Universitas Passau | Seri Uni Jerman | DW | 23.09.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Seri Uni Jerman

Universitas Passau

Sudah sejak 1984 bidang studi wilayah Asia Tenggara didirikan di Universitas Passau.

Panorama Kota Passau

Panorama Kota Passau

Hal ini karena pendiri bidang studi tersebut, Profesor Bernhard Dahm merupakan salah seorang pakar politik dan budaya Indonesia. Pria Jerman berusia 73 tahun ini masih mengingat masa mengajar saat jurusan Asia Tenggara baru terbentuk

Dahm : „Pada waktu saya datang ke universitas Passau untuk mendirikan pelajaran Asia Tenggara belum ada bahan-bahan penelitian apapun. Perpustakaan tentang sejarah atau etnologia, sastra Asia Tenggara belum ada. Belum ada pengajar dalam bidang bahasa, lektor dan lain sebagainya dan pelajar hanya ada empat yang ikut saya dari universitas Kiel di mana saya mengajar tahun-tahun sebelumnya.“

Jurusan Asia Tenggara makin berkembang. Dalam waktu lima tahun sudah 100 mahasiswa tercatat studi di jurusan ini. Dengan meningkatnya jumlah mahasiswa, bertambah pula mata kuliah yang ditawarkan. Saat ini terdapat dua kursi profesor, satu berkonsentrasi pada wilayah kepulauan Asia Tenggara dan satu lagi berkonsentrasi pada Asia Tenggara daratan. Mata kuliah Bahasa Indonesia, Thailand, dan Vietnam ditawarkan dalam bidang studi ini. Sementara itu, terdapat dua jenjang pendidikan universitas untuk bidang studi ini. Calon mahasiswa dapat memilih jenjang pendidikan Magister dan mengambil bidang studi Asia Tenggara sebagai jurusan utama dan jurusan tambahan. Calon mahasiswa juga dapat mengambil jenjang pendidikan Diplom Bahasa, Ekonomi, dan Budaya atau Bisnis dengan konsentrasi bidang budaya.

Professor Dahm sebenarnya seorang ahli sejarah. Tapi sejak kecil Dahm sudah tertarik dengan Indonesia dari ibunya yang besar sebagai putri seorang misionaris di Sumatra. Sebagai mahasiswa tema perjuangan rakyat Indonesia merebut kemerdekaan kembali menjadi tema yang digelutinya. Ia kemudian menulis skripsi tentang Konferensi Asia Afrika dan disertasi mengenai Presiden Soekarno. Buku tentang pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia ini diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda, Inggris dan Indonesia. Presiden Sukarno bahkan pernah menerima Dahm tahun 1966 di Jakarta:

Dahm : „Pada waktu itu saya sudah menyelesaikan buku saya tentang Bung Karno dan sebenarnya buku itu sudah di meja Sukarno pada waktu saya datang ke istana. Saya sudah tiga tahun sebelumnya meneliti tentang karir Sukarno. Di Belanda ada banyak laporan polisi tentang aktivitas Sukarno dan ada beberapa tempat di mana Sukarno bilang: `Itu tidak benar` dan saya bilang `Itu benar dan saya ada bukti`. Dan Sukarno senyum.”

Pembicaraan dengan Sukarno membuat ilmuwan ini semakin mencintai pekerjaannya. Ketika itu Soekarno mengatakan ia tidak mengkhawatirkan radikalisasi Islam selama dalam masyarakat adat istiadat yang berpijak pada kompromi tetap terpelihara. Seberapa besar pengaruh adat istiadat dalam era modernisasi diselidiki Dahm sejak tahun 1970an di Sumatra Utara. Sampai saat ini dia masih sering pergi ke Tapanuli Selatan untuk menanyai seberapa besar pentingnya tradisi adat bagi mahasiswa:

Dahm 3: „Saya menginterview kurang-lebih 800 orang. Hasil dari penelitian itu ialah tradisi adat mereka benar-benar masih menghargai tetapi saya kira, kebanyakan tidak lagi ikut acara adat dan ada ide-ide baru tentang tugas mereka di dunia baru."

Kini Passauer Institut für Südostasienstudien atau bidang studi wilayah asia tenggara universitas Passau dipimpin oleh Prof. Dr. Susanne Schröter. Lebih dari 10 tahun Etnolog ini mengadakan penelitian di Indonesia, yang kebanyakan dilakukan di Flores. Di sana dia membuat riset tentang budaya masyarakat Ngada.

