Upacara Pemakaman Saddam Hussein | Fokus | DW | 01.01.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Upacara Pemakaman Saddam Hussein

Setelah eksekusi dengan hukuman gantung hari Sabtu pagi lalu. Kemarin (31/12) jenazah Saddam Hussein dimakamkan di desa kelahirannya Awja. Sementara itu film rekaman video pelaksanaan eksekusi Saddam disebar luaskan lewat internet.

Makam Saddam Hussein di Awja

Makam Saddam Hussein di Awja

Film pendek selama dua setengah menit dengan kwalitas gambar maupun suara yang buruk kemungkinan besar diambil dari kamera telepon genggamsebagai penjaga keamanan. . Saat tali dilingkarkan ke leher Saddam dapat terlihat adanya kilatan lampu blitz dari foto kamera. Pria berusia 69 tahun itu tampak tenang dan tabah. Sesaat sebelum kematiannya, Saddam kembali mendapat provokasi dari para algojo pelaksana hukuman mati. Mereka meneriakkan nama Muktada al-Sadr penceramah radikal Syiah yang ayahnya dibunuh Saddam Hussein tahun 1999. Masih selama mantan diktator itu mengucapkan doa, pintu jebakan terbuka. Gambar akhir dari film itu menunjukkan tubuh Saddam Hussein yang terayun di tiang gantungan. Saddam meninggal dengan mata terbuka.

Hari Sabtu malam sebuah helikopter Amerika Serikat membawa jenazah Saddam dari Bagdad ke Tikrit. Minggu (31/12) pagi mantan presiden Irak itu dimakamkan di desa asalnya dekat kota Tikrit. Sekitar jam 4 subuh waktu setempat jenazahnya dimasukkan ke liang kubur. Hal ini dibenarkan pimpinan suku yang menjemput jenazah Saddam dari Bagdad dan membawanya ke kampung halamannya Awja. Desa di mana kedua anak lelaki Saddam Hussein, Udai dan Kusai juga dimakamkan, yang tiga tahun lalu tewas oleh tentara Amerika Serikat. Makam keluarga tersebut merupakan tempat peristirahatan terakhirnya. Upacara pemakaman mantan orang nomor satu Irak itu hanya dihadiri sejumlah orang. Sementara itu kota Tikrit dan sekitarnya diblokir ketat oleh aparat keamanan. Di provinsi tersebut dikenakan larangan keluar.

Pada awalnya, meskipun hukuman mati terhadap Saddam Hussein telah dilakukan, masih belum jelas dimana ia akan dimakamkan. Pemerintah di Bagdad mula-mula menolak menyerahkan jenazah mantan presiden Irak itu kepada pihak keluarga ataupun kelompok suku. Pihak berwenang sebenarnya ingin memakamkan Saddam di tempat yang dirahasiakan untuk menghindari makam itu menjadi tempat ziarah bagi pengikutnya. Pemimpin suku dan gubernur provinsi daerah asal Saddam akhirnya berhasil meyakinkan Amerika Serikat dan pemerintah Irak agar pemakaman Saddam Hussein dilakukan di Audja.

Bahwa mantan diktator itu menjalani hukuman mati di awal pesta Idul Qurban banyak mendapat kritik warga muslim. Tidak hanya dari pendukung Saddam Hussein tapi juga negara lainnya. Misalnya Arab Saudi dan Mesir, dua mitra terdekat Amerika Serikat itu menentang keputusan tersebut. Pesta Idul Qurban bermakna pengampunan, bukan untuk balas dendam. Demikian argumen para ulama Islam.

Para pakar meragukan kematian Saddam Hussein akan menjadi awal babak baru bagi Irak. Mereka berpendapat, waktu dan keputusan itu justru menjadikan Saddam seorang martir dan pahlawan. Dengan keputusan mengeksekusi mantan diktator Irak bertepatan dengan dimulainya pesta Idul Qurban, citra Amerika Serikat yang sudah buruk di mata dunia Islam semakin bertambah rusak. Dan juga jika Amerika Serikat sekarang hendak menambah pasukannya di Irak, akhir dari gelombang teror dan kekerasan tidak tampak.