TNI Didirikan Bukan Oleh Ulama dan Tidak Memprioritaskan Keulamaan? | DWNESIA: Wadah bagi komunitas DW untuk berbagi kisah dan pendapat | DW | 26.12.2020
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

kolom

TNI Didirikan Bukan Oleh Ulama dan Tidak Memprioritaskan Keulamaan?

Ada sifat dasar serupa antara ketentaraan dan keulamaan. Keduanya menekankan pentingnya ketokohan seseorang dalam sebuah jalinan alur komunikasi yang harus dipatuhi. Apa itu? Opini Rahadian Rundjan.

Tentara berlatih

Gambar ilustrasi

Yang harus dipatuhi baik di ketentaraan misalnya berupa seruan-seruan tempur, sedangkan keulamaan adalah wejangan keagamaan. Posisi seorang jenderal dan kyai bernilai tinggi bagi mereka yang menghormatinya, prajurit harus tunduk pada jenderalnya, sebagaimana juga santri terhadap kyainya. Irisan kecil ini adalah jawaban mengapa ciri keislaman hadir sebagai salah satu komponen dalam nuansa sejarah kemiliteran Indonesia, khususnya pembentukan Tentara Nasional Indonesia (TNI), di masa silam.

Namun, sebuah hal keliru jika menganggap bahwa TNI dibentuk oleh ulama, seperti diucapkan oleh Slamet Maarif dari Front Pembela Islam (FPI) dan Persaudaraan Alumni (PA) 212 beberapa waktu silam. Ia ingin menyinggung keterlibatan TNI dalam peristiwa penurunan baliho-baliho Rizieq Shihab dan gelagat agresif terhadap kelompoknya sebagai kekeliruan, mengingat, sebagaimana disampaikannya, “TNI didirikan oleh ulama (Jenderal Sudirman), dan dari dulu menyatu dengan umat Islam”. Lebih lanjut, ia menyerukan agar TNI jangan mau diadu dengan ulama dan umat Islam.

Di era Reformasi ini, TNI memang mengambil peran pasif dalam panggung politik Indonesia dibandingkan di masa Orde Baru silam. Agresifnya TNI dalam merespon fenomena kepulangan Rizieq Shihab dan kenaikan tren fundamentalisme tanah air yang mengikutinya dapat dikatakan mengejutkan. Pangdam Jaya, Mayjen Dudung Abdurachman, bahkan berkata sudah siap “menghajar” kelompok-kelompok yang dianggap menjadi ancaman persatuan dan kesatuan Jakarta. Dengan diadakannya patroli-patroli TNI di sekitar markas FPI Petamburan belakangan ini, rasanya mudah mengetahui kelompok mana yang ia maksud.

Sentimen Keislaman dalam Kemiliteran Indonesia

Ketika tulisan ini dibuat, Rizieq Shihab telah ditetapkan sebagai tersangka kasus kerumunan massanya di Petamburan, yang polisi anggap mengabaikan protokol kesehatan. Selain itu, dalam konferensi pers terkait peristiwa baku tembak di tol Cikampek antara polisi dengan anggota FPI, Pangdam Jaya turut hadir. Pengamat dan publik melihat gestur itu menunjukkan bahwa tentara bertindak terlewat batas terhadap urusan-urusan sipil, namun sikap itu juga merupakan bentuk penegasan bahwa keagamaan Islam hanyalah sentimen kecil bagi seorang tentara Indonesia modern.

@RahadianRundjan adalah esais, kolumnis, penulis dan peneliti sejarah

Penulis: Rahadian Rundjan

Meskipun begitu, di masa lalu Islam memang menjadi salah satu motor penggerak utama gerakan militer orang-orang Indonesia. Raja-raja nusantara, khususnya di Jawa dan Sumatra, menggunakan sentimen keislaman untuk mengerahkan pasukan dan memerangi penjajah-penjajah Eropa. Para pemimpin militer sesudahnya seperti Diponegoro dan Imam Bonjol menggunakan strategi serupa untuk memberontak terhadap raja-raja mereka yang dianggap zalim karena bersekutu dengan Belanda. Begitu pula pada 1888 di Banten, para haji berhasil mengumpulkan massa tani dan memimpin kerusuhan, menyerang aparat-aparat kolonial di sana.

Sentimen keislaman muncul karena Islam merupakan agama mayoritas penduduk dan selarasnya semangat jihad dengan asa orang-orang Indonesia untuk merdeka. Karena itulah pada tahun-tahun awal kemerdekaan, wajah Islam begitu militan. Seruan-seruan takbir menjadi awam bersanding dengan seruan-seruan merdeka di medan-medan pertempuran. Tetapi para perancang dan petinggi militer Indonesia tidak berniat membentuk dan mengembangkan organisasi militer yang isinya hanya prajurit-prajurit beragama Islam dan berciri keislaman, namun sebuah ketentaraan Indonesia modern yang berideologi nasionalis, profesional, dan berstruktur jelas.

Organisasi tentara seperti itulah yang menjadikan Jenderal Sudirman tidak dikenal dalam sejarah ketentaraan Indonesia sebagai ulama dan kepemimpinannya sebagai bentuk keulamaan, meskipun ia memang seorang guru dan kader Muhammadiyah. Bahkan keislaman Sudirman tercatat sinkretis. Ia menggemari benda-benda pusaka, dan keris yang sering terlihat terselip di pinggangnya disebut-sebut memberikannya kesaktian kala menghadapi tentara Belanda. Sejarawan kebatinan dan religi Jawa, Paul Stange, bahkan menyebut Sudirman hadir dalam kongres aliran kepercayaan Sumarah pertama di Yogyakarta pada 1948.

