1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Bundeswirtschaftsminister Habeck in Katar
Menteri Rkonomi Jerman Robert Habeck (kiri) dengan Menteri Energi Qatar, Saad Sharida al-Kaabi (kanan)Foto: Bernd von Jutrczenka/dpa/picture alliance

Menteri Ekonomi Jerman: "Masa-Masa Nyaman Sudah Berakhir "

Jens Thurau
23 Maret 2022

Selama tiga hari Menteri Ekonomi Jerman Robert Habeck mengunjungi negara-negara Arab untuk membahas kerja sama energi. Jerman terutama ingin melepaskan diri dari ketergantungan energi dari Rusia.

https://www.dw.com/id/wawancara-dengan-menteri-ekonomi-jerman-robert-habeck/a-61212803

Menteri Ekonomi merangkap Wakil Kanselir Jerman Robert Habeck datang ke Qatar terutama untuk membuat perjanjian tentang pemasokan gas cair (LNG), karena Qatar adalah salah satu produsen LNG utama dunia. Di Uni Emirat Arab disepakati kerja sama pengembangan bahan bakar hidrogen. Koresponen DW Jens Thurau mengiringi kunjungan penting ke Arab dan sempat melakukan wawancara dalam perjalanan kembali ke Berlin. Berikut ringkasan wawancaranya.

DW: Alasan kunjungan Anda yang direncanakan dalam waktu sangat singkat adalah serangan Rusia ke Ukraina. Terutama kenyataan bahwa selama ini Jerman sangat bergantung pada pasokan energi dari Rusia dan hal itu harus diakhiri secepatnya. Apakah kunjungan ini menurut Anda berhasil?

Robert Habeck: Itu baru akan kita lihat pada minggu-minggu dan bulan-bulan yang akan datang. Karena bukan saya yang membuat perjanjian, melainkan perusahaan (Jerman). Saya hanya menyiapkan kerangka kooperasinya saja. Dengan Uni Emirat Arab kami sudah memiliki kemitraan energi sejak lama, terutama dalam kaitan dengan perlindungan iklim, bahan bakar hijau dan pembangunan kapasitas energi regeneratif. Sekarang ditandatangani lima perjanjian kerja sama. Jadi, ya. Ini cukup berhasil. Di Qatar fokusnya adalah pemasokan gas cair ke Jerman. Dan dalam hal ini saya cukup optimistik. Qatar adalah sebuah negara dan sekaligus sebuah perusahaan, jadi saya kira-kira bisa memahami, apa kepentingan mereka. Saya pikir semuanya bisa berjalan baik. Perusahaan-perusahaan kami sekarang akan memulai pembicaraan.

Robert Habeck (kiri) dengan koresponden DW Jens Thurau (kanan)
Robert Habeck (kiri) dengan koresponden DW Jens Thurau (kanan) dalam perjalanan dengan pesawat kembali ke Berlin dari Abu Dhabi (21/03/2022)Foto: Jens Thurau/DW

Setelah invasi Rusia, Kanselir Olaf Scholz berbicara tentang sebuah era baru bagi Jerman. Di Eropa, semua orang menyadari bahwa ini memang perkembangan yang akan membawa perubahan besar. Apakah ada kesadaran seperti ini di negara-negara Teluk?

Semua mitra bicara menyadari, bahwa Jerman sekarang akan keras menghadapi Rusia. Bahwa proyek pipa gas Nord Stream 2 sudah berakhir, sekalipun begitu Jerman tetap akan fokus pada perlindungan iklim, bahwa di Qatar hak-hak pekerja harus diperbaiki dan kami sudah mengeritik situasinya, bahwa Emirat menerima kedatangan penguasa Suriah Assad dan kami mengecamnya. Dari pandangan negara-negara Arab, mereka ditembaki dan diserang para teroris, tapi Jerman dan Barat tidak memberi bantuan. Sikap Barat terhadap Iran tidak jelas, dan negara-negara Arab harus ikut menanggung akibatnya. Dan kalian baru datang kepada kami, kalau kalian perlu bantuan, itu yang mereka sampaikan kepada saya secara gamblang.

Pertanyaan yang dilemparkan kepada kami sekarang adalah: Apakah yang kalian butuhkan itu proyek jangka panjang, atau kalian hanya ingin bantuan jangka pendek saja, lalu setelah itu kalian akan berbalik meninggalkan kami lagi.

Jadi, yang harus saya jelaskan di sini kepada mereka adalah, kebutuhan kami untuk energi hijau adalah jangka panjang, demikian juga keputusan untuk melepaskan ketergantungan dari Rusia. Saya pikir, itu cukup berhasil.

Anda menjabat sejak Desember tahun lalu, dan waktu itu belum ada perang. Bagaimana perang ini mengubah Anda, dan mengubah kebijakan koalisi Merah-Kuning-Hijau?

Bagi saya pribadi, ini bukan hal baru. Karena politik selalu berkaitan dengan tanggung jawab yang harus dipikul, dan saya tahu bahwa saya harus mengambil keputusan-keputusan yang tidak populer, yang sulit, yang menyusahkan orang. Mungkin juga keputusan yang tidak disetujui oleh mayoritas, tetapi tetap harus diambil.

Namun, tentu saja saya tidak membayangkan harus mengambil keputusan-keputusan mendasar dengan latar belakang perang. Sekarang semuanya harus lebih fokus, dipertimbangkan lebih serius. Keputusan untuk menyalurkan senjata ke Ukraina, melengkapi peralatan militer Bundeswehr, menjatuhkan sanksi-sanksi. Dan kita masih belum tahu, langkah balasan apa yang direncanakan Putin. Rusia punya senjata nuklir. Semua itu sangat serius, itulah situasi yang berubah. Tidak ada lagi masa-masa nyaman. Tapi saya juga tidak pernah mengharapkan bahwa semuanya akan berjalan mudah.

*Wawancara untuk DW dilakukan oleh Jens Thurau.