Venus Express | Iptek | DW | 19.04.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Iptek

Venus Express

Misi ruang angkasa yang bertujuan untuk mengumpulkan data-data mengenai planet tetangga Bumi, Venus.

default

Lima bulan setelah peluncurannya, wahana ruang angkasa Eropa ’Venus Express’ tiba di tempat tujuan. Keberhasilan ini merupakan momen bersejarah bagi para insinyur di ruang kendali Badan Antariksa Eropa (ESA), di Darmstadt, Jerman.

Wahana ruang angkasa berukuran 1,7 kali 1,7 kali 1,4 meter itu diluncurkan tanggal 9 November 2005 dari Baikonur Cosmodrome di Kazakhstan dan menuju planet Venus dengan kecepatan mencapai 30.000 kilometer per jam. Saat mendekati orbit planet, mesin jet menghentikan laju wahana dan mendorongnya ke posisi yang tepat. Setelah 50 menit, gaya gravitasi Venus menangkap wahana ’Venus Express’ dan menahannya dalam orbit. Badan Antariksa Eropa (ESA) berhasil menempatkan bulan buatan dalam orbit planet Venus yang berada 120 juta kilometer dari bumi.

Menyingkap tabir rahasia planet Venus – itulah tujuan utama misi ESA. Planet tetangga Bumi itu terakhir kali dikunjungi manusia sekitar 30 tahun lalu. Antara tahun 60an dan 70an Badan Antariksa Amerika dan Uni Soviet mengirimkan sejumlah wahana ruang angkasanya ke Venus. Kini giliran Badan Antariksa Eropa (ESA) meluncurkan misi Venus pertamanya. Wahana ’Venus Express’ mengitari planet yang beradius sekitar 6.000 kilometer itu dari ketinggian 250 kilometer. Ketua misi penerbangan ESA, Gerhard Schwehm, menjelaskan, dari jarak tersebut wahana ruang angkasa ESA dapat mendata perubahan yang terjadi di permukaan planet Venus.

Wahana ’Venus Express’ bernilai 220 juta Euro dilengkapi beragam sensor. Antara lain untuk membuat foto permukaan, mengukur suhu dan menetapkan susunan atmosfir Venus. Selain itu, wahana rakitan Badan Antariksa Eropa itu mendata secara rinci proses-proses kimia yang terjadi di permukaan planet tersebut. Untuk menembus atmosfir tebal Venus yang 97 persen terdiri dari karbondiksida dengan gumpalan awan asam belerang, ’Venus Express’ dilengkapi kamera infra merah. Gerhard Schwehm memuji, kamera itu bahkan dapat menembus atmosfir Venus di bagian yang terselubung langit malam, yaitu bagian yang tidak menghadap matahari.

Walau wahana ’Venus Express’ dilengkapi teknologi termutakhir penerbangan ruang angkasa, namun, teknologi tersebut hanya dapat bertahan beberapa jam saja di permukaan Venus. Akibat efek rumah kaca, suhu permukaan Venus mencapai 400 derajat Celcius. Karena itu, wahana ESA ’Venus Express’ hanya mengitari planet tersebut selama dua tahun Venus atau sekitar 500 hari Bumi tanpa mencoba melakukan pendaratan.