Utusan Khusus Eropa Solana Di Teheran | Fokus | DW | 06.06.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Utusan Khusus Eropa Solana Di Teheran

Usul yang diserahkan Solana dinilai positif oleh juru runding Iran Ali Larijani. Tapi belum tentu Iran menerima usul itu.

Solana, kiri, berjabat tangan dengan Menlu Iran Manouchehr Mottaki di Teheran

Solana, kiri, berjabat tangan dengan Menlu Iran Manouchehr Mottaki di Teheran

Pertemuan ini hanya merupakan serah terima, bukan untuk berembuk atau mengambil keputusan. Javier Solana berhadapan dengan Ali Larijani, juru runding terpenting Iran dalam soal atom, sekaligus orang kepercayaan pemimpin rohani Iran, Ayatollah Ali Chamenei, dan merangkap pula sebagai Sekjen Dewan Keamanan Nasional Iran.

Di lembaga itu pulalah akan dikaji tawaran dari Eropa, yang disetujui oleh AS, Rusia dan China. Artinya, semua anggota tetap dalam Dewan Keamanan PBB ditambah dengan Jerman. Imbalan yang terkandung dalam paket tawaran itu akan diberikan, bila Iran menghentikan program pengayaan uraniumnya. Presiden Ahmadinejad mencanangkan akan mengkajinya dengan seksama. Tetapi dikatakannya:

"Saya berjanji pada rakyat Iran -dan dunia barat juga perlu mendengarkannya-, bahwa produksi elemen bakar dan penggunaan energi atom untuk kepentingan damai adalah hak yang tidak dapat diganggu gugat dan Iran tidak bersedia untuk melakukan tawar-menawar dengan siapa pun."

Kata-katanya itu disambut dengan sorak-sorai massa. Dengan demikian kelihatannya akan ada jalan buntu. Tetapi dunia barat masih berharap bahwa Iran akan berubah pikiran bila melihat tawaran itu dari dua sisi. Yaitu tawaran yang disertai ancaman. Selain tawaran reaktor air ringan dan reaktor untuk keperluan riset yang berfungsi dengan uranium yang tidak dapat digunakan untuk membuat senjata atom, rincian lainnya masih belum diumumkan.

Tetapi nampaknya tercantum pula pencekalan, pembekuan rekening bank dan embargo senjata yang diharapkan disetujui pula oleh Rusia dan Cina. Inilah yang beelum jelas. Akhir pekan lalu pemimpin rohani Iran, Chamenei sudah mengancam AS:

"Bila Amerika melakukan sedikit saja kesalahan dalam kasus Iran, maka pemasokan energi ke sana akan terancam. Ini harus diketahui!"

Sesudahnya harga minyak langsung naik lagi, melebihi 73 Dollar per barrel. Dengan demikian, sejak awal tahun harga minyak sudah naik sekitar 20 persen.
Tetapi Menlu AS Condoleezza Rice mengemukakan, ancaman Iran itu tidak perlu dinilai terlalu berbobot. Pernyataan Chamenei belumlah merupakan penolakan atas tawaran yang diajukan. Reaksi Iran atas tawaran yang dibawa oleh Javier Solana dinantikan dalam minggu-minggu mendatang.