Upaya Para Seniman Melestarikan Bangunan Tua Bersejarah di Gaza | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 25.12.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Sosial

Upaya Para Seniman Melestarikan Bangunan Tua Bersejarah di Gaza

Tembok bata megah yang berdebu dan retak di sekolah al-Kamalaia, Gaza, sudah berusia ratusan tahun. Kini ia direnovasi oleh sekelompok seniman dan relawan demi mengembalikan keindahan bangunan tua bersejarah tersebut.

Proses renovasi bangunan bersejarah sekolah al-Kamalaia

Sejumlah seniman dan relawan merenovasi bangunan bersejarah sekolah al-Kamalaia

Terletak di jantung kota Gaza, bangunan sekolah al-Kamalaia yang berdiri sejak era Mamluk adalah salah satu dari sejumlah bangunan bersejarah yang terbengkalai. "Bangunan itu kondisinya sangat rusak dan menyedihkan, bahkan menjadi tempat pembuangan sampah," kata Abdullah al-Ruzzi, seorang seniman dan relawan.

Proses renovasi sekolah al-Kamalaia

Arsitek dan para pekerja merenovasi sekolah al-Kamalaia

Al-Ruzzi dan seniman lainnya meluncurkan program Mobaderoon atau inisiator, yang berupaya "menyelamatkan" rumah dan bangunan terbengkalai yang sudah berdiri sejak zaman Kesultanan Mamluk dan Kekaisaran Ottoman.

Hampir 200 rumah bersejarah itu terancam dibongkar karena pembangunan kota baru. “Kurangnya kesadaran masyarakat dan pertimbangan ekonomi oleh pemilik merupakan ancaman terbesar bagi bangunan sejarah ini,” kata Ahmed al-Astal, Direktur Iwan, Institut Sejarah dan Warisan Universitas Islam Gaza. "Rumah-rumah ini adalah identitas kami, tetapi ketidaktahuan menyebabkannya hancur."

Jalur Gaza yang kecil dan dipadati dua juta orang yang tinggal di kawasan seluas 300 kilometer persegi tersebut, membuat para ahli dan sukarelawan khawatir struktur bangunan bersejarah itu akan hilang.

Pertumbuhan populasi, konflik Israel dan Hamas, telah berkontribusi pada penghapusan banyak tanda sejarah Gaza yang berasal dari 5.000 tahun lalu. Salah satunya seperti buldoser Hamas yang telah menghancurkan sebagian besar pemukiman langka berusia 4.500 tahun dari Zaman Perunggu untuk dijadikan jalan bagi proyek perumahan.

Tidak banyak upaya pelestarian

Mobaderoon adalah salah satu program dari sedikit organisasi yang berusaha melestarikan situs kuno di Gaza. Upaya yang dilakukan biasanya terbatas ruang lingkup dan tidak memiliki rencana sistematis.

Tim membutuhkan waktu dua minggu untuk membuang sampah dari sekolah al-Kamalaia, yang namanya diambil nama Sultan Mamluk. Setiap hari, remaja putra dan putri berkumpul di sana, menyapu lantai yang berdebu, menyikat batu bata dan jendela penyangga dengan bingkai kayu.

Relawan membersihkan ruangan kelas di sekolah al-Kamalaia

Seorang seniman dan relawan wanita membersihkan ruangan kelas di sekolah al-Kamalaia yang berusia 200 tahun. Bangunan yang berlokasi di kawasan kota tua Gaza ini sudah lama terbengkalai

Setelah renovasi selesai, al-Ruzzi mengatakan tujuannya adalah untuk mengubah bangunan menjadi tempat kegiatan budaya dan seni karena fasilitas seperti itu hanya sedikit di Gaza.

“Ini satu-satunya sekolah yang masih mempertahankan arsitekturnya, masih memiliki ruang kelas. Jelas bahwa sekolah ini digunakan sampai saat ini untuk pendidikan dan kegiatan menghafal Alquran karena berada di kota tua, "kata Jamal Abu Rida, Direktur Departemen Arkeologi di Kementerian Pariwisata Gaza.

Penduduk Gaza dilanda masalah keuangan, blokade Israel-Mesir, dan kini memerangi wabah virus corona. Kampanye untuk melindungi situs warisan dan arkeologi bukanlah prioritas utama, tetapi tetap mendapat sambutan baik.

“Inisiatif ini sangat penting karena tujuannya untuk melestarikan warisan budaya,” kata al-Astal.

Beberapa blok dari sekolah, ada tim lain yang sedang mengerjakan renovasi Istana Ghussein, dinamai sesuai nama keluarga yang telah memilikinya selama 200 tahun. Para pekerja mengikis batu bata untuk menghilangkan debu tebak, sementara lainnya melakukan pengukuran kusen pintu.

Renovasi Istana Ghussein

Seorang arsitek dan para pekerja merenovasi Istana Ghussein

Pengerjaan rumah ini dimulai pada bulan Agustus dan dijadwalkan selesai pada bulan Januari mendatang. "Terbengkalai cukup lama dan memiliki banyak retakan serta masalah lainnya,” kata Nashwa Ramlawi, arsitek yang memimpin restorasi. “Tempat itu memiliki warisan dan nilai budaya yang bagus. Kami akan mendedikasikannya untuk melayani komunitas; pusat budaya, layanan, atau kegiatan sosial yang terbuka untuk semua orang."

Proses renovasi Istana Ghussein

Proses renovasi Istana Ghussein

ha/rzn (AP)

Laporan Pilihan