Sejak Schröter memimpin institut, titik berat bidang studi di Universitas Passau terarah ke Indonesia. Peran dosen perempuan di institut ini patut diperhitungkan. Rekan Schröter, Monika Arnez menyelidiki peranan Islam dan Gender dalam sastra Indonesia modern. Tahun lalu di Passau diadakan konferensi internasional dengan tema „Gender and Islam in Southeast Asia“. Yang juga dihadiri sejumlah tokoh perempuan Indonesia sebagai pembicara. Antara lain Siti Musdah Mulia dari Departemen Agama. Suraiya Kamaruzzaman, ketua organisasi perempuan Flower Aceh dan seniwati Arahmaiani. Monika Arnez menarik neraca positif dari konferensi itu:

Arnez :

„Sesudah konferensi tersebut berakhir jaringan internasional didirikan. Ini forum diskusi di mana peneliti internasional bisa bertukar pikiran mengenai isu gender dan Islam. Kedua, kerja sama dengan peneliti tersebut bisa digunakan untuk beberapa proyek khususnya untuk peneliti tentang hubungan gender di kepulauan Alor, pimpinan perempuan Muslim pada Philipinnes dan organisasi perempuan muslim dan sekular di Indonesia. Ketiga, artikel yang diberikan oleh penjeramah akan diterbitkan dalam buku dengan judul „Gender dan Islam di Nusa Tenggara Timur“.

Sejumlah dosen perempuan lainnya dari Passau juga mengadakan riset bertemakan perempuan. Susanne Rodemeier meneliti hubungan kemiskinan dan representasi perempuan dalam masyarakat . Untuk itu ia mengadakan riset sejak beberapa tahun di Pulau Alor. Menurut rekan Rodemeier, Monika Arnez penelitan dengan tema perempuan dalam konteks Indonesia sangat menarik karena.

Arnez:

„Dulu ruang gerak perempuan sangat dibatasi oleh ideologi korporat (???) wanita. Sesudah presiden Suharto jatuh posisi perempuan sangat berubah. Lebih banyak perempuan masuk ruang publik sebagai anggota pemerintah, aktivis dalam LSM, artis, penulis dan sebagainya. Banyak perempuan tidak lagi hanya bekerja sebagai ibu rumah tangga dan mengurus anak. Hal yang menarik untuk penelitian adalah, menganalisir bagaimana perubahan tersebut mempengaruhi posisi perempuan dan pola pikir masyarakat Indonesia."

Di samping mempelajari Bahasa Indonesia, mahasiswa Passau dapat pula memilih mata kuliah misalnya pengantar budaya Asia Tenggara atau budaya Papua. Selain itu mereka juga mempelajari perubahan politik, budaya, dan sosial di negara-negara Asia Tenggara. Seminar ekonomi, pembangunan, modernisasi, dan urbanisasi juga tercantum dalam jadwal kuliah.

Aceh juga menjadi pusat perhatian Universitas Passau. Saat ini sedang disusun Buku panduan Aceh yang akan segera diterbitkan. Mahasiswa Passau juga tengah mengadakan proyek tentang Aceh, meneliti pengaruh tsunami Desember 2004.

Arnez :

„Dari Juli sampai September tahun lalu beberapa mahasiswa mengadakan perjalanan ke Banda Aceh dan Khao Lak di Thailand dan mengumpulkan data tentang situasi sesudah Tsunami. Hasil oleh penelitian itu akan diterbitkan sebagai artikel. Setiap artikel akan memfokuskan pada aspek yang berbeda di antaranya pada ekonomi dan pembangunan. Artikel pertama dengan judul „Keperluan hidup dan ekonomi lokal“ sudah diterbitkan dalam bahasa Inggris."

Proyek penelitian lainnya tentang Aceh yaitu perubahan yang terjadi sejak pembangunan kembali dan proses perdamaian di sana. Untuk proyek ini universitas Passau bekerja sama dengan IAIN Banda Aceh. Mulai tahun depan juga akan diadakan program pertukaran kandidat doktor. Sebuah perkumpulan bantuan untuk Aceh „Freundeskreis Aceh“ didirikan oleh ilmuwan-ilmuwan Asia Tenggara di Passau. Berkat bantuan dari perkumpulan itu, sebuah perpustakaan umum di Meulaboh yang hancur dilanda tsunami dapat dibangun kembali.

Lulusan bidang studi Asia Tenggara Universitas Passau memiliki banyak kesempatan kerja. Banyak dari mereka yang bekerja untuk proyek bantuan pembangunan, beberapa diantaranya menjadi wartawan. Perusahaan yang memiliki hubungan dagang dengan Asia Tenggara juga tertarik untuk merekrut lulusan bidang studi wilayah Asia Tenggara Universitas Passau.

Seperti di berbagai universitas di Jerman, jenjang pendidikan Magister akan diubah menjadi Bachelor dan Master. Unsur ilmu ekonomi dalam bidang studi ini akan diperkuat sementara bobot pelajaran bahasa akan dikurangi. Praktek bahasa dapat langsung dilakukan mahasiswa di negara pilihannya. Karena mahasiswa wajib melakukan praktek kerja lapangan minimal tiga bulan di negara pilihan mereka. Universitas rekanan seperti UIN Jakarta, UGM Yogyakarta, Universitas Padjadjaran Bandung dan Unversitas Kristen Satya Wacana Salatiga dapat terus menerima mahasiswa tamu dari Passau.