Uni Eropa Canangkan Reformasi Hingga 2009 | dunia | DW | 26.03.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Uni Eropa Canangkan Reformasi Hingga 2009

Uni Eropa sepakat kembali pada akar dan normanya serta bersedia menghadapi tantangan di masa depan.

Dari kiri ke kanan, Poettering, Merkel dan Barroso, sesaat setelah penandatanganan Deklarasi Berlin

Dari kiri ke kanan, Poettering, Merkel dan Barroso, sesaat setelah penandatanganan Deklarasi Berlin

Dengan penandatanganan perjanjian Roma tanggal 25 Maret 1957 diletakkan fondasi bagi integrasi di bidang ekonomi dan politik Eropa. Akhir pekan lalu, Uni Eropa merayakan acara hari jadinya yang ke-50. Dengan puncak acara, ditandatanganinya Deklarasi Berlin hari Minggu (25/03), di mana Uni Eropa sepakat mencanangkan melakukan reformasi hingga tahun 2009 mendatang.

Hari Sabtu (24/03) di Berlin, dengan defile semua kepala negara dan pemerintahan dari ke-27 anggota Uni Eropa dimulai pertemuan puncak istimewa dalam rangka hari ulang tahun tersebut. Dilanjutkan dengan sajian Simfoni kelima dari komponis Jerman Ludwig von Beethoven di gedung filharmoni Berlin, dimainkan orkes filharmoni Berlin, di bawah pimpinan dirigen Inggris Sir Simon Rattle. Alunan nada, di antara sejumlah pidato dalam pertemuan puncak istimewa dalam rangka pesta ulang tahunnya yang ke-50.

Setelah itu jamuan makan malam Presiden Jerman Horst Köhler di Istana Bellevue. Dalam kesempatan itu Köhler mengatakan, Eropa bukan hanya kawasan perdagangan bebas melainkan suatu gagasan politik. Dan yang dicanangkan hingga akhir tahun 2009 adalah sasaran politik, reformasi Uni Eropa. Di mana langkah pertama sempat terhenti akibat penolakan sejumlah negara lewat referendum konstitusi Eropa. Ini pula yang diserukan Kanselir Jerman Angela Merkel sebagai ketua Dewan Eropa dalam pidatonya.

"Semua kekuatan harus kembali diperbaharui dan dipertahankan. Kemandekan berarti kemunduran. Merebut kepercayaan buth waktu puluhan tahun, tapi memupus kepercayaan bisa terjadi hanya dalam semalam.“

Di akhir pidatonya, di hadapan 27 kepala negara dan pimpinan pemerintahan anggota Uni Eropa, Merkel menyampaikan: “Untuk memperkuat model kehidupan Eropa, menyadari tanggung jawab global, diperlukan kemampuan bertindak. Dan itu lebih daripada apa yang dimiliki Eropa saat ini.“

Reformasi Eropa diharap mencapai kemampuan 'bertindak' ini. Secara kongkrit menurut Ketua Parlemen Eropa Hans-Gert Pöttering, Uni Eropa harus lebih demokratis, lebih terbuka dan lebih dekat dengan warganya

"Kami ingin agar inti dari perjanjian konstitusi hingga nilai-nilai bersama dapat mengikat secara hukum sampai pemilihan umum Eropa bulan Juni tahun 2009 mendatang.“

Kesepakatan konstitusi Eropa tetap menjadi bara panas bagi sejumlah anggotanya. Istilah itu juga tidak disebutkan Dalam Deklarasi Berlin yang ditandatangani oleh Merkel, Pöttering dan Ketua Komisi Eropa Jose Manuel Barosso. Namun disepakati Uni Eropa memperbaharui peletakan dasar-dasar bersama, hingga tahun 2009. Bagaimana mencapai sasaran tersebut, sekarang masih harus ditetapkan agenda kerja hingga akhir masa kepemimpinan Jerman di Dewan Eropa Juni mendatang.

Dalam hal ini Angela Merkel merasa optimis: ”Kami sekarang mengolah deklarasi Berlin dengan parlemen, dengan komisi juga sudah terdapat pengalaman kerjasama yang baik, di mana kami bisa saling mengandalkan, sudah saling mengenal garis batas masing-masing, dan dalam suasana persahabatan seperti ini kami akan melanjutkan upaya ini...”

Yang pasti dengan penandatanganan Deklarasi Berlin pada hari jadinya yang ke-50, Uni Eropa sepakat kembali pada akar dan normanya serta bersedia menghadapi tantangan di masa depan.

Iklan