Trump Peringatkan Turki Tidak Serang Kelompok Kurdi di Suriah | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 14.01.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

AS-Turki

Trump Peringatkan Turki Tidak Serang Kelompok Kurdi di Suriah

Presiden Donald Trump peringatkan Turki akan menghadapi konsekuensi ekonomi hebat jika menyerang pasukan Kurdi di Suriah. Tapi Turki menjawab "teroris tidak bisa jadi mitra kalian".

Presiden AS Donald Trump memperingatkan Turki tentang resiko konsekuensi sanksi ekonomi, jika menyerang pasukan Kurdi di Suriah setelah penarikan pasukan AS.

Lewat Twitter Trump hari Minggu (13/1) menulis, AS "akan menghancurkan Turki secara ekonomi jika mereka menyerang (pasukan) Kurdi." Dia juga mengatakan, pasukan AS menarik diri dari Suriah, namun akan kembali menyerang ISIS dari basis-basis terdekat jika mereka memperkuat diri lagi.

Trump juga menyerukan pembentukan zona aman dalam radius 20 mil (30 kilometer) di Suriah dan mengatakan, dia tidak ingin kelompok Kurdi yang merupakan sekutu AS melawan ISIS di Suriah "mencari konfrontasi dengan Ankara".

(Tweet: 1084584259510304768)

'Teroris tidak bisa menjadi mitra'

Hanya beberaja jam setelah pernyataan Trump, juru bicara kepresidenan Turki Ibrahim Kalin menjawab lewat Twitter, tidak ada perbedaan antara kelompok ISIS dan pasukan Kurdi di Suriah, YPG.

"Teroris tidak bisa menjadi mitra dan sekutu kalian," tulis Kalin. "Turki mengharapkan AS menghormati kemitraan strategis" kedua negara dan Turki tidak ingin membiarkan dirinya dibayangi propaganda teroris.

Komentar Donald Trump muncul setelah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan akan mengambil tindakan terhadap YPG, yang Turki anggap sebagai organisasi teroris yang berafiliasi dengan Partai Buruh Kurdi, PKK. Selama puluhan tahun PKK terlibat konfrontasi militer melawan kekuasaan Turki di kawasan warga Kurdi.

Syrien kurdische Kämpferinnen des YPG (picture-alliance/AP Photo)

Pasukan Pelindung Rakyat Kurdi (YPG) di Suriah, Mei 2016

AS optimis capai kesepakatan

Pekan lalu, Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton mengatakan, rencana penarikan pasukan AS dari Suriah bergantung pada janji Turki untuk tidak menyerang YPG. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menanggapi komentar Boltion sebagai "kesalahan serius."

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan hari Sabtu (12/1), dia optimis Amerika Serikat dan Turki akan mencapai kesepakatan tentang bagaimana melindungi pasukan YPG di Suriah.

"Kami yakin kami dapat mencapai kesepakatan terkait dua hal: melindungi Turki dari ancaman teror, dan mencegah segala resiko substansial bagi orang-orang yang tidak menimbulkan resiko teror ke Turki," kata Pompeo tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Pompeo mengatakan, dia sudah berbicara dengan rekannya dari Turki, Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu, dan mengakui masih ada "banyak detail yang masih harus dikerjakan." Namun Mike Pompeo menyatakan dia optimis kedua belah pihak dapat mencapai "hasil yang baik."

Bulan Desember lalu, pemerintah AS mengumumkan rencana untuk menarik sekitar 2.000 tentaranya dari Suriah. Langkah itu dilakukan setelah Trump menyatakan bahwa kelompok teroris ISIS telah dikalahkan di Suriah. Pernyataan itu dikritik mitra-mitra AS, termasuk Jepang dan Jerman.

hp/ts (afp, rtr, dpa)

 

Laporan Pilihan