1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Donald Trump
Foto: AFP/M. Ngan

Trump Tangguhkan Dana untuk WHO dan Tuding ‘Salah Urus’

15 April 2020

Presiden AS Donald Trump resmi mengumumkan penangguhan dana untuk WHO karena dinilai salah mengelola dan menutupi penyebaran COVID-19. Keputusan ini tuai kritik dari Sekjen PBB.

https://www.dw.com/id/trump-tangguhkan-dana-untuk-who/a-53128006

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan pada Selasa (14/04) bahwa AS menangguhkan pendanaan untuk Badan Kesehatan Dunia (WHO) karena dinilai sangat salah mengelola dan menutupi penyebaran wabah COVID-19 di Cina sebelum menyebar di seluruh dunia.

Dalam konferensi pers, Trump mengatakan bahwa dia menginstruksikan pemerintahannya untuk menghentikan pendanaan sementara, sambil menunggu hasil tinjauan apakah benar WHO telah salah mengurus penyebaran virus yang kini menjadi pandemi dan menutupi penyebaran virus di masa awal penyebaran.

Amerika Serikat adalah donor utama untuk WHO yang berkantor pusat di Jenewa, Swiss. Pada tahun 2019, AS menyumbang lebih dari US $ 400 juta atau Rp 6 triliun, yakni sekitar 15 persen dari anggarannya.

Menurut Trump, WHO tidak transparan terhadap penyebaran wabah dan kini AS akan "mendiskusikan apa yang akan dilakukan oleh AS atas semua uang yang telah diberikan ke WHO."

"Dengan munculnya pandemi COVID-19, kami memiliki perhatian mendalam apakah kedermawanan Amerika telah dimanfaatkan sebaik mungkin,‘‘ ujar Trump

Trump meyakini WHO ‘berkomplot’ dengan Cina

Serangan Trump terhadap WHO mencerminkan keyakinannya bahwa organisasi itu bias dan berkolusi dengan Cina, untuk mencegah Cina dari kewajibanya agar lebih transparan terkait bencana kesehatan yang sedang berlangsung ini.

Trump mengatakan langkah WHO ini telah menghabiskan waktu krusial bagi negara-negara lain untuk mempersiapkan dan menunda keputusan untuk menghentikan perjalanan internasional.

"Serangan WHO terhadap pembatasan perjalanan menempatkan kebenaran politik di atas langkah-langkah penyelamatan jiwa," katanya.

"Seandainya WHO melakukan tugasnya untuk membawa para ahli medis ke Cina untuk menilai secara objektif situasi di lapangan dan menyebut kurangnya transparansi Cina, wabah itu bisa saja tertahan di sumbernya dengan kematian yang sangat sedikit," katanya.

Namun, banyak kritik mencuat karena pada kenyataannya selama berminggu-minggu setelah epidemi virus corona mulai terjadi, Trump sering memuji langkah Cina dan meremehkan bahaya yang akan timbul di negaranya sendiri.

Trump kini semakin kritis terhadap WHO ketika krisis kesehatan global terus berlanjut, dan dia marah  terhadap kritik yang dialamatkan kepada pemerintahannya karena dinilai lamban menangani penyebaran virus corona di AS.

Sekjen PBB kritik keputusan Trump

Keputusan penangguhan dana terhadap WHO langsung menuai kecaman. Presiden Asosiasi Medis Amerika Patrice A. Harris menyebutnya sebagai "langkah berbahaya ke arah yang salah yang tidak akan membuat penanganan COVID-19 lebih mudah" dan mendesak Trump untuk mempertimbangkan kembali keputusannya.

Korban meninggal akibat COVID-19 di AS mencapai 25.700 orang pada Selasa (14/04), dan lebih dari 600.000 orang terinfeksi COVID-19.

WHO adalah badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) - badan internasional independen yang bekerja dengan PBB.

WHO telah meminta lebih dari US $ 1 miliar atau Rp 15 triliun untuk mendanai operasi melawan pandemi. Badan ini membutuhkan lebih banyak sumber daya daripada sebelumnya karena WHO yang memimpin penanganan global terhadap penyakit tersebut.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan pada Selasa (14/04) bahwa "bukan waktunya untuk mengurangi sumber daya untuk operasi WHO atau organisasi kemanusiaan lainnya dalam memerangi virus".

"Sekarang adalah waktu bagi persatuan dan untuk komunitas internasional bekerja bersama dalam solidaritas untuk menghentikan virus ini dan dampaknya yang menghancurkan," katanya.

New York belum siap untuk pembukaan kembali di masa corona

Universitas Johns Hopkins pada Selasa (14/04) malam mencatat ada 2.228 kematian yang terkait dengan COVID-19 selama 24 jam terakhir. Jumlah korban jiwa meningkat tajam setelah dua hari angkanya sempat menurun.

Pandemi COVID-19 sekarang telah merenggut nyawa sedikitnya 25.757 orang di AS, dan menjadi yang terbanyak dibandingkan dengan negara mana pun di dunia.

Trump mengumumkan pada Selasa (14/04) bahwa AS akan segera dapat mencabut pembatasan di negaranya dengan "segera" dan mengatakan ia melihat "harapan" untuk AS kembali pulih.

Namun protes muncul pada Senin (13/04) ketika Trump memaksa para gubernur negara bagian untuk mengikuti arahannya tentang pembukaan kembali.

"Kami tidak memiliki Raja Trump, kami memiliki Presiden Trump," kata Gubernur New York Andrew Cuomo.

Sama agresifnya, Trump menanggapi di Twitter dengan menyamakan gubernur yang skeptis dengan pelaut pemberontak dalam film Mutiny on The Bounty.

Hingga akhirnya pada saat konferensi pers, Trump mengklarifikasi bahwa setiap gubernur akan mengambil keputusan kapan dan bagaimana melonggarkan pembatasan yang telah melumpuhkan ekonomi AS itu.

"Saya tidak akan menekan gubernur manapun untuk membuka kembali," kata Trump.

Trump mengindikasikan bahwa banyak negara bagian dengan populasi yang tidak sepadat New York dapat membuka kembali kegiatan perdagangan dan pertokoan dengan "sangat, sangat cepat, lebih cepat dari akhir bulan." Sementara New York bisa memakan waktu lebih lama. pkp/rap (Reuters, AFP)