Upah Setara untuk Pekerjaan Sama | Sosial | DW | 23.03.2009
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Upah Setara untuk Pekerjaan Sama

Walaupun sudah lebih dari 30 tahun Jerman menerapkan "Upah yang setara untuk pekerjaan yang sama", akan tetapi pendapat perempuan Jerman lebih sedikit seperlima dibandingkan dengan gaji pria.

default

Walaupun dalam bidang yang sama, perempuan terima gaji lebih sedikit dibandingkan dengan pria

Bertepatan dengan Equal Pay Day atau Hari Kesetaraan Upah tanggal 20 Maret lalu, Komisi Eropa menjalankan kampanye promosi di berbagai kota Jerman, dengan seruan "Upah yang setara untuk pekerjaan yang sama". Itu pulalah yang dituntut oleh perhimpunan Business and Professional Women - Bisnis dan Perempuan Profesional. Dagmar Terbeznik dari organisasi itu mengemukakan, bahwa yang penting adalah perhatian dan kepekaan demi tercapainya kesetaraan upah dan gaji.

Banyak alasan yang berbeda satu sama lain, mengapa di Jerman dilakukan pembedaan upah untuk pekerjaan yang sama. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, perempuan Jerman lebih mengutamakan mutu pekerjaan mereka dan suasana di tempat kerja daripada bayaran yang diterimanya. Selain itu, elemen-elemen modern seperti gaji yang dikaitkan dengan prestasi dan kesepakatan untuk menentukan secara bebas gaji yang diterima, membuat perempuan semakin tersisihkan.

Demikian pula berdasarkan hasil penelitian terbaru, dalam soal pemberian tunjangan dan gratifikasi, perempuan berada jauh di belakang kaum pria. Masalahnya kaum perempuan tidak punya waktu untuk ikut mewujudkan proyek-proyek khusus atau kerja lembur. Itu disebabkan masih tetap berlakunya pembagian peranan tradisional dalam keluarga-keluarga di Jerman. Mitos bahwa kaum pria adalah pencari nafkah utama dan perempuan hanya bekerja untuk memperoleh penghasilan tambahan, tetap tidak tersingkirkan.

Silke Anger dari Lembaga Riset Ekonomi Jerman mempunyai dugaan yang beralasan, bahwa banyak perusahaan sudah sejak awal meenawarkan gaji yang lebih kecil kepada perempuan yang menikah. Kepala bagian personalia di perusahaan yakin, bahwa para perempuan yang menikah harus membagi energinya antara pekerjaan dan rumah tangga.

Menurut perhimpunan Bisnis dan Perempuan Profesional, ketimpangan upah itu juga disebabkan karena di perusahaan-perusahaan Jerman tidak ada transparansi dalam soal upah. Di banyak perusahaan bahkan ada anjuran untuk tidak membicarakan soal upah, seperti pengalaman Gabi Köster, yang bekerja sebagai kasir pada sebuah pasar swalayan.

Perhimpunan Bisnis dan Perempuan Profesional berniat mengupayakan agar perusahaan-perusahaan Jerman mau mencontoh kondisi di Swedia, di mana sebuah perusahaan tidak merahasiakan, siapa memperoleh gaji berapa. Berdasarkan pada informasi serupa itu, pembicaraan soal gaji dapat dilakukan secara terarah. Pertanyaanya, sehubungan dengan krisis dan adanya ancaman akan kehilangan tempat kerja, apakah sekarang ini merupakan saat yang tepat untuk menuntut upah atau gaji yang setara untuk pekerjaan yang sama kualitasnya?

"Saya pikir itu cocok untuk kapan saja. Konjungtur itu kan turun naik. Begitu juga kondisi di pasaran kerja. Tetapi bahwa pendapatan perempuan lebih kecil dari lelaki, itu sudah lama. Tuntutan persamaan upah sudah ada sejak gerakan perempuan yang pertama di Abad 19. Jadi bukan soal baru. Sudah waktunya kaum perempuan tidak tergantung lagi pada kaum pria di segi finansial. Keadaan menuntut kaum perempuan memikul tanggung jawab sendiri, sehingga dalam masyarakat harus dikembangkan struktur-struktur baru. Menurut saya tidak ada kaitan antara konjungtur ekonomi dan kesetaraan gaji perempuan dan laki-laki.“ Ungkap Dagmar Terbeznik dari perhimpunan Bisnis dan Perempuan Profesional. (dgl)