1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Tren 2014: Liburan di Kawasan Krisis

Sabine Kinkartz7 Maret 2014

Petualangan di kawasan krisis mencuat di Pameran Pariwisata Internasional di Berlin. Bagaimana berlibur di Irak, Afghanistan atau kawasan kumuh di Mumbai, Rio de Janeiro dan Cape Town bisa menggoda pelancong asing?

https://p.dw.com/p/1BLg4
Symbolbild Irak Flüchtlinge
Foto: picture alliance / ZUMAPRESS.com

Terkadang kisah di layar lebar bisa menjadi inspirasi buat dunia nyata. Ketika film Slumdog Milionaire menyabet delapan piala Oscar dan empat Golden Globes 2008 silam, ribuan wisatawan asing membanjiri kawasan kumuh Mumbai. Hingga kini pemandu wisata masih menawarkan kunjungan eksotis itu, yang disebut juga sebagai "slumdog tour," kata sineas India, Loveleen Tandan.

Menurutnya pelancong asing ingin melihat dunia yang berbeda dari apa yang biasa mereka alami sehari-hari. Wisata bencana bukan hal baru. Sejak abad ke-19 kawasan kumuh New York sudah sering dilintasi turis yang penasaran.

Contoh terakhir adalah wisata Ground Zero di New York untuk melihat sisa-sisa serangan teror 11 September 2001. Sementara di kota-kota lain seperti Rio de Janeiro, Johannesburg atau Cape Town, berplesir ke kawasan miskin sudah menjadi program rutin.

Berwisata ke Irak

Kendati digemari, wisata eksotik semacam itu biasanya terbatas pada negara yang tergolong aman. Benar saja, di Pameran Wisata Internasional (ITB) di Berlin, gerai milik negara-negara seperti Yaman, Irak, Sudan dan Aljazair miskin pengunjung. Upaya tuan rumah menyedot perhatian dengan menampilkan konser musik etnis urung membuahkan hasil.

Ia tidak ingin menjelek-jelekkan negaranya, kata Mohammad Karim, direktur sebuah agen wisata, ketika ditanya seberapa aman Irak untuk wisatawan asing. Menurutnya ada banyak negara yang bisa menawarkan "stabilitas keamanan yang relatif."

"Jangan mencari informasi tentang Irak dari media-media, melainkan dari orang yang pernah berkunjung ke sana," kata Karim. Sebagian besar negara-negara Eropa dan Amerika Serikat masih memberlakukan peringatan perjalanan buat warganya yang ingin berpergian ke Irak.

"Saya harap kami bisa keluar dari pencitraan negatif yang beredar di media saat ini," ujarnya bernada penuh harap. Karim faham betul, Irak cuma menarik buat pelancong yang menganggap situasi keamanan di negeri itu sebagai bagian dari pengalaman wisata.

Petualangan Berbahaya

Permintaan terhadap paket wisata di negara-negara yang tergolong berbahaya sejauh ini nyaris tidak ada, kecuali buat sebagian wisatawan yang mencari petualangan di negeri orang. Sebuah agen travel Inggris misalnya, sejak 35 menawarkan paket wisata unik. Tahun ini Hiterland Travel menawarkan wisata di Irak, Pakistan Selatan atau 16 hari perjalanan di Afghanistan.

George Kurian, seorang fotografer dan jurnalis yang sering berplesir ke Afghanistan, kurang bisa memahami permintaan bertualang sebagian calon wisatawan. Menurutnya negeri di Hindukush itu tidak memiliki struktur keamanan yang memadai. Situasinya bahkan memburuk sejak beberapa tahun terakhir.

Kurian mengakui, jika ia melihat wisatawan di Afghanistan, ia bertanya-tanya, "Kenapa mereka bertaruh hidup demi bisa berlibur di sini?" Pelancong semacam itu menurutnya cuma "petualang gila". Walaupun sepakat bahwa pariwisata dapat mendorong pertumbuhan sebuah negara, Kurian yakin "saat ini bukan momen yang tepat untuk membangun jembatan," ujarnya.