Tiga Tahun Perang Irak | Fokus | DW | 19.03.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Tiga Tahun Perang Irak

60 persen warga AS menilai politik Bush di Irak salah sasaran.

Tentara AS di Irak

Tentara AS di Irak

Tiga tahun lalu, tanggal 20 Maret, Amerika Serikat memulai serangan ke Irak. Perang Irak 'secara resmi' telah berakhir, tapi kekerasan masih merupakan kejadian sehari-hari di Irak. Dan militer Amerika Serikatpun masih ditempatkan di Irak, dengan 'tujuan' untuk membantu menjaga stabilitas di Irak.

Minggu lalu, Presiden Bush menyampaikan serangkaian ceramah agar masyarakat AS mendukung perpanjangan misi di Irak. Di Universitas George Washington, Presiden Bush awal minggu lalu menyampaikan gentingnya situasi di Irak

George W. Bush: "Sebenarnya saya sangat ingin melaporkan, bahwa kekerasan berkurang di Irak dan negara itu berada di jalan yang aman. Namun kenyataannya tidak begitu. Di sana perang masih berlangsung. Dalam minggu-minggu dan bulan-bulan berikut, gambar-gambar tentang kerusuhan dan pertumpahan darah masih akan terus terlihat.“

Meski begitu Bush optimis bahwa dengan bantuan pasukan AS, Irak akan bisa mengatasi masalahnya dalam jangka panjang. Di akhir ceramahnya Bush berjanji:

George W. Bush: "Kami tidak akan membiarkan keluarga yang Anda cintai tewas percuma di Irak. Kami akan menyelesaikan apa yang telah kami mulai, kami akan menjalankan misi itu sampai tuntas. Kami akan meninggalkan sebuah demokrasi, yang mampu memerintah, berdiri sendiri dan membela diri.“

Sampai sekarang perang Irak telah menelan korban lebih dari 2.300 tentara Amerika Serikat. Pakar keamanan, seperti Michael O’Hanlon dari Brookings Institute menilai negatif perkembangan beberapa bulan terakhir ini.

Michael O' Hanlon: "Sejak musim dingin jumlah tentara Amerika yang tewas setiap bulannya memang sedikit menurun. Meski begitu, situasi di Irak ditandai kekerasan yang luar biasa, juga di antara kelompok-kelompok masyarakat. Secara politis dan ekonomis, hampir tidak ada perkembangan apa pun juga.“

Hal ini merupakan salah satu alasan meningkatnya ketidak-puasan rakyat Amerika terhadap situasi di Irak. Jajak pendapat yang diselenggarakan kantor berita AP menunjukkan, 60 persen partisipan menilai negatif politik Amerika Serikat yang dijalankan di Irak. Sementara 70 persen percaya, ancaman perang saudara masih sangat tinggi.

Para politisi dari kubu demokrat menuntut agar musim panas ini pasukan Amerika Serikat dikurangi, khususnya bila Irak gagal membentuk pemerintahan. Sementara, David Gergen, profesor politik di Universitas Harvar mengatakan:

David Gergen: "Detik-detik yang menentukan di Irak bertambah dekat. Kami bergerak menuju suatu keputusan: 'berhasilkah Irak membentuk sebuah pemerintahan dan meredakan kekerasan yang berlangsung agar kita bisa mengundurkan diri secara terhormat atau tidak' Pertanyaan inilah akan harus diputuskan dalam waktu mendatang.“ (ek)