank Sentral Eropa mengatakan siap untuk mengambil tindakan untuk mengatasi kekhawatiran terhadap ekonomi global.

"Kami siap untuk mengambil langkah-langkah yang sesuai dan tepat sasaran, sebagaimana yang diperlukan dan sepadan dengan risiko yang mendasarinya," ujar Kepala Bank Sentral Eropa, Christine Lagarde.

Para menteri keuangan negara-negara G7 akan mengadakan rapat pada Selasa (03/03) untuk mengatasi masalah ketidakpastian ekonomi global.

Los Angeles Amerika Serikat (Getty Images/AFP/M. Ralston)

Warga AS memborong peralatan, seperti tisu, makanan dan air mineral.

Sudahkah ada vaksin?

Dilansir Reuters, perusahaan farmasi terbesar Amerika Serikat (AS) Pfizer mengatakan telah mengidentifikasi senyawa antivirus yang berpotensi mengobati virus corona.

Pfizer mengatakan sedang bekerja dengan pihak ketiga untuk menguji senyawa dan jika berhasil akan memulai pengujiannya pada akhir tahun 2020.

Presiden AS Donald Trump mendesak perusahaan farmasi untuk mengembangkan vaksin dengan cepat. Sementara, Wakil Presiden AS Mike Pence mengatakan pengobatan untuk virus corona bisa tersedia pada musim panas atau awal musim gugur.

"Vaksin mungkin tidak tersedia sampai akhir tahun ini atau awal tahun berikutnya, tetapi pengobatan kepada orang-orang yang terkena virus corona dapat tersedia pada musim panas atau awal musim gugur," kata Pence pada konferensi pers.

pkp/rap (Reuters, AFP)