Topan Durian di Filipina | Fokus | DW | 04.12.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Topan Durian di Filipina

Pemerintah Filipina mendeklarasikan bencana nasional sehubungan dengan amukan topan durian.

Seorang warga berusaha sembrangi anak sungai yang meluap di Legazpi, Albay

Seorang warga berusaha sembrangi anak sungai yang meluap di Legazpi, Albay

Pusat Koordinasi Bencana Nasional Filipina menyebutkan jumlah tewas sedikitnya 425 orang. Sementara lembaga berwenang lain menyatakan jumlah korban tewas lebih dari 1.000 orang. Topan dahsyat Durian terutama melanda Provinsi Albay dan menyebabkan tanah longsor serta banjir lumpur yang menenggelamkan beberapa desa di kaki gunung Mayon. Presiden Filipina Gloria Arroyo menjanjikan bantuan darurat 1 miliar Peso, atau senilai 184 miliar Rupiah, untuk pembangunan kembali kawasan bencana.

Pihak palang merah dan tim bantuan masih melanjutkan upaya evakuasi korban. Namun mereka menyatakan tidak ada harapan lagi bagi korban yang tertimbun lumpur. Hujan deras dan angin berkecepatan lebih 200 kilometer per jam mendera kaki gunung Mayon hari Kamis (30/11) malam. Di bawah hujan lebat, tanah dan batu-batuan di kaki gunung bercampur menjadi lapisan lumpur pekat yang kemudian membanjiri desa-desa. Ganangan lumpur mencapai ketinggian hampir 4 meter.

Hari Minggu (03/12) kemarin, tersebar isu air pasang tsunami di daerah pantai di Provinsi Albay. Hal tersebut mengakibatkan masyarakat panik dan segera melarikan diri meninggalkan rumah-rumah mereka di pantai. Gubernur Provinsi Albay Fernando Gonzales menerangkan: "Ribuan orang menjadi panik. Mereka lari dari desanya, ada yang dengan bis. Situasi yang mengkhawatirkan.“

Puluhan ribu penduduk dari desa-desa di kaki gunung Mayon sekarang di tampung di sekolah-sekolah, ruang gereja dan ruang publik lain. Mereka disebar di berbagai tempat di luar kawasan bencana. Menurut laporan tim penolong, yang sangat dibutuhkan di kawasan bencana adalah air minum, bahan makanan dan obat-obat-an. Banyak korban mengeluh bantuan belum sampai. Evelyn, salah satu korban menenrangkan: "Kami belum mendapat bantuan. Pemerintah harusnya cepat menolong. Kami tidak punya apa-apa lagi. Semua hancur.“

Menurut keterangan palang merah setempat, bantuan internasional sudah mulai berdatangan. PBB, Kanada dan Australia sudah mengucurkan dana. Sementara Jepang, Malaysia dan Indonesia sudah mengirim barang bantuan berupa tenda, bahan makanan dan tanki air bersih. Pihak palang merah masih terus mendata kerusakan dan kawasan yang perlu bantuan. Militer Filipina mengerahkan kapal laut dan pesawat untuk membawa bantuan ke ibukota Provinsi Albay, Legazpi.

Topan Durian menghancurkan ratusan ribu rumah, jalan, jembatan dan jaringan infrastruktur. Ini adalah topan dahsyat ke empat yang melanda kawasan ini dalam tiga bulan terakhir. Departemen Meteorologi Malaysia hari Senin (04/12) mengeluarkan peringatan waspada kategori II dan tiga, terutama untuk kawasan Sabah dan Sarawak. Di Indonesia, ekor topan Durian mempengaruhi cuaca di bagian Sumatera bagian utara sehingga intensitas hujan meningkat, tapi tidak mengakibatkan badai maupun topan.

Sekarang, topan Durian bergerak ke Vietnam dengan kecepatan yang mulai menurun. Pemerintah Vietnam tetap berjaga-jaga. Di berbagai kawasan pantai diberlakukan situasi siaga bencana. Pihak berwenang di Filipina memperkirakan, bulan Desember musim angin topan akan berlanjut.