Uni Eropa Bentuk Kelompok Kerja untuk Somalia | Fokus | DW | 03.01.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Uni Eropa Bentuk Kelompok Kerja untuk Somalia

Menteri Luar Negeri Jerman Steinmeier mengundang negara Uni Eropa, Amerika Serikat dan Tanzania membentuk Kelompok Kerja untuk Somalia:

default

krisis internasional di Somalia menduduki peringkat utama prioritas Jerman sebagai Ketua Dewan Eropa. Untuk itu Menteri Luar Negeri Jerman Frank-Walter Steinmeier hari ini mengundang negara rekanan yang tergabung dalam Kelompok Kontak Somalia untuk rapat di Brussel.

Inggris, Italia, Swedia dan negara non anggota Uni Eropa Norwegia duduk sebagai anggota kelompok tersebut di bawah payung organisasi Uni Eropa. Pejabat urusan luar negeri Uni Eropa Javier Solana dan Komisaris Uni Eropa untuk Bantuan Pembangunan Louis Michel juga hadir dalam rapat Kelompok Kontak untuk Somalia di Brussel hari ini.

Sebelum hari Natal lalu, Michel berkunjung ke kawasan Tanduk Afrika dan berusaha menjadi penengah antara dua pihak yang berseteru. Namun hal tersebut tidak menghentikan aksi pasukan Ethiopia yang juga terus akan dilawan milisi Islam Somalia. Terakhir, pasukan Ethiopia berhasil mengambil alih ibukota Somalia Mogadishu dari milisi Islam Somalia.

Pejabat khusus pemerintah Jerman untuk Afrika juga terbang menuju kawasan konflik Somalia. Tugas mereka adalah menjadi konsultan bagi kelompok negara Eropa untuk Somalia tersebut dan terjun langsung ke lapangan serta mengadakan kontak secara politis dan humaniter. Dikatakan di Brüssel, pemikiran tersebut belum terpikirkan oleh Menteri Luar Negeri Jerman ketika dirinya berkunjung ke Somalia.

Selain negara-negara Eropa, Tanzania dan Amerika Serikat juga diajak menjadi negara anggota Kelompok Kontak untuk Somalia tersebut. Amerika Serikat sejak awal mendukung penuh pasukan Ethiopia ke Somalia menjelang Hari Natal lalu. Mereka juga membicarakan hal tersebut pada Juni tahun lalu.

Negara-negara barat sedikit banyak memiliki peran di kawasan Tanduk Afrika. Somalia tidak memiliki otoritas pemerintah. Menurut estimasi pihak Barat, Somalia memicu milisi Islam untuk menyebar di Afrika Timur. Dilaporkan kantor berita Reuters, tentara Ethiopia kini tengah mengejar milisi Islam Somalia sampai di perbatasan Kenya.

Letusan senjata yang terdengar hari Rabu ini menggemparkan warga desa Liboi di perbatasan Kenya. Dari desa tersebut dapat terlihat pesawat terbang jet tempur Ethiopia yang mendarat di kota Doble, 25 kilometer di belakang garis perbatasan. Padahal sehari sebelumnya di Addis Abeba, Perdana Menteri Ethiopia Meles Zenawi menjelaskan, pasukan negaranya dapat meninggalkan Somalia dalam dua pekan mendatang.

Setelah kekalahan milisi Islam, Somalia kini terancam perang saudara dengan kemungkinan serangan bom bunuh diri. Melihat kemungkinan tersebut Uni Eropa mendesak melakukan perundingan untuk Somalia.