Tunisia Perintahkan Penangkapan Ben Ali dan Istrinya | dunia | DW | 26.01.2011
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Tunisia Perintahkan Penangkapan Ben Ali dan Istrinya

Perintah penangkapan terhadap mantan Presiden Tunisia dan istrinya berlaku secara internasional, dan berarti bahwa pasangan yang hengkang ini harus diserahkan kembali ke Tunisia.

default

Gejolak di kawasan utara Afrika saat ini, dimulai dengan seorang pedagang buah yang membakar diri dan berkembang menjadi protes di Tunisia yang mendesak mundur sang Presiden. Kini pengadilan Tunisia mengeluarkan surat perintah penangkapan mantan Presiden Zine El Abidine Ben Ali, dan istrinya, Leila Trabelsi yang hengkang ke Saudi Arabia pertengahan bulan ini. Keduanya dituduh korupsi, mentransfer dana secara ilegal dengan tujuan memperkaya diri.

Tak ada satupun kursi kosong dalam ruang konferensi yang penuh sesak itu. Ketika Menteri Hukum dan Peradilan Tunisia Lazhar Karoui Chebbi masuk dan menghadapi pers, suasana kentara menegang. Pasalnya pengumuman Menteri Chebbi sudah ditunggu-tunggu. Harapan itupun segera dipenuhi, Chebbi mengumumkan perintah penangkapan atas mantan Presiden Ben Ali dan istrinya Leila, yang berlaku di seluruh dunia.

Zine El Abidine Ben Ali

Zine El Abidine Ben Ali, mantan Presiden Tunisia

Ben Ali dan istrinya dituduh telah secara ilegal menimbun harta, menggelapkan dana, dan mentransfer dana secara internasional ke luar negeri. Adanya perintah penangkapan internasional berarti bahwa setelah ditangkap keduanya harus diserahkan ke Tunisia. Pemerintahan transisi juga sudah meminta bantuan Interpol. Sementara, Perancis dan Swiss sebelumnya menyatakan akan membekukan semua aset bekas presiden dan istrinya itu, yang berada di bank-bank negara itu.

"Tak seorangpun berada di atas hukum", begitu kata Menteri Chebbi yang membacakan daftar panjang nama pejabat pemerintah lama yang sudah ditangkap dan yang masih buron. Ketua pasukan keamanan Ben Ali dan lima orang lainnya tengah diinvestigasi karena kekerasan yang digunakan saat kerusuhan pertengahan Januari.

Di antara nama yang disebutkan, mencolok sejumlah nama yang berasal dari klan Trabelsi, keluarga dari Leila Trabelsi, istri bekas presiden Tunisia itu. 33 orang dari keluarga Trabelsi sudah ditangkap di Tunisia, akan diadili atas tuduhan telah bertahun-tahun menguras ekonomi negara itu secara sistematis.

Tunesien Tunis Demonstration Protest

Korban bentrokan demonstran dengan polisi 26 Jan, 2011

Kehakiman Tunisia tegas akan menangkap Ben Ali. Kini pertanyaannya, apakah berita tentang perintah penangkapan bekas pasangan pertama Tunisia bisa menenangkan rakyat?

Rakyat yang sejak berhari-hari berkemah mengepung balaikota Tunis yang saat ini digunakan sebagai kantor pemerintah transisi, tidak berkurang. Kebanyakan dari mereka berasal dari pedalaman Tunisia.

Para warga menunggu dibentuknya kabinet baru dan menuntut mundur menteri-menteri dari pemerintahan lama yang hingga kini menduduki posisi kunci. Abid Brigui dari Serikat Buruh UGTT menegaskan, "Mereka yang pernah bekerja di bawah menteri-menteri pemerintah Ben Ali, tidak boleh bekerja satu haripun lebih lama dalam pemerintah baru. Pemerintah yang ini harus representatif, harus mewakili masyarakat sipil dan partai-partai politik lainnya.“

Rakyat Tunisia betul-betul ingin membuka lembaran baru, yang bebas dari segala sesuatu yang berhubungan dengan rejim Ben Ali. Dan mereka menginginkannya segera, sekarang juga. Pengumunan bahwa Perdana Menteri Ghannouchi akan mundur dari politik, selambatnya setelah bergulirnya pemilu, tidak berhasil menenangkan demonstran yang terus berunjuk rasa di Tunis dan Sfax.

Diharapkan, reshuffling kabinet sudah bisa diumumkan hari Kamis, karena perintah penangkapan terhadap Ben Ali juga berpeluang membakar lebih jauh api amarah rakyat terhadap segala hal yang berbau rejim lama. Rencananya hari Kamis, di kota Sidi Bouzid, tempat revolusi Melati Tunisia ini dimulai pada Desember 15, akan berlangsung demonstrasi besar-besaran.

Alexander Göbel/Edith Koesoemawiria
Editor: Andy Budiman

Laporan Pilihan

Iklan