Tim Pendahulu Kontingen Indonesia ke Libanon Diberangkatkan | Fokus | DW | 09.11.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Tim Pendahulu Kontingen Indonesia ke Libanon Diberangkatkan

Tim yang terdiri dari 125 personel TNI ini, berangkat 2 minggu lebih awal dari Tim Induk atau Main Body yang dijadwalkan tiba 24 November mendatang.

Putra sulung Presiden Yudhoyono, Agus Harimurti, termasuk dalam 125 personel tim pendahulu Kontingen Garuda 23 A, yang keberangkatannya dilepas langsung oleh Presiden Yudhoyono di Bandara Soekarno Hatta, Rabu (08/11) malam.

Tim pendahulu ini bertugas mengkoordinasikan kedatangan tim induk, mulai dari mengatur penempatan pasukan, tenda dan markas yang akan digunakan hingga koordinasi dengan kontingen pasukan perdamaian negara lain. Demikian dijelaskan erwira penerangan Kontingen Garuda, Mohammad Irawadi.

Kontigen Indonesia akan menjadi bagian dari 15 ribu Pasukan Perdamaian PBB atau UNIFIL, yang bertugas mengawasi pelaksanaan gencatan senjata antara Israel dengan kelompok militan Hisbullah di Libanon. Mereka akan bertugas selama sekitar setahun bersama kontingen dari negara lain seperti Malaysia, Bangladesh, Italia dan Jerman. Kontingen Indonesia, yang terdiri dari satu batalyon tentara ini, dilengkapi dengan persenjatan lengkap termasuk 32 panser VAB yang baru dibeli dari Prancis dan sempat menuai protes parlemen karena harganya terlalu mahal.

Irawadi menyampaikan, selama di Libanon, kontingen ini rencananya akan ditempatkan di dua tempat. Pertama di kota Mays Al Jabal dan satu batlyon infantri mekanis di kota Bilda. Totalnya 850 personel, yang merupakan gabungan antara Mabes TNI Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara serta 3 orang dari Departemen Luar Negeri.

Keikutsertaan Indonesia mengirimkan pasukan perdamaian di mulai sejak tahun 1957. Kontingen Garuda pertama dikirim Januari 1957 ke Mesir, dan berlanjut hingga sekarang. Presiden Yudhoyono pernah tergabung dalam kontingen Garuda saat misi perdamaian ke Bosnia-Herzegovina tahun 1993. Selama ini, salah satu alasan keterlibatan Kontingen Garuda adalah untuk menunjukan kontribusi Indonesia dalam perdamaian dunia.

Namun menurut pengamat Luar Negeri Lembaga Penelitian CSIS, Bantarto Bandoro, secara khusus kehadiran Kontingen Garuda di Libanon akan menguatkan peran Indonesia di mata internasional dan negara-negara Islam dalam menyelesaikan konflik di Timur Tengah. Meski demikian, Bantarto menyatakan, dalam misi kali ini, Kontingen Garuda akan menghadapi ujian berat untuk bersikap netral, mengingat adanya ikatan solidaritas Islam yang kuat antara Indonesia dengan Hisbullah.