Warga Afghanistan Bersiap Hadapi Ancaman Taliban | Fokus | DW | 05.03.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Warga Afghanistan Bersiap Hadapi Ancaman Taliban

Taliban sekali lagi menebar ancaman ke seantero Afghantisan. Penduduk pun diterjang ketakutan. Tapi ada juga yang cuma menganggapnya sebagai propaganda khas kelompok puritan itu.

Penduduk desa di Kandahar

Penduduk desa di Kandahar

Kehidupan di utara Afghanistan yang relatif tenang, nyaris tak terusik oleh pertempuran sengit antara pasukan perdamaian internasional dengan kelompok pembangkang Taliban di bagian selatan dan timur negeri itu. Sebagian besar warga di wilayah utara memang lebih suka bekerja agar asap dapur tetap mengepul ketimbang memikirkan perang yang tidak kunjung mereda.

Bahkan ancaman Taliban untuk menjadikan musim semi tahun ini berdarah, cuma dianggap gertak sambal saja. Faktanya memang cukup menarik. Penduduk di Utara sangat yakin akan kekuatan pasukan internasional dan pemerintahan sendiri. Termasuk salah satunya Nurullah, seorang pembuat roti yang sehari-hari menjajakan dagangannya di kota Mazar-e Sharif .

"Orang-orang taliban itu hanya omong kosong saja. Mereka tidak akan bisa menghancurkan negara ini dengan teror karena tidak didukung keuangan dan persenjataan yang memadai."

Hal senada juga dituturkan oleh Reza yang setiap hari berdagang kaca jendela di pusat kota. Menurutnya, Ancaman Taliban cuma propaganda.

"Setahu saya apa yang sedang dilakukan Taliban sekarang ini adalah perang urat syaraf. Mereka hanya ingin menakut-nakuti masyarakat saja. Tidak lebih."

Gambaran yang sama-sekali berbeda bisa dilihat beberapa ratus kilometer ke arah selatan. Tepatnya di ibukota Kabul. Masyarakat di kota ini lebih lama menderita di bawah kekuasaan Taliban ketimbang saudaranya di pojok utara sana.

Taliban memang kerap mengutuk gaya hidup yang biasa dipraktikan warga Kabul sehari-harinya. Perempuan-perempuan kota Kabul yang sebagian besar tidak berjilbab misalnya sering dicap sebagai pendosa. Sementara kaum lelaki acap dituding sebagai kafir, cuma karena mereka membiarkan isteri-isterinya berkarir dan bekerja di ruangan yang sama dengan laki-laki.

Serangan bom yang terjadi di Kabul akhir-akhir ini juga memaksa sebagian besar warga yakin, bahwa bayang-bayang Taliban belum betul-betul sirna. Misalnya saja Muhammad Rafih, seorang bocah yang kini duduk di bangku sekolah dasar. Tidak seperti anak-anak lainnya di Indonesia, Rafih tumbuh dan besar di tengah-tengah kecamuk peperangan.

"Saya sangat takut. Saya benar-benar berharap, Taliban tidak serius dengan ancamannya."

Ketatnya penjagaan pasukan internasional setidaknya membuat Rafih dan penduduk Kabul lainnya merasa sedikit aman. Tapi hal ini tidak dapat dirasakan oleh warga yang mendiami kawasan timur dan selatan Afghanistan.

Terutama di Provinsi Kandahar atau Helmand yang selama ini dijadikan basis pergerakan Taliban, pasukan puritan itu sudah lama menjadi bagian keseharian warga setempat. Tidak satu hari-pun terlewat tanpa ada serangan bom bunuh diri atau serangan balasan dari pasukan internasional. Di wilayah selatan dan timur, kehadiran Taliban dan pasukan perdamaian internasional malah sama-sama menebar ketakutan di antara penduduk. Abdul Rauf, seorang warga Kandahar menuturka:

"Kami di kota lebih takut terhadap serangan Taliban, sementara penduduk desa takut akan serangan balasan pasukan internasional di desa mereka."