1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Ilustrasi emisi karbon dioksida dari penerbangan pesawat komersial
Ilustrasi emisi karbon dioksida dari penerbangan pesawat komersialFoto: picture-alliance/dpa/J. Stratenschulte

United Airlines: ‘Go Green’ Adalah Satu-satunya Pilihan

Neil King
24 April 2021

Maskapai AS, United Airlines, kesulitan mengurangi emisi karena terlalu murahnya harga bahan bakar fosil. Namun mereka yakin industri penerbangan perlu menggunakan bahan bakar berkelanjutan.

https://p.dw.com/p/3sUPT

Penerbangan bertanggung jawab atas 2-3% pada emisi karbon dioksida global. Artinya, jika industri penerbangan ibarat sebuah negara, ia menjadi sumber emisi keenam terbesar di dunia.

Saat ini produsen dan maskapai pesawat berniat memangkas emisi CO2 menjadi setengahnya pada 2050. Tapi sejauh ini belum ada teknologi yang memungkinkan manusia untuk terbang tanpa merusak planet. Artinya, masa depan hijau hanya bisa diwujudkan lewat transformasi besar-besaran.

Salah satu maskapai yang telah mengumandangkan niat untuk go green adalah United Airlines asal Amerika Serikat. Kepada DW, Direktur Lingkungan Global di United, Lauren Riley, membeberkan rencana perusahaan untuk memangkas emisi.

Berikut kutipannya:

DW: United Airlines ingin 100% bebas emisi pada 2050. Bagaimana Anda ingin mencapainya?

Lauren Riley: Utamanya kami mengembangkan tiga jalur menuju industri hijau. Yang pertama adalah mencari bahan bakar alternatif yang lebih berkelanjutan untuk pesawat-pesawat kami. Bahan bakar aviasi yang berkelanjutan adalah solusi yang sudah tersedia saat ini dan bisa mengurangi 80% emisi karbon dioksida.

Jalur kedua bagi United adalah untuk fokus menjaring dan menyimpan karbon. Teknologi ini benar-benar menangkap CO2 dari atmosfer dan menyimpannya secara permanen di dalam tanah.

Dampak gas buang pesawat udara terhadap atmosfer Bumi
Dampak gas buang pesawat udara terhadap atmosfer Bumi

Lalu ada jalur ketiga yang berpusar pada program investasi pada solusi generasi baru. Kami belum tahu jenis bahan bakar apa yang akan digunakan secara massal, atau apa yang akan menjadi solusi terbaik. Jadi kami punya kewajiban untuk mencari teknologi yang menjanjikan, entah itu berpenggerak hidrogen, listrik, atau hal lain. Jadi karena tidak adanya jurus pamungkas, kami harus melihat semua area-area ini untuk menanggulangi perubahan iklim.

Menurut estimasi saat ini, produksi bahan bakar aviasi berkelanjutan di seluruh dunia berkapasitas 50 juta liter per tahun. Sejumlah pakar meyakini, dibutuhkan kapasitas produksi sekitar 7 miliar liter bahan bakar untuk bisa menyaingi bahan bakar fosil, yang masih lebih murah. Mengingat tekanan pasar yang besar, bagaimana bisa membudayakan penggunaan bahan bakar ramah lingkungan jika bahan bakar fosil masih sangat murah?

Bahan bakar aviasi berkelanjutan memang memiliki tantangannya tersendiri. Pertama dan terutama adalah jumlahnya yang masih terlalu sedikit. Kami menggunakannya untuk operasi sejak 2016, tapi di tahun terbaik pun penggunaan bahan bakar berkelanjutan masih jauh di bawah 1% dari total bahan bakar yang kami gunakan. Padahal kami tergolong yang paling banyak menggunakan bahan bakar berkelanjutan di dunia. 

Yang kedua, bahan bakar berkelanjutan masih mahal. Harganya dua hingga empat kali lipat dibandingkan bahan bakar fosil. Dan terutama saat ini, mengingat situasi keuangan kami, solusi yang ada tidak terjangkau.

Kami mencari kemitraan yang memungkinkan perluasan penggunaan bahan bakar berkelanjutan. Tapi solusi jangka panjang tetap bergantung kepada pemerintah, menurut saya. Kita membutuhkan kebijakan insentif yang benar-benar membantu memasarkan dan mengomersilkan bahan bakar aviasi berkelanjutan. Dan sampai hal ini terjadi, kami akan terus kesulitan menggantikan kerosin konvensional dengan alternatif yang ramah lingkungan.

Industri penerbangan di Cina dan India tumbuh pesat, ketika pertumbuhan kemakmuran memungkinkan penduduk untuk terbang lebih sering. Apa yang terjadi jika kita belum mampu mewujudkan penerbangan hijau? Apakah solusinya bisa difokuskan ke masing-masing negara?

Tidak, Anda tidak bisa memisahkan satu negara saja. Dunia tidak bekerja dengan cara itu. Kami ingin agar konsumen bisa terbang, tapi kami ingin agar penerbangan ini bersifat nol emisi. Dan saya kira peluang bagi mereka yang ingin mendorong dekarbonisasi setiap industri terletak pada bagaimana kita membangun ke arah sana dan bagaimana kita mempercepat perubahan dengan cara di mana konsumen tidak harus mengkhawatirkan emisi penerbangan karena dari awalnya sudah berkelanjutan. Saya yakin kita akan tiba di sana, tapi tidak besok atau mungkin lima tahun ke depan. 

Daftar negara dengan jumlah pesawat paling banyak di dunia
Daftar negara dengan jumlah pesawat paling banyak di dunia

Ada suara kritis yang mencurigai praktik greenwashing (pencitraan palsu) di balik inisiatif berkelanjutan oleh korporasi. Apa komentar Anda?

Saya akan katakan dua hal. Pertama, kita tidak punya pilihan lain. Saya punya anak, dan saya sangat mengkhawatirkan planet yang akan kita wariskan kepada mereka. Sebagaimana juga semua pegawai United lain. Jadi ini adalah sesuatu yang akan kami lakukan. Kami akan mengambil tindakan, terlepas dari apa pun.

Yang kedua adalah, saya ingin menantang para kritikus ini untuk ikut aktif. Biarkan suara mereka terdengar, mari mendekat dan bantu kami mengampanyekan bahan bakar beremisi rendah. Kita membutuhkannya karena kita seharusnya bisa berbangga hati untuk terbang menjelajah planet indah ini. Dan mereka tidak harus berpikir dua kali tentang emisi yang dibuang dari pesawat. (rzn/ae)

Lauren Riley adalah Direktur Lingkungan dan Keberlanjutan di United Airlines.

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait
Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait

Topik terkait