Veronica Koman, Pengacara Yang Menolak Menyerah Tentang Papua | INDONESIA: Laporan topik-topik yang menjadi berita utama | DW | 23.10.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Hak Asasi Manusia

Veronica Koman, Pengacara Yang Menolak Menyerah Tentang Papua

Diintimidasi dan datanya dibocorkan, pengacara hak asasi manusia, Veronica Koman, mengatakan masalah Papua adalah sesuatu yang lebih besar daripada hanya tentang dirinya.

Veronica Koman, pengacara hak asasi manusia yang dicari oleh polisi Indonesia akibat sebuah publikasi di Twitter yang ditengarai memanasi kerusuhan di Papua beberapa waktu lalu memiliki sebuah tato di setiap pergelangan tangannya.

Yang pertama, diukir ketika dia berusia akhir remaja dan memiliki rasa nasionalisme yang kuat, bertuliskan "Indonesia" dan, menurutnya, ini berarti bahwa "Indonesia mengalir melalui nadi saya."

Yang kedua dia dapatkan beberapa tahun kemudian setelah "terekspos masalah keadilan sosial," dan menjadi aktivis pembela dan advokasi penentuan nasib sendiri bagi Papua sebagai propinsi paling timur Indonesia.

Tato itu bertuliskan "DILLIGAF" sebuah singkatan untuk pernyataan yang kira-kira berarti "Apakah saya terlihat seperti peduli?"

Data pribadi bocor

"Saya sebenarnya mengalami serangan sistematik yang aneh ini, sebut saja, secara online sejak hampir dua tahun lalu, saya pikir," ujar Koman dalam sebuah wawancara di Australia, tempat dia sekarang tinggal.

Ancaman dan serangan datang dalam video yang ditayangkan di YouTube atau komentar dari akun anonim di media sosial.

Ancaman itu juga termasuk ancaman kematian, hasutan untuk melakukan pelecehan seksual dan penghinaan rasis, demikian ditunjukkan oleh materi online yang ditinjau oleh Reuters. Termasuk juga publikasi informasi pribadi tentang dia dan keluarganya.

"Saya tidak pernah mempublikasikan sesuatu yang pribadi tentang saya di media sosial. Bahkan foto ketika sedang bersantai dengan teman-teman. Justru karena saya tahu bahwa pekerjaan saya sangat berisiko," katanya.

"Itu adalah informasi yang hanya tersedia pada kartu (identifikasi) keluarga .... Saya merasa itu didukung oleh negara, kalau tidak siapa lagi?"

Ditanya tentang komentar Veronica Koman terkait pembocoran data pribadinya, Frans Barung Mangera, Juru Bicara Kepolisian Jawa Timur yang menyelidiki kasus Koman, mengatakan melalui telepon bahwa "tidak mungkin" petugas membagikan informasi tersebut. Ia juga memberikan cacatan bahwa pengacara itu telah memiliki banyak musuh.

Juru bicara kepolisian nasional tidak dapat dihubungi untuk dimintai komentar, tetapi seorang pejabat di badan intelijen negara mengatakan tidak akan mengungkapkan data pribadi semacam itu karena melindungi hak semua orang.

Koman mengatakan makian online terhadapnya meningkat sejak dia didakwa pada bulan September lalu. Koman, yang menggunakan akun Twitter-nya untuk berbagi video, foto, dan mengomentari situasi di Papua, telah membantah bahwa ia telah bersalah dan Amnesty International Indonesia mendesak polisi untuk membatalkan tuntutan terhadap dirinya.

Belum selesai

Demonstran di Papua memprotes makian bernada rasis yang kemudian memicu kerusuhan di beberapa kota. Ratusan orang mengungsi dan puluhan tewas, termasuk dari pihak sipil dan aparat keamanan.

Koman mengatakan bahwa dia meninggalkan Indonesia setelah diintimidasi karena mewakili pengunjuk rasa Papua yang ditangkap di kota Surabaya Jawa Timur dan merasakan adanya ancaman langsung terhadap keamanan dirinya.

Polisi Indonesia mengatakan mereka telah meminta Red Notice dari Interpol untuk Koman. Red Notice ini dapat membuat pengacara ini diekstradisi kembali ke Indonesia untuk bisa diadili. Seorang juru bicara kepolisian Indonesia tidak menanggapi pertanyaan tentang apakah Red Notice ini telah dikeluarkan. Kepolisian Federal Australia juga mengatakan tidak mengomentari kasus-kasus individual.

Koman mengatakan orang tuanya terpaksa pindah dari rumah mereka selama sebulan lebih pada awal tahun ini setelah sekitar 10 aparat polisi datang mencarinya ke rumah itu. Mereka juga ketakutan dengan jumlah serangan yang diarahkan pada putri mereka, ujar Koman.

"Mereka terus memohon saya untuk berhenti (bekerja terkait Papua) sampai hari ini sebenarnya. Mereka benar-benar merasa terintimidasi."

Selama berada di Australia, Koman telah bertemu dengan anggota parlemen dan komisaris tinggi Hak Asasi Manusia Michelle Bachelet, dan berjanji untuk terus melakukan advokasi untuk masalah Papua.

"Masalah ini (Papua) sebenarnya belum selesai," katanya. "Ini lebih besar daripada hanya tentang saya atau keluarga saya."

ae/vlz (Reuters) 

Laporan Pilihan