Warga Jerman Hadapi Krisis Corona Antara Sikap Santai dan Kekhawatiran | JERMAN: Berita dan laporan dari Berlin dan sekitarnya | DW | 08.04.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

wabah corona

Warga Jerman Hadapi Krisis Corona Antara Sikap Santai dan Kekhawatiran

Warga di Jerman terutama mengkhawatirkan situasi ekonomi, tetapi tidak terlalu khawatir dengan kondisi kesehatannya. Itulah hasil beberapa jajak pendapat aktual soal krisis corona.

Keluarga Jerman di Würzburg (picture-alliance/HMB Media/ Heiko Becker)

Foto ilustrasi suasana corona di Jerman

Apakah virus corona dan penyebaran COVID-19 membuat warga di Jerman dirundung ketakutan? Hasil jajak pendapat terbaru soal itu baru-saja dirilis perusahaan asuransi R+V. Bagi peneliti politik dan sosial Manfred Schmidt, hasilnya cukup mengejutkan. Sejak 15 tahun dia memimpin pelaksanaan survei-survei untuk R+V.

Selain kekhawatiran tentang mundurnya ekonomi, warga di Jerman ternyata tidak mencemaskan kondisi kesehatan atau akan kehilangan pekerjaannya. "Mereka terkesan tidak khawatir atau cool saja," kata Manfred Schmidt.

Dibandingkan dengan hasil jajak pendapat tahun 2019, kekhawatiran warga Jerman mengenai situasi kesehatannya hanya naik 6 persen, dari 35 menjadi 41 persen. Padahal angka dari tahun 2019 adalah angka terendah sejak 1992. Hasil aktual 41 persen itu menjadi angka kedua terendah, sekalipun belakangan banyak sekali pemberitaan tentang ancaman pandemi corona.

Kondisi kesehatan individual "baik-baik saja"

"Ini berita yang cukup sensasioinal. Ini benar-benar mengejutkan bagi saya ", kata Manfred Schmidt. "Jadi kebanyakan orang berpikir, kondisi kesehatannya sendiri akan baik-baik saja, dan risiko terkena penyakit parah ada di tempat lain."

Namun dia mengatakan, hasil jajak pendapat itu boleh jadi bervariasi pada kelompok umur tertentu. "Risikonya pada warga usia lanjut lebih tinggi – tapi jajak pendapat ini melibatkan semua kelompok usia."

Sebelum pandemi corona menyebar di Jerman, lembaga jajak pendapat Infratest Dimap sudah melakukan jajak pendapat soal ancaman virus itu. Hasilnya, sekitar 51 persen warga Jerman ketika itu menyatakan khawatir bahwa mereka atau anggota keluarganya bisa tertular COVID-19.

Kekhawatiran terbesar: resesi ekonomi

Semua jajak pendapat menunjukkan, kekhawatiran terbesar warga Jerman adalah kemunduran ekonomi. Dalam jajak pendapat R+V, angkanya bahkan melonjak tinggi dibandingkan dengan angka dari 2019, yaitu naik 23 persen menjadi 58 persen.

Namun kekhawatiran akan terjadinya resesi ekonomi ternyata tidak dibarengi dengan kehawatiran hilangnya tempat kerja. Hanya 25 persen warga yang menyatakan khawatir akan kehilangan pekerjaan. Dan itu sama tingginya dengan angka dari tahun 2019. Hasil dari 2019 dan 2020 adalah angka terendah sejak 30 tahun.

Martin Schmidt mengatakan, rendahnya kekhawatiran kehilangan tempat kerja itu berkaitan dengan banyaknya kebijakan yang diluncurkan pemerintah Jerman untuk mencegah PHK massal. Sebab itu, kebanyakan warga di Jerman menghadapi situasi pekerjaannya dengan tenang dan cukup santai.

Orang Jerman dikenal dsebagai pesimis

Jika diminta menilai situasi ekonomi secara umum, bukan secara individual, warga Jerman dikenal sebagai pesimis. Mereka biasanya menilai kondisi ekonomi secara umum jauh lebih buruk daripada kondisi ekonominya secara pribadi. 

Menurut lembaga jajak pendapat Allensbach Institut, warga Jerman saat ini memandang situasi ekonomi secara umum dengan sangat pesimistis. Jajak pendapat Allensbach Institut bulan Maret lalu menunjukkan, hanya 24 persen warga Jerman yang memandang situasi umum 12 bulan ke depan dengan optimistis. Inilah angka terendah dalam jajak pendapat semacam itu yang dilakukan Allensbach Institut sejak pendiriannya tahun 1949.

Dalam semua jajak pendapat tentang situasi umum di masa corona, mayoritas warga Jerman menilai pemerintah telah melakukan tugasnya dengan baik. Menurut survey R+V, hanya 46 persen yang menganggap pemerintah kewalahan dengan situasi sekarang, bandingkan hasil surveri pada krisis keuangan 2010, dengan 62 persen, dan pada krisis pengungsi 2016, dengan 65 persen. (hp/ml)

Laporan Pilihan