Tipu-tipu Money Changer, Bikin Pariwisata Bali Tercoreng | INDONESIA: Laporan topik-topik yang menjadi berita utama | DW | 14.10.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

TRAVEL

Tipu-tipu Money Changer, Bikin Pariwisata Bali Tercoreng

Turis Latvia, terkena tipu oleh pihak money changer di Bali. Peristiwa ini kerap terjadi dan memberi dampak buruk bagi sistem pariwisata di Bali.

Baru-baru ini, kasus penipuan money changer di Bali terhadap turis menjadi viral. Tentu, itu bikin pariwisata Bali tercoreng.

Pada Selasa (8/10) lalu, sebuah kejadian viral di sosial media. Kejadian berupa seorang pemandu wisata bernama Bonik Ingunau, marah-marah di tempat money changer di Kuta, Bali.

Sebabnya, money changer itu menipu Thomas, turis asal Latvia. Diketahui, Thomas pernah memakai jasa wisata dari Bonik dan meminta bantuan Bonik karena merasa ditipu oleh pihak money changer. 

Mulanya, Thomas mau menukar uang sebesar 300 euro ke rupiah. Pihak money changer pun memberikan angka Rp 4,6 juta. Namun begitu Thomas sampai di penginapan dan menghitung ulang uang itu, jumlahnya hanya Rp 2,6 juta.

Barulah setelah itu, Thomas menghubungi Bonik dan meminta tolong. Bonik pun mendatangi pihak money changer dan meminta uang Thomas dikembalikan, yang akhirnya ditambahkan sisa rupiahnya.

Baca Juga: Tumbuhnya Fenomena "Begpacker", Kebijakan Bebas Visa Perlu Dikaji Ulang?

Lewat kejadian ini, beberapa media internasional menyoroti pariwisata Bali. Sebabnya, tipu-tipu money changer merupakan salah satu aksi penipuan oleh oknum tertentu.

News Australia, media asal Australia misalnya melansir artikel berjudul 'The 10 most common scams to avoid while on holiday in Bali'. Isinya, adalah 10 penipuan yang sering terjadi di Bali.

Beberapa di antaranya yakni penipuan money changer, tarif taksi, dan pijat tradisional. Tentu dalam penipuan tersebut, turis akan ditipu dan diperas uangnya.

Dalam wawancara dengan detikcom baru-baru ini, Ketua Bali Tourism Board, Ida Bagus Partha Adnyana, menyayangkan kejadian penipuan money changer di Bali yang viral. Menurutnya, itu tentu bisa membuat nama baik pariwisata Bali tercoreng.

"Dalam dunia pariwisata hospitality dan honesty menjadi kunci keberhasilan Pariwisata selain keamanan. Oleh karena itu semua komponen pariwisata wajib melaksanakan itu semua," terangnya.

Semoga nantinya, tidak ada lagi tipu-tipu money changer dan lainnya di Bali, serta di daerah Indonesia lainnya.

Baca juga: Hotel Trump Bisa Sebabkan Krisis Air di Bali 

Tipu-tipu kerap terjadi

Menurut si pemandu wisata, itu bukanlah kasus pertama yang terjadi. Diwawancara eksklusif oleh detikcom, Selasa (8/10), Bonik Ingunau memberikan konfirmasi atas video tersebut.

"Iya, saya membantu mantan costumer saya dulu, namanya Thomas. Ia mengaku ditipu oleh money changer," ujar Bonik.

Kejadian ini rupanya bukan kali pertama untuk Bonik. Sebelum Thomas, Bonik pernah menangani masalah yang sama dari dua wisatawan asing yang jadi konsumennya.

"Pertama kali pernah sama wisatawan asal Singapura. Waktu itu hari terakhir liburan, saya jemput mereka di hotel. Mereka cerita habis kena tipu di money changer sekitar Seminyak," jelas Bonik.

Setelah mengetahui lokasinya, Bonik datang meminta kekurangan uang konsumennya. Waktu itu uang yang kurang sekitar Rp 500.000-an.

"Saya datang ke money changer tersebut dan minta kekurangan uang kostumer saya. Begitu saya terima uangnya dan mau pergi, bosnya datang dari belakang. Dia nanya ngapain datang ke tempatnya," jelas Bonik.

Bonik pun menjawab tanpa rasa takut. "Tanya aja sama pegawainya," tukas Bonik.

Indonesische Tänzerinnen Jembrana, Bali (picture-alliance/dpa/M. Nagi)

Sekitar 5,5 juta wisatawan asing datang ke Bali sepanjang tahun. Posisi pertama turis asal Cina, disusul Australia dan India

Kejadian serupa kembali dialami oleh salah satu konsumen Bonik. Sepasang wisatawan asal Kanada melihat money changer dengan rate tinggi di sekitaran Sanur.

"Kalau yang kedua ini lebih karena coba-coba. Customer asal Kanada lihat ada money changer yang rate-nya tinggi. Saya larang, saya bilang itu penipuan," jelas Bonik.

Namun pasangan turis ini penasaran. Mereka tak percaya ada penipuan di siang hari. Menurut penuturan Bonik, mereka tak keberatan rugi sedikit untuk membuktikan hal tersebut.

"Waktu itu mereka mau tukar USD 100, pas lagi hitung uang, saya datang dari belakang. Saya langsung tanya sama mbak yang jaga, berapa rate-nya di situ," cerita Bonik.

Dengan gelagapan, sang Penjaga money changer berkata bahwa rate yang dipajang salah tulis. "Dia bilang rate-nya ngikutin bank, tapi enggak berani bilang nominalnya," tutur Bonik.

Tahu bahwa telah ditipu, pasangan turis ini pun batal tukar uang.

"Yang kaya gini sudah sering terjadi di Bali. Dari pihak berwajib terkesan membiarkan. Banyak yang enggak punya izin usaha. Kalau gini kan namanya penipuan," ungkap Bonik.

Penipuan ini kebanyakan berkedok money changer. Dengan kecepatan tangan, mereka menghitung uang di depan kostumer dan menjatuhkannya sebelum diberikan.

"Kalau sudah dihitung berulang kali, customer jadi segan buat menghitung ulang. Padahal waktu mau dikasih, uangnya mereka jatuhkan atau disembunyikan dengan cepat. Semua kecepatan tangan," kata Bonik.

Untuk itu wisatawan diminta untuk berhati-hati ketika memilih money changer. Kemudian, hitung kembali uang yang diterima. Jangan sampai tertipu dan baru menghitungnya di rumah.

(Ed: pkp/ts)

Baca artikel selengkapnya di: detiknews 

Tipu-tipu Money Changer, Bikin Pariwisata Bali Tercoreng

Laporan Pilihan

WWW Link