Turki Semakin Membuka Diri untuk Siprus | Fokus | DW | 07.12.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Turki Semakin Membuka Diri untuk Siprus

Tidak ada mengira, bahwa akhirnya Turki bersedia juga untuk membuka pelabuhan dan bandar udaranya untuk Siprus. Kini giliran Siprus untuk membuka diri.

default

Sementara ini para duta Uni Eropa masih merundingkan usulan kompromi, yang mereka lontarkan dalam penyelesaian masalah Siprus. Nampaknya, Turki bersedia menerima usulan tersebut. Juru bicara Finlandia di Brussel menjelaskan, pelabuhan dan bandar udara untuk Siprus akan dibuka.

Sebaliknya, masih belum jelas apakah Siprus akan membuka pelabuhan dan bandar udaranya untuk perdagangan internasional. Padahal, demikian laporan kantor berita Anadolu, hal ini merupakan salah satu persyaratan yang disodorkan Turki. Sementara kementerian luar negeri di Ankara sendiri, belum mengeluarkan keterangan lebih rinci. Hanya disebutkan, perundingan diadakan lagi.

Menurut Menteri Luar Negeri Jerman Frank-Walter Steinmeier, Turki sangat berhati-hati mengulurkan tangannya dalam permasalahan ini. Dewan Kepresidenan Uni Eropa, yang masih dipegang Finlandia, berupaya keras mencarikan kompromi terbaik. Namun perundingan dengan Turki yang diselenggarakan beberapa minggu lalu, oleh Finlandia dinyatakan sebagai gagal. Perdana Menteri Finlandia Matti Vanhanen hari Selasa (5/12) lalu sudah menyebutkan, bahwa sebagian perundingan membahas penerimaan Turki sebagai anggota baru Uni Eropa bakal dipetieskan.

Sampai saat ini Turki menolak untuk menerapkan protokol Ankara yang isinya, perluasan wilayah perdagangan Uni Eropa pada negara anggota baru. Sedangkan pemerintah Turki, dengan menyetujui persyaratan Uni Eropa berkewajiban untuk membuka semua pelabuhan dan bandar udaranya sampai akhir tahun ini.

Namun, tidak jelas apakah warga Yunani di Siprus bersedia berkompromi. Sebagai anggota Uni Eropa negara itu berhak menggunakan hak veto. Ternyata, tekanan terhadap Turki membuahkan hasil positif sebelum diselenggarakannya Konferensi Tingkat Tinggi Uni Eropa tidak lama lagi, yaitu minggu depan dari tangal 11 hingga 12 Desember. Kini, yang mungkin menjadi kambing hitamnya justru adalah Siprus.

Alasan Turki untuk tidak berkompromi karena jika pemerintahnya mengakui Siprus, langkah ini tidak dapat diterima politik dalam negeri Turki. Sementara, tahun depan diselenggarakan pemilihan parlemen dan presiden.

Namun, seorang anggota parlemen Eropa menuturkan:

“Perundingan dapat saja dilanjutkan, namun Turki harus dapat mengakui eksistensi Siprus, karena negara itu adalah anggota Uni Eropa.”

Satu setengah tahun mendatang, Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Perancis Jacques Chirac menentukan kelanjutan perundingan bergabungnya Turki dengan Uni Eropa. Pendukung Turki sekaligus Komisaris Perluasan Uni Eropa, Olli Rehn memperingatkan untuk tidak menyodorkan persyaratan ataupun ultimatum baru terhadap Turki, karena itu justru kontraproduktif. Sementara Inggris mendukung penuh upaya Turki menjadi anggota Uni Eropa dan dikatakan seharusnya, bukan Siprus yang diutamakan terus.