Uni Eropa Dukung Misi Internasional ke Libanon | Fokus | DW | 02.08.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Uni Eropa Dukung Misi Internasional ke Libanon

Para menteri luar negeri UE membahas konflik Timur Tengah. Yang dirembukkan antara lain mengenai pembentukan pasukan perdamaian internasional di Libanon.

Javier Solana (kanan) dan Menlu Finlandia Erkki Tuomioja (kiri) di Brussels

Javier Solana (kanan) dan Menlu Finlandia Erkki Tuomioja (kiri) di Brussels

Pada awal pertemuan terlihat bahwa ke-25 negara anggota memiliki pandangan yang berbeda dalam masalah tersebut. Menteri Luar Negeri Finlandia, Erkki Tuomioja yang kini memimpin pertemuan di Uni Eropa mengeritik ovensif darat Israel di Libanon selatan. Ini tidak dapat diterima dan menimbulkan kekhawatiran besar, kata Tuomioja pada awal sidang khusus para menteri luar negeri UE di Brüssel hari Selasa kemarin (01/08). Dia selanjutnya mengemukakan:

„Serangan militer itu kemungkinan tidak akan berhasil dan hanya akan menambah dukungan bagi Hizbullah dan kelompok ekstrimis lainnya.“

Erkki Tuomioja menginginkan sebuah pernyataan bersama dari ke-25 menteri luar negeri yang berisikan imbauan agar Israel dan Hizbullah melaksanakan gencatan senjata segera.

Sebagai pemimpin dalam kepresiden UE, Menteri Luar Negeri Finlandia melangkah lebih jauh daripada biasanya. Karena tidak semua menteri luar negeri UE memiliki pendapat seperti Tuomioja, misalnya Menteri Luar Negeri Inggris, Margaret Beckett dan Menlu Jerman Frank-Walter Steinmeier.

Pada awal sidang Steinmeier mengatakan:

„Kami sekarang berada pada awal pekan yang menentukan bagi perkembangan konflik di wilayah tersebut. Saya berpendapat bahwa masyarakat internasional kini punya peluang untuk memastikan gencatan senjata. Sudah terlalu banyak korban di kedua pihak, terutama warga sipil di Lebanon dan Israel utara.“

Steinmeier tidak menuntut gencatan senjata segera tanpa syarat. Dia mengharap, Israel mengurangi serangan udaranya dan Hizbullah menghargai sikap itu dan mengurangi sikap bermusuhan. Selanjutnya Steinmeier menambahkan, yang kini penting adalah upaya paralel UE dan PBB untuk mencapai gencatan senjata. Dia mengusulkan sebuah kuartet penengah Timur Tengah yang terdiri dari PBB, UE, Rusia dan AS. Dua negara Arab juga disarankan untuk dilibatkan dalam kuartet tersebut.

Sedangkan Menteri Luar Negeri Yunani, Dora Bakoyannis, tidak bisa memahami usulan dari Menlu Jerman itu. Bakkoyannis secara jelas menuntut:

„Yunani menuntut gencatan senjata. Kita memerlukan gencatan senjata segera untuk memenuhi permintaan warga Eropa.“

Sementara, Menteri Luar Negeri Luxemburg, Jean Asselborn memperingatkan bahwa serangan bom di Kana telah mengguncang dukungan warga Eropa terhadap Israel. Asselborn ingin agar PBB mengeluarkan resolusi gencatan senjata.

Jean Asselborn: „Saya kira, hari ini kita punya target besar, yaitu menolong Kofi Annan, sehingga kita bisa melangkah ke arah yang benar dan menunjukkan jalan kepada AS. Agar kita berhasil menolong PBB untuk mengeluarkan sebuah resolusi.“

Para menteri luar negeri menyatakan, pembicaraan mengenai pasukan perdamaian internasional baru bisa dimulai jika sudah ada mandat dari PBB. Sedangkan Menlu Finlandia Erkki Tuomioja sudah memperkirakan bahwa UE akan menyediakan jumlah terbesar dari sekitar 10. 000 tentara yang diperlukan.

Sementara PM Israel Ehud Olmert meminta agar pasukan perdamaian PBB ditempatkan sebelum gencatan senjata dan sebelum penyelesaian politik dari konflik itu. Tetapi usul ini ditolak Prancis yang menuntut dicapainya kesepakatan politik sebelum pengiriman pasukan.

Terlepas dari kesepakatan apa pun yang dikeluarkan dalam sidang khusus di Brüssel ini, para menlu UE mengakui, kecil sekali kemungkinan bahwa kesepakatn mereka diterima oleh kedua pihak yang bertikai. PM Israel Olmert sudah mengatakan, dia tidak akan menerima gencatan senjata tanpa syarat. Kekuatan militer Hizbullah harus dilumpuhkan dahulu agar tidak mampu lagi menyerang Israel dengan rudalnya.