UE Belum Pastikan Kirim Pasukan ke Libanon | Fokus | DW | 24.08.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

UE Belum Pastikan Kirim Pasukan ke Libanon

Pertemuan para duta besar ke-25 anggota UE di Brussel, Rabu (23/08) tak menghasilkan keputusan apapun.

Pasukan UNIFIL di Marjayoun, Libanon

Pasukan UNIFIL di Marjayoun, Libanon

Para dutabesar tak bisa memberi kepastian, negara mana saja yang akan mengirim tentara ke Libanon Selatan, dan berapa jumlahnya. Mereka hanya mempersiapkan panggilan untuk mengadakan sidang istimewa para Menlu UE, Jumat (25/08).

Pada sidang itulah kepastian bisa dihasilkan, demikian harapan Sekjen PBB Kofi Annan yang khusus datang dari New York. Untuk itu para dutabesar UE sekali lagi menegaskan, bahwa sebelum menunaikan kewajibannya yang mengikat sebagai anggota PBB, pemerintahan mereka membutuhkan mandat yang jelas bagi pasukan perdamaian di Libanon. Sebaliknya Kofi Annan ingin terlebih dulu mengetahui dari negara-negara Eropa, apa yang bisa dan mau mereka lakukan di segi militer, sebelum mandat bagi pasukan itu dijadikan kewajiban mengikat.

Menlu Italia Massimo D’alema mengatakan dalam sebuah wawancara, dengan 2000 sampai 3000 tentara, Italia siap mengambil alih kepemimpinan dalam pasukan pengamat PBB di Libanon, UNIFIL, jika banyak negara Eropa lainnya ikut berpartisipasi. Mandat tersebut harus luas dan mencakup penggunaan senjata. Akan tetapi, pelucutan senjata milisi Hisbullah harus dilakukan oleh tentara Libanon. Demikian tuntutan Duta Besar Italia, juga Perancis, di Brussel.

Perancis kini hanya menyatakan siap mengirim 200 tentara untuk Libanon. Padahal negara itu diharapkan mengerahkan 2000 orang. Banyak negara UE khawatir akan terseret jauh ke dalam konflik Timur Tengah. Inggris dan Belanda beralasan besarnya beban partisipasi mereka di Irak, atau lebih tepat dikatakan Afganistan.

Sementara Belgia, Spanyol, Denmark, Finlandia dan Swedia menyatakan siap mengirim kontingen yang lebih kecil. Italia ingin agar DK mengeluarkan resolusi kedua yang menjelaskan mandat pasukan. Tapi itu bisa makan waktu beberapa minggu. Namun sebaiknya bergegas, kata seorang diplomat UE, karena gencatan senjata yang diberlakukan sejak Senin 14 Agustus, tidak stabil. Sampai sekarang tak ada kesepakatan politis mengenai gencatan senajta, dari kedua pihak yang berperang.

Sementara itu, sumber yang dekat dengan Javier Solana mengatakan, Pejabat Urusan Luar Negeri UE itu mengharapkan keterlibatan lebih besar dari Jerman bagi penyelesaian konflik di Libanon. Pemerintah di Berlin ingin mengirim satuan marinir dan angkatan udara. Pasukan tempur darat sama sekali tak dikutkan karena beban sejarah peristiwa Holocaust. Bagaimanapun juga, harus dihindari kemungkinan konfrontasi dengan tentara Israel.

Untuk itu Solana menunjukkan pengertian dan memperkirakan Eropa hanya dapat mengirim 4000 sampai 6000 tentara. Tidak seperti harapan semula yaitu separuh dari total 15 ribu pasukan helm biru yang akan dikirim ke Libanon. Dan sekalipun Sekjen PBB sendiri hadir di pertemuan para Menlu UE Jumat besok, tetap dibutuhkan waktu sampai Oktober atau November, hingga UNIFIL beroperasi secara penuh di Libanon Selatan. Demikian perkiraan sejumlah pakar militer.