Turki-Siprus: Brussel Menunggu Kejelasan dari Ankara | Fokus | DW | 08.12.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Turki-Siprus: Brussel Menunggu Kejelasan dari Ankara

Rincian daripada usulan kompromi dalam permasalah Siprus masih ditunggu. Namun, kesediaan Turki membuka diri pada Siprus disambut baik Uni Eropa.

Perbatasan Turki-Siprus

Perbatasan Turki-Siprus

Nampaknya, Turki bersedia menerima usulan kompromi Uni Eropa menyelesaikan masalah Siprus. Hari ini (8/12) para duta Uni Eropa mengadakan rapat istimewa merundingkan kembali usulan tersebut. Namun, sampai Kamis kemarin Dewan Kepresidenan Uni Eropa, yang sementara ini masih dipegang oleh Finlandia, belum dapat mengajukan usulan yang lebih konkret. Juru bicara Finalndia di Brussel menjelaskan, Turki bersedia membuka hanya satu pelabuhan dan satu bandar udara bagi Siprus.

Presiden Dewan Uni Eropa dari Finlandia, Menteri Luar Negeri Erkki Tuomioja, menyambut baik kesediaan Turki. Namun ia menambahkan, kesediaan tersebut belum mencukupi sepenuhnya, karena masih ada persyaratan yang harus dipenuhi.

Sementara ini akan dirundingkan solusi yang lebih konkret untuk memecahkan pembagian pulau Siprus. Lebih dari 30 tahun Turki menduduki wilayah utara. Sebaliknya, Turki menuntut agar dapat membuka satu pelabuhan dan satu bandar udaranya di wilayah utara bagi perdagangan internasional. Namun, hal ini ditolak oleh warga Yunani di wilayah selatan Siprus. Demikian juga, Yunani mengungkapkan keraguannya, karena sebetulnya di awal perundingan penggabungan Turki dengan Uni Eropa, Turki menyetujui segala persyaratan protokol Ankara, bahwa semua pelabuhan dan bandar udara sampai akhir tahun ini akan dibuka.

Presiden Komisi Uni Eropa Jose Barroso menuturkan:

“Saya harap, ada kejelasan bagaimana bentuk tawaran pemerintah Turki. Ini merupakan langkah penting. Berarti, persyaratan protokol Ankara dapat terpenuhi.”

Protokol Ankara antara lain menyebutkan perluasan wilayah perdagangan Uni Eropa pada negara anggota baru. Sedangkan, selama ini Turki menolak menerapkan protokol Ankara pada Siprus. Padahal, secara resmi pemerintah Ankara sampai akhir tahun ini harus membuka semua pelabuhan dan bandar udara untuk Siprus.

Menteri Luar Negeri Jerman Frank-Walter Steinmeier menuturkan di Berlin, Turki sangat berhati-hati untuk megulurkan tangannya dalam permasalahan ini. Dewan Kepresidenan Uni Eropa, yang masih dipegang Finlandia, berupaya keras mencarikan kompromi terbaik. Namun perundingan dengan Turki yang dilakukan beberapa minggu lalu, oleh Finlandia dinyatakan sebagai gagal. Perdana Menteri Finlandia Matti Vanhanen hari Selasa (5/12) lalu sudah menyebutkan, bahwa sebagian perundingan membahas penggabungan Turki sebagai anggota baru Uni Eropa bakal dipetieskan.

Satu setengah tahun mendatang, setelah pemilihan di Turki, Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Perancis Jacques Chirac, menentukan kelanjutan perundingan bergabungnya Turki dengan Uni Eropa. Namun kedua pemimipin tersebut sangat skeptis dengan penerimaan Turki sebagai anggota baru.

Pendukung Turki sekaligus Komisaris Perluasan Uni Eropa, Olli Rehn memperingatkan untuk tidak menyodorkan persyaratan ataupun ultimatum baru terhadap Turki, karena itu justru kontraproduktif. Sementara Inggris mendukung penuh upaya Turki menjadi anggota Uni Eropa dan dikatakan seharusnya, bukan Siprus yang diutamakan terus.

Senin mendatang (11/12) para menteri luar negeri Uni Eropa memutuskan, apakah perundingan dengan Turki akan dilanjutkan atau seperti yang sudah diusulkan komisi Uni Eropa, sebagian dipetieskan saja.