Tony Blair dan Empat Tahun Perang Irak | dunia | DW | 20.03.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Tony Blair dan Empat Tahun Perang Irak

Citra Tony Blair sangat dipengaruhi oleh sikapnya mendukung Amerika Serikat dalam perang di Irak.

default

Ketika terpilih sebagai Perdana Menteri tahun 1997, Blair punya visi yang lain, yaitu dunia tanpa perang.

Tony Blair: „Generasi saya adalah generasi pertama yang bisa menikmati hidup tanpa perang, dan tidak perlu mengirim anak-anaknya ke medan perang. Sesuatu yang sangat berharga.”

Ternyata, kenyataannya kemudian lain. Blair mendukung penuh perang yang dilancarkan Amerika Serikat di Irak. Loyalitas tanpa batas kepada Amerika Serikat membuat publik Inggris dan sayap kiri di Partai Buruh marah. Tapi Tony Blair tidak mengindahkan berbagai aksi protes di London dan keraguan para pengeritiknya. Beberapa bulan sebelum Amerika Serikat memulai perang di Irak, pemerintahan Blair merilis beberapa laporan dinas rahasia untuk meyakinkan publik, bahwa Irak memang berbahaya. Blair sendiri mengatakan dihadapan parlemen:

Tony Blair: “Sekarang adalah saatnya bagi parlemen, tidak hanya bagi pemerintah, tidak hanya bagi Perdana Menteri, melainkan juga bagi parlemen ini, membuktikan kemampuan memimpin. Menunjukkan bahwa kita akan mempertahankan apa yang kita yakini sebagai hal yang benar. Menunjukkan bahwa kita akan menghadapi tirani dan terorisme yang mengancam kehidupan kita. Menunjukkan bahwa pada saat keputusan perlu dijatuhkan, kita punya keberanian untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan.”

Namun kritik terus bermunculan. Para penentang Blair kemudian mengejejk Perdana Menteri Inggeris sebagai “anjing pudel Presiden Bush”. Situasi di Irak terus memburuk. Para politisi dan juga pejabat militer Inggris sendiri tidak puas dengan situasi di Irak, termasuk dengan strategi Amerika Serikat yang sering melakukan operasi sendiri tanpa berkomunikasi dengan aliansinya. Hal ini dikeluhkan oleh Jendral Mike Jackson, mantan komando militer Inggris:

„Yang paling sulit, kalau ingin menerapkan titik berat lain daripada Amerika Serikat. Tentu saja, untuk mitra aliansi yang lebih kecil dan lemah, situasi ini membuat frustasi.“

Menjelang akhir masa jabatannya, Tony Blair mulai mengubah pandangan tentang perang Irak. Akhir tahun lalu ia untuk pertama kalinya menyebut perang di Irak sebagai bencana. Lebih 130 serdadu Inggris tewas sejak perang dimulai. Blair lalu mengumumkan penarikan sekitar 1600 tentara Inggris dari Irak, langkah yang berlawanan daripada strategi Amerika Serikat, yang justru ingin mengirim pasukan tambahan ke Bagdad.

Namun bagi para pengeritiknya, Tony Blair tetap akan dihubungkan dengan politik Irak yang dianggap gagal. Demikian pendapat Clare Short, mantan menteri di kabinet Blair, yang kemudian mundur karena memprotes politik Irak Perdana Menterinya.

Iklan