Tes Nuklir Korea Utara | dunia | DW | 07.02.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Tes Nuklir Korea Utara

Uji coba nuklir 9 Oktober tahun lalu merupakan puncak konflik atom Korea Utara yang sudah membara bertahun-tahun.

Instalasi nuklir di Yongbyon

Instalasi nuklir di Yongbyon

Korea Utara melakukan uji coba bahan ledak nuklir sekitar 300 kilometer di utara ibu kota Korea Selatan, Seoul, tanpa mengindahkan peringatan dan protes internasional. Bahan ledak nuklir tersebut diduga berbobot 1.000 Ton dengan daya ledak sekitar sepersepuluh bom atom Hiroshima. Kekuatan ledakan memang sulit diperkirakan karena tergantung sifat lingkungan uji coba. Tes nuklir Korea Utara dilakukan di bawah tanah sehingga sebagian energi ledakan terserap oleh tanah.

Setelah tes nuklir Korea Utara muncul sejumlah spekulasi. Mungkin Korea Utara berniat menghasilkan ledakan lebih besar, namun uji coba ini gagal. Kemungkinan lain adalah Korea Utara sengaja melakukan tes berskala kecil untuk menghemat material radioaktif.

Sebenarnya pelaksanaan uji coba nuklir Korea Utara tidak mengejutkan. Februari 2005 pemerintahan komunis Korea Utara menyatakan negaranya memiliki senjata atom untuk pertahanan negara. Rezim di Pyongyang berargumen bahwa Amerika Serikat mengancam Korea Utara. Bukankah Presiden AS George W. Bush dalam pidatonya pada bulan Januari 2002 mengatakan, Korea Utara adalah bagian dari poros kejahatan bersama Iran dan Irak?

Sejumlah pengamat berpendapat, pidato Bush itu memberi alasan kepada Korea Utara untuk meningkatkan program atomnya. Kekuatan persenjtaan nuklir Korea Utara sering jadi bahan spekulasi. Pasalnya, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) yang bermarkas di Wina, sejak 2003 tidak lagi memiliki akses ke instalasi nuklir rahasia di Yongbyon. Para pakar memperkirakan, Korea Utara hanya memilki sejumlah kecil bahan radioaktif yang cukup untuk merakit tak lebih dari selusin bom atom dengan daya ledak kecil atau menengah.

Bom tersebut tak dapat digunakan dalam perang karena tidak dapat dipasang sebagai hulu ledak pada rudal. Dan andai perang meletus, bom tersebut harus diangkut dengan kapal atau pesawat terbang karena besarnya.

Yang jauh lebih berbahaya adalah ancaman penyebaran lebih luas senjata nuklir. Bila bayarannya cukup menggiurkan, Korea Utara yang miskin mungkin saja menjual material radioaktif atau melakukan alih teknologi kepada Iran, atau bahkan kelompok teroris. Karena itulah Perserikatan Bangsa-Bangsa bereaksi sangat keras terhadap uji coba nuklir Korea Utara dengan meluncurkan Resolusi PBB 1718, yang antara lain mendesak Korea Utara kembali ke meja perundingan dan memberlakukan sanksi ekonomi terhadap negara komunis itu.(zer)

Iklan