Tuduhan Osama bin Laden: Barat Melancarkan Perang Salib | Fokus | DW | 25.04.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Tuduhan Osama bin Laden: Barat Melancarkan Perang Salib

Agar pemimpin jaringan teroris Al Qaida Osama bin Laden dan rekan-rekan sejawatannya tidak dilupakan oleh masyarakat internasional, mereka selalu mengusahakan agar ancaman mereka ditayangkan di media masa.

Osama Bin Laden

Osama Bin Laden

Kali ini bin Laden, dalam rekaman suaranya yang disiarkan oleh stasiun televisi Arab al-Jazeera akhir pekan lalu, menuduh negara Barat dan kaum Zionis melancarkan perang salib terhadap Islam.

"Pengucilan negara Barat terhadap partai Hamas Palestina, yang telah memenangkan pemilihan, merupakan bukti yang sangat jelas. Sebelumnya Syekh Aiman al-Dhawahari sudah memperingatkan agar tidak berunding dengan kaum Kafir. Toh, pada akhirnya negara Barat menolak pemerintah Hamas. Langkah itu membuktikan bahwa Barat dan kaum Zionis melancarkan perang salib terhadap Islam.“

Kemudian Osama bin Laden menambahkan:

"Sebut saja perang di Palestina, Irak, Afghanistan, Cechnya dan Pakistan. Mereka membom rumah-rumah kami sambil melemparkan senyuman dengan mengatakan: Kami tidak memerangi Islam, kami memerangi teroris. Kami hendak berdialog, dan ingin hidup berdampingan dengan damai. Akan tetapi, kenyataan menunjukkan sebaliknya. Politisi Barat mengandalkan dialog, dengan maksud mempermalukan kaum Muslim sekaligus mengulur waktu. Mereka bukan menginginkan gencatan senjata, mereka menginginkan agar senjata kami diam.“

Secara tidak langsung dengan kedua seruan tersebut Osama bin Laden menjelaskan, masyarakat Barat keseluruhan merupakan target serangan mereka.

"Saya serukan kepada kaum Mujahidin dan pendukungnya di Sudan dan negara-negara perbatasan untuk siap berperang melawan kaum Kafir di Sudan.“

Menurut seorang pakar terorisme dari Pusat Penilitian Politik Al-Ahram di Kairo Dia Rashwan, pilihan waktu untuk seruan bin Laden bertepatan dengan penolakan pemerintahan Palestina yang dibentuk oleh partai Hamas. Rashwan mengatakan:

"Ideologi al-Qaida sebetulnya menentang pemilihan demokratis. Bin Laden tidak mengritik Hamas, walaupun partai itu dipilih secara demokratis. Organisasi tersebut bagi dunia Islam Arab merupakan simbol perlawanan terhadap Israel dan Amerika Serikat, yang oleh bin Laden digambarkan sebagai setan.”

Pemerintah Amerika Serikat bersedia membayar 25 juta Dolar AS bagi yang berhasil menangkap pemimpin Al Qaida itu. Namun, seperti biasa tidaklah jelas kapan dan bagaimana rekaman suara Osama bin Laden - yang panjangnya hampir 10 menit itu - diperoleh oleh stasiun televisi Arab Al-Jazeera.