Tiga Anggota DK PBB Tolak Usulan Resolusi Baru Iran | dunia | DW | 22.03.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Tiga Anggota DK PBB Tolak Usulan Resolusi Baru Iran

Qatar, Afrika Selatan dan Indonesia sepakat untuk menolak rancangan resolusi baru Iran yang diusulkan negara pemilik veto. Padahal Jumat (23/03), kesepakatan suara bulat anggota Dewan Keamanan PBB diperlukan untuk menerapkan resolusi Iran tersebut.

Komplek reaktor atom Iran di Natan

Komplek reaktor atom Iran di Natan

Rencana yang diutarakan duta besar Prancis di PBB, Jean-Marc de la Sablière, mengenai resolusi Iran sangat jelas: "Harapan saya adalah kami dapat memutuskan resolusi Iran di akhir pekan ini.“

Tapi harapan tersebut sementara ini belum dapat terwujud. Dalam perundingan resmi pertama mengenai resolusi baru Iran, usulan kelima negara pemilik hak veto mendapat perlawanan dari anggota lainnya di Dewan Keamanan PBB. Afrika Selatan meminta pasal tambahan, yakni menghargai hak Iran menggunakan tenaga atom untuk kepentingan sipil dan mencoret usulan sanksi dari lima negara pemilik hak veto.

Bagi de la Sablière, keinginan Afrika Selatan dan usulan waktu jeda 90 hari merupakan hal yang tidak mungkin direalisasikan. "Usulan perubahan bagi kami sangat tidak mungkin dilakukan karena tidak cocok dengan isi resolusi terakhir.“

Duta besar Afrika Selatan di PBB, Dumisani Kumalo, yang bersama Qatar dan Indonesia mengusulkan perubahan resolusi dan penghapusan sanksi, tidak menganggap dirinya menyerang resolusi Iran. "Tidak, ini bukan hambatan. Usulan-usulan ini merupakan perbaikan.“

Ketua Dewan Keamanan PBB saat ini, Kumalo, menolak tenggat waktu perundingan yang dituntut pemilik hak veto. Rekannya dari Qatar, Nassir al Nasser, yakin, rancangan resolusi yang disusun Rusia, Cina, Prancis, Inggris, Amerika Serikat dan Jerman saat ini memerlukan perubahan. "Tampaknya ada yang kurang, yaitu kredibilitas dan kepercayaan terhadap Iran. Mereka memerlukan jaminan, mereka butuh waktu.“

Penolakan dari anggota tidak tetap Afrika Selatan, Qatar maupun Indonesia itu membuat duta besar Amerika Serikat di PBB, Alejandro Wolff, tidak lagi mengharapkan adanya kesepakatan dengan suara bulat. "Juga jika kesepakatan resolusi dengan suara bulat selalu penting bagi kami. Tapi kami juga harus memperhatikan isinya, itu juga penting.“

Alejandro Wolff memerlukan sembilan suara untuk menggolkan usulan resolusi tersebut, paling lambat hari Jumat (23/03). Tapi bagi Rusia, salah satu negara pemilik hak veto, kesepakatan minimal sembilan negara saja belum cukup. Pemerintah di Moskow siap berunding dengan Afrika Selatan. Duta besar Qatar di PBB al Nasser juga meredam harapan. “Saya menganggap kesepakatan tak mungkin terwujud pekan ini.”

Iklan