Upaya Penyingkiran Sisi Gelap Pertumbuhan Ekonomi Cina
20 Juni 2008
Pada dasawarsa ini, China diperkirakan akan menghasilkan lebih banyak emisi gas dibandingkan dengan AS. Menteri Luar Negeri Jerman, Frank-Walter Steinmeier oleh sebab itu mencantumkan tema perlindungan lingkungan dan iklim dalam agenda kunjungannya di Cina baru-baru ini.
Saat Menteri Luar Negeri Jerman Frank-Walter Steinmeier mendarat di bandara Beijing 13 Juni lalu, kabut dan smog menutup ibukota Cina tersebut. Keadaan ini tampaknya sesuai dengan agenda lawatannya yang meliputi masalah lingkungan. Tak heran kalau sejumlah anggota delegasi yang mengikuti perjalanan kali ini, adalah pakar-pakar yang ada kaitannya dengan lingkungan. Misalnya, mantan Menteri Lingkungan Klaus Töpfer yang adalah Direktur Program Lingkungan PBB dan yang saat ini juga menjadi dosen tamu di Universitas Tongji di Shanghai. Selain itu, Profesor Ottmar Niederhofer juga turut serta. Dia adalah pakar papan atas untuk ekonomi lingkungan yang sedang menyusun laporan studi untuk pemerintah Cina mengenai tema politik iklim dan energi.
Pada saat jumpa pers bersama Menteri Luar negeri Cina, Steinmeier mengemukakan:
"Kami telah mencapai kesepakatan yang sangat nyata, yaitu kami harus memeriksa apakah kami dapat menjalin hubungan Jerman-Cina yang menyangkut dengan tema iklim."
Sehari setelah itu Menteri Luar Negeri Jerman Steinmeier membuka Forum Urbanisasi di Chongqing. Selama dua hari pakar Jerman dan Cina merembukkan bagaimana membuat megacities atau metropolitan saat ini dan ke depan yang lebih ramah manusia dan ramah lingkungan. Klaus Töpfer yang merupakan salah satu pembicara dalam forum itu mengatakan bahwa pemerintah Cina berasumsi, hingga 2030 sedikitnya 60 persen warganya akan tinggal di kota-kota. Jadi, masalah kesinambungan, perlindungan lingkungan dan perubahan iklim menentukan bagi kehidupan di kota-kota. Demikian Töpfer.
Profesor Andreas Oberheitmann yang saat ini bertugas di pusat penelitian lingkungan universitas ternama Beijing, Qinghua, bekerja dalam sebuah projek yang bertujuan memperbaiki kualitas kehidupan warga di kota Tangshan dan juga menghemat energi serta mengurangi emisi gas. Dia mengutarakan:
"Melalui renovasi bangunan-bangunan, warganya tidak lagi harus kedinginan dalam suhu kamar sekitar 13, 14 atau 15 derajat. Suhu kamar akan naik menjadi 21 derajat dan bersamaan dengan itu energi masih bisa dihemat."
Dalam Forum Urbanisasi diperdebatkan topik mengenai 'perlindungan alam yang harus menguntungkan' dan harus menarik dari segi ekonomi. Kembali Oberheitmann:
" Secara keseluruhan harus diakui bahwa saat ini yang diutamakan adalah pertumbuhan ekonomi. Namun warga Cina mengalami sendiri, pertumbuhan ekonomi tanpa penghematan energi akan merugikan lingkungan. Karena itu penduduk tentunya berminat pada perlindungan iklim, tapi mempertimbangkannya dengan pertumbuhan ekonomi."
Selanjutnya setelah serangkaian pembicaraan dengan mitra Cina, seorang anggota delegasi dalam lawatan Menteri Luar Negeri Jerman mengemukakan bahwa para pakar ekonomi Cina sangat meminati bagaimana perdagangan emisi di Eropa, bagaimana bentuk bantuan untuk energi terbarukan di Jerman dan bagaimana meningkatkan efisiensi energi. Atau misalnya bagaimana Jerman membangun pembangkit listrik tenaga nuklir yang ramah lingkungan.
Jerman memang banyak punya kemampuan canggih dalam teknologi lingkungan. Negara ini adalah pemasok terbesar instalasi energi angin. Ada sejumlah perusahaan Jerman yang terkenal di dunia untuk industri energi surya. Kini yang diharapkan adalah realisasi dari hubungan erat antara Cina dan Jerman dalam pertukaran ide, modal dan know-how. Demikian ditekankan pakar ekonomi iklim Edenhofer. (cs)