Timor Leste Belum Pulih | Fokus | DW | 09.05.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Timor Leste Belum Pulih

Timor Leste sepertinya tidak pernah berhenti terkena masalah. Situasi yang belum kembali normal seutuhnya, terganggu oleh aksi kerusuhan yang kembali memakan korban.

Warga Timor Leste di kota Dili

Warga Timor Leste di kota Dili

Timor Leste kembali diguncang kerusuhan. Sekitar 40 orang ditangkap menyusul aksi penyerangan terhadap anggota unit gerak cepat (UIR) di distrik Gleno, Ermera, hari Senin (8/5) kemarin. Lokasi kejadian terletak sekitar 35 kilometer sebelah selatan kota Dili. Akibat serangan tersebut, seorang anggota UIR tewas dan tiga rekannya terluka.

Massa yang berjumlah sekitar 1000 orang tersebut hadir di Ermera untuk menyampaikan sikap menyangkut regionalisasi kepada Sekretaris Negara Regional III, Isidio Jesus. Massa baru bisa dibubarkan setelah polisi mengeluarkan tembakan peringatan ke udara. Namun, menurut Direktur Yayasan Hukum, Hak Asasi dan Keadilan, Jose Luis, kejadian tersebut tidak terlalu mempengaruhi situasi di Dili yang sebenarnya sudah mulai mereda.

Efek yang kemarin sebenarnya tidak sampai membuat ketakutan masyarakat karena yang terjadi itu di luar kota Dili dan tadi pagi polisi memberitakan bahwa mereka dapat mengendalikan situasi di distrik tersebut.”

Meskipun situasi di Dili berangsur normal, pengungsian warga negara Indonesia dari Dili dikabarkan masih terus berlangsung. Primanto Hendrasmoro, Penasehat Politik Duta Besar Indonesia di Timor Leste mengatakan, masih banyak yang mengungsi karena ketakutan akan kemungkinan adanya konflik baru.

Pemerintahan Timor Leste sebenarnya telah menugaskan tiga komisi yang bekerja sama dengan badan independen untuk mengatasi kemelut akibat kerusuhan April lalu. Ketiga komisi tersebut antara lain bertugas untuk mengidentifikasi korban dan rumah-rumah yang dibakar saat kerusuhan, mengkoordinir pelayanan darurat bagi para pengungsi, dan melakukan penyelidikan terhadap laporan perlakuan diskriminasi dalam tubuh militer.

Komisi yang terakhir tersebut dibentuk untuk memenuhi tuntutan pihak demonstran. Pembentukan komisi tersebut dinilai positif oleh Jose Luis dari Yayasan Hukum, Hak Asasi dan Kedilan. Namun, menurutnya langkah tersebut belumlah cukup.

Persoalannya bukan semata-mata mengidentifikasi berapa orang yang mati, berapa rumah yang dibakar. Ini kan harus ada upaya penegakan hukumnya. Sehingga disini ada upaya untuk mendesak untuk harus ada tindakan hukum terhadap orang-orang yang melakukan pelanggaran.”

Kerusuhan April lalu, merupakan peristiwa terparah yang dialami Timor Leste semenjak merdeka tahun 1999. Kerusuhan tersebut diawali oleh gelombang unjuk rasa minggu lalu berkaitan dengan ketidakpuasan sekitar 600 tentara Timor Leste yang merasa didiskriminasi dan kemudian dipecat secara massal. Akibatnya, ribuan warga Dili mengungsi ke luar kota menyusul beredarnya isu akan terjadi perang saudara di Timor Leste. (vd)