Thaksin Mengundurkan Diri | Fokus | DW | 05.04.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Thaksin Mengundurkan Diri

Setelah terjadi gelombang protes besar-besaran dan kelompok oposisi memboikot pemilihan parlemen, akhirnya Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra mengundurkan diri.

Apakah mundurnya Thaksin akan mengakhiri krisis pemerintahan Thailand?

Apakah mundurnya Thaksin akan mengakhiri krisis pemerintahan Thailand?

Dua hari setelah pemilihan parlemen, Perdana Menteri Thailand yang kontroversial Thaksin Shinawatra mengundurkan diri. Lewat televisi dikatakannya, ia hendak membuka jalan bagi dilakukannya rekonsiliasi nasional. Dengan pernyataan itu, Perdana Menteri Thaksin Shinawatra mengambil konsekuensi dari krisis politik yang disertai gelombang demonstrasi besar-besaran. Pernyataan pengunduran diri disampaikan setelah ia mengadakan pertemuan dengan Raja Bhumibol Adulyadej. Selama ini Raja Bhumibol menjaga jarak dari krisis yang melanda Thailand.

Jalannya Pemerintahan Masih Dipertanyakan

Pengunduran diri Thaksin dirayakan kelompok oposisi sebagai sebuah kemenangan besar. Selama berpekan-pekan mereka menuduh Thaksin melakukan korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. "Ini merupakan kemenangan kita.“ Demikian dikatakan pimpinan oposisi Chmalong Srimuang. Meskipun demikian, juga terdapat suara skeptis dari kalangan oposisi. Misalnya seperti yang disampaikan Korn Chatikavanij, Wakil Sekjen Partai Demokrasi Thailand:

"Pengunduran dirinya hari ini, bukan merupakan kejutan. Masih terdapat sebuah masalah teknis berkaitan dengan keputusan pengunduran dirinya. Bila parlemen bersidang, tidak pasti, apakah akan terdapat cukup anggotanya yang terpilih, agar parlemen dapat menjalankan tugasnya.“

Sejumlah Kursi Parlemen Kosong

Latar belakang masalah ini di parlemen adalah, Thaksin menyelenggarakan pemilihan umum yang dipercepat, sehubungan berlanjutnya aksi protes. Dan dalam pemilihan umum yang dimajukan hari Minggu (2/4) lalu, jutaan pemilih mengikuti seruan boikot dari pihak oposisi. Selain itu, tahun lalu 19 juta pemilih membuat Thaksin meraih kemenangan besar, sekarang hanya 16 juta yang pergi ke tempat pemungutan suara. Sejumlah mandat di parlemen tidak terisi, karena di beberapa wilayah pamilihan, terutama di basis kelompok oposisi, kandidat dari partai pemerintah tidak berhasil meraih suara yang diperlukan.

Oposisi Hanya Inginkan Thaksin Mundur

Dalam usaha terakhir untuk mempertahankan kekuasaannya, hari Senin (3/4) lalu, Thaksin menawarkan kepada para penentangnya membentuk sebuah komisi independen untuk mencari jalan keluar dari krisis yang dihadapi. Pihak oposisi menolak usulan itu, dan tetap menuntut agar Thaksin yang berusia 56 tahun mengundurkan diri.

Pemicu Mundurnya Thaksin

Aksi protes terhadap Thaksin dimulai sejak akhir Januari lalu, setelah keluarganya menjual saham dari perusahaan telekom 'ShinCorp' yang didirikannya kepada perusahaan Singapura senilai 1,9 miliar Dollar, tanpa dikenakan pajak. Penentang Thaksin mengecam keluarganya memanfaatkan sebuah undang-undang, yang meloloskannya untuk tidak membayar pajak penjualan. Disamping itu juga menyulut kemarahan, karena keluarganya menjual perusahaan tersebut ke negara lain.

Yang Dulu Masih Dihormati

Perdana Menteri Thaksin Shinawatra yang mengundurkan diri, mendirikan perusahaan 'ShinCorp' menjelang ia terjun ke dunia politik. Ibarat dongeng, usaha bisnis Thaksin melejit dengan pesat. Dan ia sering disamakan dengan Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi. Dengan perusahaan telekomunikasi yang didirikannya, Thaksin yang berasal dari kalangan miskin menjadi salah seorang yang terkaya di Thailand. Sebelum citranya terpuruk dengan drastis di bulan belakangan, rakyat Thailand menghormati Thaksin seperti seorang Raja. Sekarang, malapetaka politik yang menimpa dirinya terjadi, karena ia mencampurkan kepentingan bisnis pribadi dengan jabatan pemerintahan.