Trump dan Erdogan Saling Umbar Pujian dalam Pertemuan di Gedung Putih | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 14.11.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

AS-Turki

Trump dan Erdogan Saling Umbar Pujian dalam Pertemuan di Gedung Putih

Satu bulan setelah operasi militer Turki di Suriah Utara, Presiden AS Trump menerima Presiden Turki Erdogan di Gedung Putih. Trump mengatakan, keduanya teman baik, tapi tetap tidak ada solusi untuk meredakan ketegangan.

"Saya penggemar Presiden Erdogan," ucap Presiden Trump dalam konferensi pers gabungan di Gedung Putih. Ia menggambarkan pembicaraan dengan presiden Turki ini sebagai pertemuan yang jujur dan produktif. Turki adalah mitra strategis penting AS dan hubungan perdagangan antar kedua negara mempunyai potensi besar, lanjut Trump. Presiden AS ini juga menyerukan agar Eropa memberikan lebih banyak bantuan keuangan untuk mengurus para pengungsi di Turki.

Terlepas dari pujian Trump atas pertemuan dengan Erdogan, kedua kepala negara tetap tidak berhasil mencapai kesepakatan dalam hal-hal yang meregangkan hubungan kedua negara. Turki marah karena AS mendukung pasukan Kurdi, yang dilihat Turki sebagai ancaman. Dalam konferensi pers Trump memberi sinyal, bahwa gencatan senjata antara Turki dan warga Kurdi di Suriah masih mandek. "Ini adalah situasi sulit, karena kedua pihak sudah saling berperang sejak ratusan tahun," kata Trump.

Sebaliknya AS merasa terancam karena kedekatan Turki dengan Rusia. Setelah pertemuan di Gedung Putih, Trump mengatakan, bahwa pembelian sistem pertahanan Tipe S-400 dari Rusia awal tahun ini telah menciptakan "tantangan serius". "Semoga kami bisa menyelesaikan situasi ini," lanjut Trump.

Washington Staatsbesuch Erdogan bei Trump (Reuters/T. Brenner)

Pertemuan Erdogan dengan Trump, didampingin para ibu negara Turki dan AS

Dilaporkan juga, bahwa sejumlah pembicaraan mengenai isu ini sudah dilakukan dan beberapa pertemuan lanjutan direncanakan di masa depan. Trump mengatakan, menteri luar negeri dan penasehat keamanan AS dilaporkan sudah ditugaskan untuk mencari solusi untuk masalah ini. Erdogan mengatakan, masalah ini hanya bisa diselesaikan dengan dialog.

Protes menentang kunjungan Erdogan

Di depan Gedung Putih puluhan orang memprotes Erdogan dan politiknya. Para demonstran antara lain membawa bendera milisi Kurdi YPG dan menyerukan: "Turki keluar dari Suriah" dan "Turki tak tahu malu!".

Menurut anggota Partai Republik dan Demokrat di Kongres, Trump tidak seharusnya bertemu dengan Erdogan. "Erdogan menekan kebebasan berbicara, menangkap para penentangnya dan melakukan banyak hal buruk lainnya di negara yang dulunya merupakan teladan demokrasi," ujar politisi demokrat Chuck Schumer.

Banyak perbedaan

Hubungan antara kedua mitra NATO Turki dan AS menegang karena beberapa topik sengketa. Trump menerima Erdogan dari Ankara sekitar satu bulan setelah dimulainya oeprasi militer di Suriah Utara. Pada tanggal 9 Oktober angkatan bersenjata Turki masuk ke Suriah Utara dengan para pemberontak yang bersekutu, untuk mengusir YPG dari wilayah perbatasan. YPG adalah sekutu angkatan bersenjata AS dalam perjuangan melawan milisi teror Negara Islam (IS). Sebaliknya, Turki melihat milisi Kurdi ini sebagai organisasi teror.

Trump lalu menarik tentara AS dari wilayah perbatasan Suriah Utara ini. Kritisi menuduh, dengan begitu Trump mengabaikan YPG. Undangan Trump kepada Erdogan juga mengundang kemarahan. Menurut  politisi demokrat Chuck Schumer, menggelar karpet merah bagi Erdogan setelah operasi militer di Suriah adalah perbuatan yang "mengherankan" dan "menjijikan".

Erdogan menggunakan kesempatan berkunjung di AS untuk membela operasi militernya di Suriah Utara. "Kami hanya melawan teroris, titik," kata Erdogan. "Jika kamu tidak melawan balik, kamu nanti harus membayar harga yang sangat tinggi."

Tema sengketa lainnya antara AS dan Turki adalah pembelian sistem pertahanan S-400dari Rusia oleh Turki. Amerika Serikat takut, bahwa Rusia melalui radar sensitif sistem pertahanan ini bisa mendapatkan data terkait kemampuan tembus pandang jet tempur F-35. Ankara merupakan mitra dalam membangun jet temput F-35 dan tadinya ingin membeli beberapa jet tempur tipe ini. Setelah transaksi dengan Moskau, AS mengeluarkan Turki dari program F-35.

ag/vlz (afp/rtr/dpa)

Laporan Pilihan