Walhi: Stop Sementara Perizinan Pembangunan Komersial | Fokus | DW | 06.02.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Walhi: Stop Sementara Perizinan Pembangunan Komersial

Wahana Lingkungan Hidup WALHI Jakarta menyerukan pemerintah DKI Jakata untuk menghentikan sementara pemberian izin mendirikan bangunan untuk pusat perbelanjaan, terutama di kawasan serapan air. Ditengarai banjir besar yang melanda Jakarta, itu akibat parahnya kerusakan ekosistem di ibukota tersebut. Walhi menilai perlu ada perubahan fundamental oleh pemerintah untuk mencegah banjir di Indonesia.

Kerusakan lingkungan turut andil dalam banjir di Jakarta

Kerusakan lingkungan turut andil dalam banjir di Jakarta

Wahana Lingkungan Hidup WALHI meyakini biang keladi banjir yang terjadi di Jakarta dan sekitarnya disebabkan oleh parahnya kerusakan lingkungan. Untuk itu Walhi menyerukan pemerintah untuk mengoreksi tata ruang kota. Sebab selama ini, banyak daerah tangkapan air yang berubah fungsi menjadi lokasi pusat perbelanjaan. Direktur WALHI Jakarta, Slamet Daroyni mengatakan sudah waktunya izin tersebut dihentikan sementara.

"Dalam pemanfaatan lahan terjadi alih fungsi lahan yang signifikan. Daerah resapan air, baik hutan kota, taman kota, mengalami penurunan yang signifikan sejak tahun 1997 hingga 2007 ini dalam 10 tahun terakhir. Tahun 1985 sampai 2005 turun jadi 20 persen. Tahun 2003 ruang terbuka hijau tinggal 13 persen. Ini belum kita lihat kawasan parkir air, air tidak mendapatkan tempat malah jadi ancaman bagi warga kota.“

Banjir yang terjadi tidak terlepas dari kehancuran lingkungan yang berakibat pada perubahan iklim. Hal ini juga diamini Badan Meterologi dan Geofisika BMG, yang menyatakan cuaca lebih ekstrim bahkan terjadi di tahun 2002. Sedangkan banjir yang terjadi di tahun ini, tidak jauh berbeda dari cuaca di tahun-tahun sebelumnya. Ida Pramwardhani, petugas BMG menuturkan:

"Banjir penyebabnya kompleks. Cuma cuacanya sendiri lebih ekstrim 2002. memang seperti itu setiap tahunnya. Kalau tahun 2002 pola hujannya berbeda, bukan hanya Bogor yang kena tapi juga Jabotabek, tapi tahun ini Jakarta duluan baru ke Bogor, yang hujannya deras banget ini wilayah Bogor-Puncaknya begitu. Kalau 2002 bersamaan Jakarta dan Bogor, jadi selain murni dari Jakarta, juga dari Bogor.“

Senada dengan WALHI, Ahmad Safruddin, dari Indonesian Lead Information Center, menyayangkan selama ini berkurangnya ruang terbuka hijau di Jakarta. Idealnya sebuah kota harus memiliki lebih dari 30 persen ruang terbuka hijau. Perizinan bagi pembangunan komersial menurutnya sudah melebihi batas.

  • Tanggal 06.02.2007
  • Penulis Ayu Purwaningsih
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CIvB
  • Tanggal 06.02.2007
  • Penulis Ayu Purwaningsih
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CIvB