Upacara Berkabung di Kampus Virginia Tech | dunia | DW | 18.04.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Upacara Berkabung di Kampus Virginia Tech

Selasa (17/04) ribuan mahasiswa Virginia Tech berkumpul di bangsal bola basket universitas untuk memperingati 32 civitas akademika yang menjadi korban penembakan amok satu hari sebelumnya.

Mahasiswa pelaku penembakan amok di Virginia Tech

Mahasiswa pelaku penembakan amok di Virginia Tech

Para profesor universitas menyampaikan pidato, juga tokoh berbagai agama serta gubernur Virginia. Mereka semua berkeinginan sama mencoba membesarkan hati. Juga Presiden George W. Bush dan istrinya Laura hadir dalam acara tersebut. Bush mengatakan hari itu adalah hari berkabung bukan hanya bagi universitas tapi juga untuk seluruh bangsa. Di mana-mana orang berdoa, agar para korban, keluarga dan kaum kerabat diberi kekuatan.

Bush: „Di hari berkabung seperti ini sulit dibayangkan bahwa kehidupan universitas suatu hari nanti akan kembali berjalan normal. Tapi hari tersebut akan datang …dan kalian akan teringat pada teman-teman dan guru kalian yang pergi kemarin...“

Banyak mahasiswa mengenakan pullover atau t-shirt bewarna oranye atau merah bata. Dan mereka memberikan tepuk tangan kepada sastrawati Nikki Giovanni yang juga dosen di universitas itu yang mengungkapkan kesedihan, kemarahan dan kegalauan dalam kata-kata

„Kami hidup atas dasar pikiran dan peluang, kami akan meneruskan membentuk masa depan dengan melintasi darah dan air mata, dengan melewati semua kepedihan ini. Kami adalah pemain hoki, kami akan menang, kami adalah Virginia Tech!!!“

Pelaku penembakan amok adalah pemuda berusia 23 tahun asal Korea Selatan Cho Seung-Hui. Ia tercatat sebagai mahasiswa di universitas Virginia jurusan sastra Inggris dan tindak tanduknya sebelum kejadian sudah aneh. Ia menulis teks yang tidak masuk akal, ujar seorang guru yang mengusulkannya agar berkonsultasi dengan bidang konseling mahasiswa. Selain itu media massa melaporkan di kamarnya di asrama mahasiswa Virginia, ditemukan sebuah surat berisi penghinaan dan tuduhan terhadap mahasiswa lain, dan menganggap mereka sebagai dukun. Meskipun demikian menurut keterangan polisi ia tidak meninggalkan surat. Juga tidak ditemukan petunjuk penembakan keji itu dilakukan secara berkomplot. Penembakan yang dilakukan dengan dua senjata api, yang diketahui dimillikinya secara legal. Cho dan keluarganya datang ke Amerika Serikat tahun 1992 dan memiliki ijin tinggal resmi. Oleh sebab itu di Virginia ia boleh membeli senjata api dimana syarat pemilikan senjata di negara bagian Amerika Serikat itu dikenal mudah.

Iklan