Trump Ancam Ambil Kuba, Díaz-Canel: Kami Akan Melawan
18 Maret 2026
Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel menanggapi ancaman pengambilalihan dari Donald Trump dengan mengatakan bahwa Amerika Serikat (AS) akan menghadapi “perlawanan yang tak terpatahkan” jika mencoba merebut negaranya.
Pernyataannya muncul saat Kuba menghadapi berbagai kesulitan ekonomi, yang sebagian besar dipicu oleh tekanan dari AS yang berupaya memutus aliran devisa dan minyak ke pulau Karibia tersebut.
Kuba tuding AS gunakan krisis sebagai alasan intervensi
Dalam pernyataannya di X, Díaz-Canel menuduh AS hampir setiap hari mengancam untuk menggulingkan tatanan konstitusional negaranya dengan kekuatan militer. Ia menyebut dalih ekonomi yang melemah sebagai sesuatu yang justru disebabkan oleh AS, yang menurutnya telah “menyerang dan mengisolasi” Kuba selama lebih dari enam dekade.
Ia mengatakan bahwa rencana pengambilalihan itu menjadi satu-satunya penjelasan atas “perang ekonomi yang ganas” yang ia nilai sebagai hukuman kolektif terhadap seluruh rakyat Kuba.
“Menghadapi skenario terburuk, Kuba memiliki satu jaminan: setiap agresor eksternal akan menghadapi perlawanan yang tak terpatahkan,” tulisnya.
Trump: AS bisa “mengambil” atau “membebaskan” Kuba
Pada Senin (16/3), Donald Trump mengatakan kepada jurnalis bahwa ia merasa akan mendapat “kehormatan untuk mengambil alih Kuba.”
“Apakah saya membebaskannya atau mengambilnya, saya pikir saya bisa melakukan apa pun yang saya inginkan terhadapnya,” lanjutnya.
“Mereka adalah negara yang sangat lemah saat ini,” katanya. “Negara gagal. Mereka tidak punya uang, tidak punya minyak, tidak punya apa-apa.”
Ia kembali menegaskan pernyataannya pada Selasa (17/3), dengan mengatakan bahwa “Kuba saat ini dalam kondisi yang sangat buruk.”
“Dan kita akan melakukan sesuatu terhadap Kuba dalam waktu dekat,” tambahnya.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan bahwa keputusan Kuba untuk mengizinkan warga diaspora berinvestasi dan memiliki bisnis belum cukup untuk memenuhi reformasi pasar bebas yang diinginkan oleh pemerintahan Trump.
Ancaman dari pemerintahan Trump periode kedua ini sejalan dengan rencana yang telah diumumkan untuk memperkuat dominasi AS di kawasan.
Setelah serangan di awal tahun 2026 di Venezuela yang berujung pada penangkapan presidennya, Nicolás Maduro, Trump menyatakan bahwa “dominasi Amerika di Belahan Barat tidak akan pernah dipertanyakan lagi.”
Bagaimana situasi di Kuba?
Kuba yang berhaluan komunis saat ini berada dalam salah satu krisis ekonomi paling parah sejak revolusi 1959 yang dipimpin oleh Fidel Castro.
Ekonomi Kuba telah lama melemah akibat embargo perdagangan AS, dan kebijakan terbaru dari AS semakin memperburuk kondisi tersebut.
Kuba baru saja mengakhiri pemadaman listrik selama lebih dari 29 jam, meskipun penyebabnya belum diumumkan.
Pemadaman ini merupakan yang pertama sejak AS memutus pasokan minyak dari Venezuela, salah satu sekutu utama Kuba yang selama ini memasok energi ke negara tersebut.
Kuba dan Amerika Serikat juga telah membuka pembicaraan untuk meredakan krisis.
Namun, kedua pihak belum memberikan rincian tentang negosiasi yang berlangsung, sementara Trump menggambarkan Kuba sebagai pihak yang sangat membutuhkan kesepakatan.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Yuniman Farid