Tugas Berat Presiden Kabila | Fokus | DW | 06.12.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Tugas Berat Presiden Kabila

Joseph Kabila Junior adalah kepala pemerintahan demokratis pertama di Kongo yang dipilih secara langsung sejak sekitar 40 tahun terakhir.

Joseph Kabila, presiden Republik Demokratik Kongo

Joseph Kabila, presiden Republik Demokratik Kongo

Joseph Kabila baru saja berumur 29 tahun ketika dia diangkat menjadi presiden Republik Demokratik Kongo. Pembunuhan terhadap ayahnya lima tahun silam mengangkatnya dari orang yang praktis tidak dikenal ke kursi jabatan tertinggi di negara tersebut.

Dengan meraih 58 persen suara dia mengalahkan saingannya Jean-Pierre Bemba dalam pemilu putaran penentuan. Dengan demikian Joseph Kabila Kabanga dinyatakan Ketua Komisi Pemilu sebagai presiden yang baru.

Ketika Kabila mengucapkan sumpah pertamanya sebagai presiden bulan Januari 2001, tidak seorangpun menduga dia akan mencapai hasil yang terlihat saat ini. Pada saat itu, Kongo tenggelam dalam perang melawan berbagai pasukan pemberontak dan lima negara tetangga.

Waktu itu, presiden muda Kabila sering terlihat mengunjungi disko dan dikenal sebagai putra yang manja. Tak pelak, tokoh-tokoh politik dan militer, sekutu dan lawan Kabila kini tampak keheranan. Kabila sendiri mengatakan:

Joseph Kabila:Rakyat Kongo menginginkan perdamaian dan pembangunan. Dan mereka terutama menghendaki sebuah pemerintahan yang melaksanakan tanggung jawabnya dengan serius.“

Secara bertahap Kabila bertemu dengan pemimpin pemberontakan dan lawan perangnya Uganda dan Ruanda. Perang yang disebut-sebut sebagai 'Perang Dunia Pertama Afrika' itu akhirnya dapat dihentikan pada tahun 2002. Tetapi hingga kini Kongo masih jauh dari perdamaian. Di timur dan utara negara itu para milisi dan bandit masih melakukan sepak terjangnya yang berdarah.

Tuntutan bagi kepala pemerintahan termuda di dunia itu kini cukup tinggi. Joseph Kabila harus membawa Kongo mencapai sebuah negara hukum, mengubah sebuah angkatan bersenjata yang tadinya liar dan terutama melegalkan eksploitasi kekayaan alam, menjadi kekuatan yang disiplin.

Joseph Kabila: Kongo dapat dibangun kembali hanya dengan pemasukan dari pertambangan saja. Para penanam modal perlu keuntungan. Tetapi negara juga harus mendapatkan yang merupakan haknya.“

Persyaratan untuk itu tidaklah begitu buruk. Proses pemilu berjalan relatif aman. Pasukan PBB dan pasukan perdamaian Eropa telah menjalankan tugasnya sebagai stabilisator. Beberapa hari yang lalu Kabila menandatangani kesepakatan perdamaian dengan kelompok terakhir pemberontak.

Namun pada bulan-bulan mendatang masih harus dipastikan apakah saingannya Jean-Pierre Bemba benar-benar bersedia ikut serta dalam pembangunan politik Kongo. Proses perdamaian memang tidak hanya terdiri dari pemilu saja. Sekitar 60 juta warga Kongo mungkin harus menunggu satu generasi untuk benar-benar dapat mengenyam kekayaan negerinya.