Para perancang dan jenderal-jenderal pemula organisasi ketentaraan Indonesia justru tercatat banyak yang berasal dari kalangan agama lain. Misalnya Urip Sumoharjo, Kepala Staf Umum TNI pertama, yang beragama Katolik. Ada pula T.B. Simatupang yang seorang Kristen Protestan. Begitu pula dengan Gatot Subroto (Buddha) dan I Gusti Ngurah Rai (Hindu), yang dihormati bukan karena agamanya namun kiprahnya sebagai prajurit-prajurit terbaik Indonesia selama masa perang mempertahankan kemerdekaan. Rasanya adil untuk menyebut kalau saat itu orang-orang Islam hanyalah bagian terbesar dari populasi tentara Indonesia.

Sentimen keislaman-militeristik baru muncul dengan kental pada 1950-an, bahkan mereka yang dianggap sebagai ulama didaulat menjadi pemegang komando tempur. Tetapi fenomena ini justru terjadi di luar tubuh TNI. Gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang bertujuan mendirikan negara Islam di Indonesia muncul sebagai antitesis dari ideologi TNI yang nasionalis. Pemimpinnya, seperti Kartosuwirjo dan Daud Beureuh, menampilkan dirinya juga sebagai pemimpin agama (imam) di samping pemimpin perang, sesuatu yang tak ada dalam struktur TNI.

Adapun yang bisa disebut sebagai “imam” dalam tubuh TNI hanyalah jabatan bagi guru-guru agama di dalam TNI, seperti yang pernah dijabat Bey Arifin, ulama asal Minangkabau, ketika ia menjadi imam tentara di Pusat Rohani Islam Angkatan Darat (Pusrohis AD), Kodam Brawijaya. Tugasnya berceramah dan mengangkat moral prajurit-prajurit Muslim TNI. Posisi ini tentu menjadi krusial pada akhir 1950-an dan awal 1960-an ketika bentrokan psikologis antara tentara dan kelompok komunis dalam panggung politik Indonesia kian terjadi terang-terangan.

Awalnya kelompok Islam merupakan sekutu utama Orde Baru dalam membendung kelompok komunis dan menjaga isu komunisme tetap hidup di masyarakat untuk melegitimasi kekuasaan militer. Namun, terjadinya Peristiwa Tanjung Priok (1984) dan Talangsari (1989), menunjukkan bahwa Suharto tidak ingin memberikan posisi lebih tinggi kepada kelompok Islam di Indonesia. Sampai akhirnya pada 1990-an muncul isu TNI Merah-Putih, identik dengan kelompok Jenderal L.B. Moerdani yang nasionalis dan TNI Hijau, kelompok jenderal-jenderal yang dekat dengan kelompok Islam, seperti ulama, kyai, pemimpin-pemimpin ormas Islam.

Antara Jiwa Korsa dan Cinta Ulama

Pada bulan-bulan awal era Reformasi 1998, tentara membuat Pasukan Pengamanan Masyarakat Swakarsa (Pam Swakarsa) dengan elemen kelompok Islam militan sebagai tulang punggungnya. FPI, didirikan pada tahun yang sama, mulai membangun reputasi nasionalnya sebagai ormas Islam radikal semenjak ikut bernaung dalam Pam Swakarsa. Karena itu, banyak orang melihat konflik FPI-tentara sekarang sebagai pertanggungjawaban tentara untuk “mengatur” anak didiknya. Atau lebih tajamnya, melihat upaya saling sikatnya kedua kubu yang identik dengan kekerasan dan kesewenang-wenangan tersebut adalah fenomena menguntungkan bagi demokrasi sipil Indonesia.

Sebagaimana sejarah memperlihatkan, perasaan keislaman adalah sekedar sentimen yang kerap digunakan dalam berbagai kesempatan secara oportunis dan pragmatis oleh tentara dalam panggung politik sipil. Tentu di dalam hatinya seorang prajurit pasti memiliki preferensi politik tersendiri; bahkan rasa cinta terhadap ulama seperti Rizieq Shihab. Namun, perasaan itu bukan untuk diekspresikan terang-terangan karena akan mencederai jiwa korsa institusi TNI itu sendiri.

Kesimpulannya, kultur keulamaan bukanlah bagian vital dalam kepribadian TNI. TNI lahir dan berkembang dengan sekian komponen kebangsaan untuk kemudian membentuk identitasnya sendiri. Pernyataan pihak FPI tentang “TNI dibentuk ulama” hanyalah ungkapan kekesalan karena mereka tiba-tiba harus berhadapan secara frontal dengan musuh tak terduga, yang sikap pasifnya selama era Reformasi menguntungkan aksi-aksi radikal mereka selama ini. Entah apakah keterlibatan TNI ini lantas mengakibatkan berakhirnya kiprah FPI dan Rizieq Shihab dalam panggung politik Indonesia, jelasnya kedewasaan Indonesia dalam berdemokrasi tengah diuji sekarang.

 

@RahadianRundjan adalah esais, kolumnis, penulis dan peneliti sejarah


*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWnesia menjadi tanggung jawab penulis
*Silakan berbagi komentar pada kolom di bawah ini. Terima kasih.